Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

29 Mei 2016

Beda selera

Semalem, gue baru aja putar ulang film Decendants of The Sun, drama Korea yang lg ngehits di tahun ini. Padahal, gue baru saja kelarin itu film 2 hari yang lalu dan merasa belum puas dengan drama itu, mungkin karena ending yang memang menggantung, tapi jujur aja... gue suka.

Gue sempet tanya ke sohib tentang pendapat dia. Menurutnya, drama itu biasa aja. Ngga begitu mengena dan... ya gitu aja. Partner kerja gue yang penggila drama juga bilang begitu. Herannya gue, kenapa mesti gue putar ulang.

Beberapa list drama yang ada di laptop, biasanya ada beberapa yang gue putar ulang dengan alasan, kangen atau memang film nya bagus. Tapi ada juga film yang cuma gue tonton satu kali dan bahkan ada yang ngga gue tamatkan karena tidak sebagus janji-janji manis trailler nya.

Herannya lagi, gue sudah memutar ulang drama ini selang dua hari setelah tamatnya. Sekilas, gue jadi ingat akan drama Korea berjudul The King 2 Hearts yang menjadi film drama pertama kesukaan gue dan film itu juga yang sudah bosan gue putar ulang kesekian kali. Bukan karena pemainnya yang keren, tapi filosofi ceritanya yang mengena.

Temanya sama, Menjaga perdamaian dunia, dengan cara dan posisi yang berbeda. Dan, gue suka! Entah apa yang buat gue suka setengah mati dengan kedua film itu dan setelah suka film nya, gue jadi suka sama pemeran filmnya.

Lee Joong Ki, Song Hye Kyo...
Lee Seung Ki, Ha Ji Won..

Haha.. pemeran utama prianya namanya hampir mirip. Entah apa pendapat kalian tentang kedua film yang sebagian besar mempertontonkan aksi kemiliteran dan usaha diplomasi politik yang notabene mungkin memang terjadi di kehidupan nyata kita. Walau memang sama mereka di dramatisir. Wajarlah, judulnya kan drama.

Tapi, drama yang agak realistik itu menurut gue lebih menyenangkan dan menyegarkan. Setidaknya, dibalik setiap masalah pasti ada pria bling-bling yang siap mencuci mata. #ehhh #salahfokus

Daripada hidup kebanyakan drama, ngga salahnya kita lebih sadar dunia nyata bawa ngga selamanya hidup cuma drama yang melulu nangis dan jatuh cinta. Pasti ada waktunya untuk berjuang, untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk sesama, untuk masyarakat, bahkan seluruh dunia...

I love you., na na na na na na...
Only you,. Nana na nana... (gue ngga tau lirik soundrack nya, tapi itu enak.. serius!)

19 Januari 2016

Ditolak!!

"Dengan ini, kami beritahukan bahwa naskah yang saudara kirim belum dapat kami terima. Terima kasih atas partisipasinya dalam mengirimkan naskah. Teruslah berkarya, kami tunggu karya selanjutnya..."

*Hujan badai turun.... *Petir menggelegar...
Jegarrr.. Jegerrrrr...
ditolak.png (300×190)

29 Desember 2015

Cinta adalah Racun

Mencintaimu adalah racun. Membencimu adalah obat penawar atas segala rasa sakitku.
Post!

22 Desember 2015

Mother...

Disclaimer
Dalam rangka menyambut hari Ibu yang berjarak tidak jauh dengan hari ulang tahun nyokap gue, akhirnya gue memilih memposting cerpen lama yang sempat gue pendam beberapa tahun. Satu kalimat yang sederhana, "Sudah makan belum?", gue pastikan akan kalian rindukan kelak.
Happy Reading...

2 Desember 2015

Tulis Tulis...

@disneywords: The only way to fix a friendship is to try. –Pooh

...

Maunya sih, ini maunya ya... maunya sih gue baikan sama beberapa orang ini. Orang-orang yang pernah jadi bagian dari dalam hidup gue dan mereka beranjak begitu saja sementara gue agak belom rela gitu. Sampai waktu akhirnya membuat gue bosan dengan menunggu.

Satu.
Soulmate gue.
Bukan berarti lawan jenis ya. Jadi dulu itu gue deket banget sama seorang sahabat yang pernah tergabung dalam 3eLs. Salah satu dari mereka itu beranjak meninggalkan gue saat baru menjajaki dunia sosial yang lebih luas. Awalnya gue mau membantu dia karena dulu, gue lebih bawel ketimbang dia. Tapi, doi menolak beberapa kali bantuan dan gue berpikir untuk membiarkan doi untuk mengembangkan sayapnya disana. Sampai, kebablasan hingga gue lupa apa arti sebuah "soulmate" antara gue dan dia dulu. Mungkin, ngga jarang yang ngga tahu kedekatan gue dulu. Tapi itu dulu. Sekarang? Lo Gue.. ya udah, gitu aja.

Dua.
Seseorang yang dijuluki SUHU.
Doi pinter. Ahli oprek komputer katanya. Tapi indra kepekaannya ketutupan daging kalinya. Kode keras gue ngga pernah nemplok ke kepala dia biar sadar gitu.
Dulu (lagi), gue itu langganan ikut misa ibadat pagi bareng doi. Janjian di tempat yang sudah biasa (sekarang udah berubah aslinya), terus menjalani ritual tersebut berbulan-bulan. Dulu tuh, misa paling pagi ibarat vitamin. Selain dapet berkat Tuhan, gue juga dapet suntikan semangat dari doi. Begitu selesai, kayaknya harus nunggu 6 hari kedepan itu beratnya setengah ampun. Sampai satu kejadian, entah gue yang salah atau sebaliknya, semua berubah 180%. Seakan kita ngga pernah kenal sebelumnya.
Bodohnya, saat gue bikin postingan ini, gue baru saja dilanda rindu akut akan doi. Betewe, itu udah sekitar 5 taon yang lalu loh.. Setia ngga tuh..

Abis.

Nah, gue mau banget baikan sama mereka. Entah pakai berantem, maki-makian satu sama lain dulu kek. Entah pakai acara ketemua lagi, langsung jalan tanpa inget masa lalu lah. Entahlah. Semua sesuatu yang sulit. Sulit dimengerti, sulit dikembalikan.

Satu hal yang gue inget. Manusia dan perasaan memang akan berubah, tapi ngga akan bisa merubah fakta bahwa mereka pernah jadi salah satu puzzle berarti dalam gambaran besar dalam hidup gue. Itu.

17 Oktober 2015

Kisah Pohon Jambu

Dulu, gue punya pohon jambu, jenis jambu putih yang dagingnya agak tebal, tidak terlalu banyak kapas serta manis rasanya. Awalnya, itu pohon kecil seuprit setelah di cangkok dari inangnya. Ditanam di dalam pot besar dan di taruh di depan rumah.

Saat berbuah pertama kali, hebohnya setengah mati. Segala macam usaha dilakukan agar buahnya benar-benar manis dan enak. Saat berbuah kedua dan ketiga kali, buahnya agak busuk. Konon katanya, saat pertama kali berbuah, ada yang makan buah jambu gue pakai bumbu rujak yang pakai terasi. Jadinya busuk deh.

Semakin hari, pohon jambu di dalam pot semakin besar dan akhirnya di pindah untuk di tanam langsung di dalam tanah. Seiring berjalannya waktu, pohon semakin besar dan rimbun. Rumah gue pun semakin adem dengan adanya pohon jambu tersebut. Ditambah lagi, gue suka manjat di pembatas rumah gue yang dekat dengan dahan pohon jambu. Nggak jarang juga, gue manjat itu pohon demi dapetin buah jambu yang besar dan biasanya numbuh di tempat paling tinggi.

Kini, pohon jambu putih kesayangan gue itu hanya tinggal sebagai kenangan belaka. Dua tahun belakangan, gue sudah tidak lagi menikmati nikmat manisnya buah jambu serta adem rimbunnya pohon jambu saat gue duduk di bawah rindang dedaunannya.

Begitu juga dengan seluruh kenangan gue akan tempat dimana pohon jambu itu tumbuh. Segala kenangan sejak masih nggak ngerti apa-apa hingga bisa menghasilkan pundi-pundi. Dari yang belum ngerti yang namanya cinta-cintaan sampai baper-baperan kayak sekarang.

Orang-orang bilang, sebuah tempat yang kita sayangi bisa jadi tempat perpisahan yang paling menyedihkan dan seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi sebuah kenangan yang suatu hari hanya bisa gue ceritakan sambil tertawa dan menitikan air mata beserta sebuah kata yang selalu mengundang rindu. Yakni.... KANGEN.

12 September 2015

Waktu Berharga

Saat mau tulis postingan ini, gue tiba-tiba teringat akan film dari Negeri Sakura yang bertemakan time travel. Atau, tentang Doraemon yang bisa mengeluarkan mesin waktu dan membawa ke jaman dan waktu yang kita inginkan.

Kalau memang ada beneran, gue kepengen banget buat balik lagi ke beberapa minggu sebelum sidang skripsi tiba. Maksudnya, ke waktu-waktu gue masih sehat walafiat. Tentunya, gue bakalan jaga kesehatan gue sebaik mungkin dan nggak bakalan tumbang seperti tempo hari. Sayangnya, itu nggak bisa.

Andai,.. Cuma seandainya, mungkin gue akan lebih siap lagi dalam menghadapi sidang skripsi. Atawa, nggak ada tuh cerita air mata bercucuran seusai sidang. Or, something else tentang gue yang mungkin lebih fight lagi dalam hal memperjuangkan skripsi gue.

Tapi... jikalau gue berhasil merubah keadaan, apa yang akan terjadi? Mungkin, sidang skripsi kemarin akan gue sepelekan karena sudah tahu cela-celanya. Mungkin juga, gue nggak akan menangisi perjuangan gue di cecar habis-habisan dengan pertanyaan yang sebenarnya mudah namun bikin gue gemetar setengah mampus. Mungkin lagi, gue ngga akan menghargai apa itu perjuangan demi mendapatkan sebuah baju toga dan plakatnya.

Yah, walaupun gue harus terbaring diranjang rumah sakit untuk beberapa waktu, tapi semua memang waktu yang berharga. Gue jadi lebih bisa menghargai waktu-waktu gue sehat dan lebih memikirkan kesehatan diri. Tapi, gue juga tetap bisa menghargai perjuangan yang harus gue lalui demi cita-cita. 

Yah lagi... Ngga ada waktu yang sia-sia kalau dijalani dengan sepenuh hati. Semua waktu berharga, ngga ada yang sia-sia.

Mungkin sulit untuk memutar waktu, tapi lebih sulit lagi jikalau tidak menghargai waktu. So, nikmati waktumu -Cha...

15 Juli 2015

Kotak Hati


“Pak, tolong bantu angkat kotak yang ditengah sana,” pinta Feli pada Pak Budi, pria paruh baya yang bekerja sebagai supir dirumahnya.
Feli menunjuk pada arah tumpukkan kotak berwarna coklat ditengah kamarnya. Kotak-kotak berwarna coklat bertumpukkan satu sama lain secara acak. Ia baru saja selesai mengepak seluruh barang-barang yang akan dibawa menuju kos-an barunya.
“Tinggal ini saja? Masih ada lagi tidak?” tanya Pak Budi memastikan.
Feli terdiam berusaha mengingat-ingat. Kakinya segera melangkah menuju lemari dan menengok sisa-sisa pakaian serta barang-barang yang sengaja ditinggalnya di dalam lemari.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah kotak yang tak asing lagi bagi Feli. Sebuah kotak berbentuk hati yang tergeletak dirak paling atas dan berada pada posisi paling ujung lemari.
Feli masih bisa mengenali warna merah pada sisi luar kotak yang kini telah memudar. Kotak pun diraih. Debu-debu tipis serta sebuah kertas menempel diatasnya. Ditiupnya debu-debu yang menutupi tutup kotak kemudian nampak sebuah tulisan tangan miliknya.
“Kotak hati,” gumam Feli kecil.
Perlahan dibukanya ‘Kotak Hati’ dan ingatannya langsung kembali pada dua tahun sebelumnya.
***
“Siap, bubarkan!!” teriak pemimpin upacara.
Feli menghela nafas lega saat pemimpin upacara menerima perintah terakhir dari komandan upacara untuk dibubarkan. Menghabiskan empat puluh lima menit ditengah lapangan serta dibawah terik sinar matahari sudah cukup membuat keringatnya bercucuran.
Tak lama, para siswa segera berhamburan meninggalkan lapangan. Bersama teman-teman barunya Feli pun ikut pergi.
“Feli!” panggil seseorang terdengar dikejauhan.
Langkahnya terhenti berusaha mencari sumber suara. Halaman sekolah masih tampak ramai. Beberapa siswa masih memilih tinggal disisi halaman sementara sisanya kembali ke kelas dengan menyusuri koridor-koridor gedung.
Matanya langsung tertuju pada sosok pemuda berseragamkan putih dan celana panjang abu-abu. Feli segera dapat mengenali sosoknya kemudian senyum kecil tersimpul dibibir.
“Kak Angga!” seru Feli seraya berlari menghampiri pemuda yang dipanggilnya Angga.
“Bagaimana hari pertamamu?” tanya Angga
“Lumayan, Kak! Kakak sendiri bagaimana?” jawab Feli dengan sikap manja.
Angga tersenyum lembut pada Feli. Terlihat jelas rasa sayang yang dipancarkan lewat kedua matanya pada gadis yang berdiri dihadapannya.
“Baguslah,” ucapnya seraya mengacak-acak rambut Feli. “Ini bukan hari pertamaku, jadi menurutku biasa saja.”
“Ah, kakak ini!” elak Feli. Gadis itu segera menepis jauh-jauh tangan Angga yang berada dikepalanya. “Aku sudah SMA. Sudah besar, jadi kakak jangan bersikap seperti ini, ya, di depan teman-temanku.”
Angga tertegun sesaat kemudian tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. “Oh, ya. Kamu sudah besar,” sahutnya.
“Sudah, ya. Aku mau ke kelas dulu.”
Angga mengangguk seraya menatap sosok Feli menjauh. Secara tidak kasat mata, ia melihat tembok diantara dirinya dan Feli. Hatinya perlahan terasa perih. Perlahan namun pasti, ia pasti akan kehilangan Feli. Gadis yang mulai tumbuh dewasa dan menjauh dari kehidupannya.
***
Buah-buah mangga yang hampir masak seakan memanggil untuk dipetik. Angga pun segera memanjat pohon mangga yang tertanam dihalaman rumahnya kemudian memetik salah satu diantaranya.
“Huaaa... Mama...”
Angga tengah asik memakan buah mangga langsung diatas pohon. Perhatiannya segera teralih pada suara tangisan yang didengarnya. Terasa tak jauh. Angga kecil pun celingak-celinguk mencari sumber suara dan menemukan seorang gadis kecil tengah menangis di depan pintu rumahnya.
Ia tak melihat ada orang yang membukakan pintu untuk gadis tadi. Tanpa basa-basi lagi, Angga melompat dari pohon kemudian menghampirinya.
“Kamu kenapa?” tanya Angga heran.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata penuh air mata kemudian melanjutkan tangisannya kembali. Angga pun bingung. Ia mengintip ke dalam rumah  lewat jendela dan tak menemukan siapapun di dalamnya. Hanya perabotan rumah dan sebuah lampu yang menyala di tengah ruangan.
“Kemana Mama-mu?” tanya Angga lagi.
Tangisan gadis tadi terdengar makin keras. “Mamaaaaa...”
Angga bingung. Ia ingin menolong gadis tadi namun tidak tahu harus melakukan apa. Dilihatnya mangga yang digenggamnya sedari tadi. Dengan polosnya, Angga menyodorkan mangga ditangannya pada gadis tadi.
“Ini buat kamu,” ujar Angga.
Tangisan anak tadi sekejap terhenti. Diraihnya mangga dari Angga, “Terima kasih.”
Angga pun terduduk disebelah anak tadi. “Aku Angga, kamu siapa?”
“Aku Feli.” jawab gadis itu disela-sela tangisnya. “Mamaku pergi, aku ditinggal sendirian.”
“Pergi kemana?” tanya Angga lagi.
“Aku tadi main di depan. Mama sudah melarang tapi aku tetap ingin main. Aku ingin mengambil mangga itu...” ujar Feli kecil seraya menunjuk pohon mangga milik Angga.
“Oh, kamu mau mangga ini. Mau ku ambilkan?”
Dengan penuh bersemangat, Angga segera berdiri bermaksud mengambil mangga.
“Jangan pergi...” pinta Feli.
Feli meraih celana pendek Angga dan menghentikan langkahnya.
Angga menatap mata sedih Feli dengan iba. Ia pun memutuskan untuk kembali duduk di sebelah Feli.
“Ya, aku tidak akan pergi. Kamu tenang saja, ya...”
***
“Kak Angga!!” teriak Feli dari kejauhan.
Suara Feli menggema diantara tembok-tembok koridor gedung sekolah. Diikuti pandangan heran para siswa yang tengah berdiri disisi koridor sembari mengobrol atau sekedar kumpul. Gadis itu berlari menghampiri Angga yang langsung menoleh padanya. Ia memandang Angga penuh rasa sayang layaknya seorang adik.
“Ada apa?” tanya Angga. “Bukannya kamu bilang untuk tidak dekat-dekat denganmu selama di sekolah?”
Feli pun langsung cemberut. “Kok begitu sih? Aku kan mau cerita.”
Tawa renyah Angga segera menyambar sesaat kemudian. Ia tahu kakaknya tidak mungkin marah padanya karena hal kecil. Senyumnya pun kembali terkembang.
“Aku punya berita bagus!” ucap Feli bersemangat. Hatinya berdebar begitu kencang seperti orang yang akan menyatakan cinta. “Aku jadian sama Robi. Hebat, kan!”
Senyum Angga sekejap menghilang. “Kenapa Robi? Tidak, kamu tidak boleh jadian dengan Robi!”
Darr!
Seperti mendengar suara petir ditengah siang bolong, hati Feli sekejap sakit. Ia tak menyangka akan menerima balasan yang tidak diinginkan keluar dari mulut Angga, seseorang yang sangat berarti baginya.
“Kenapa, Kak?” tanya Feli lirih.
“Ia tidak baik, Feli. Playboy kelas kakap!”
“Kakak!” bentak Feli kesal. “Berhenti bersikap protektif padaku!”
Suara Feli terdengar seantero koridor hingga siswa lain menatap mereka penuh tanya. Ia tahu Angga sangat menyayangi dan melindunginya seperti adik sendiri, namun kini dirinya telah dewasa. Sudah SMA!
“Feli, ini bukan sekedar protektif...” jelas Angga.
“Sudahlah, Kak!” sergah Feli. “Aku pergi dulu!”
Kata-kata Feli seakan terdengar seperti ucapan perpisahan bagi Angga. Ia menatap punggung Feli yang bergerak menjauh. Pikiran serta tindakkannya tidak cukup cepat untuk menghentikan. Pemuda itu menyadari akan kesalahan ucapannya pada Feli. Gadis itu pasti membencinya. Pasti!
***
“Robi... Kamu kemana, sih?”
Feli mengeluh sepanjang hari saat Robi tak kunjung dapat dihubungi. Sudah seminggu lebih Robi menghilang tanpa kabar. Tak terlihat di sekolah dan sulit dihubungi.
Ia melenggang menyusuri koridor sekolah melewati ruang kelas Robi. Rasa penasaran mendorongnya untuk mengecek ke dalam kelas Robi. Tak ada. Hanya ada sekumpulan siswa dipojok ruangan serta kumpulan para siswi yang bergosip ditengah ruang kelas. Matanya terkaget saat pojok ruangan lainnya.
Robi tengah bercakap mesra bersama dengan seorang siswi yang tak dikenalnya. Tawaan serta candaan yang tercipta seakan menegaskan hubungan keduanya.
“Robi!” panggil Feli menahan kesal.
Robi dan siswi tadi terkejut melihat Feli. Tanpa basa-basi lagi, Feli menghampiri kemudian menampar Robi keras-keras.
“Dasar playboy! Pergi saja kamu ke laut!”
Ia langsung berlari keluar kelas. Hatinya terasa sakit, anehnya bukan rasa sakit karena dikhianati Robi melainkan perasaan kecewa karena pernah menghiraukan perkataan Angga.
“Feli!” teriak Angga terdengar dari kejauhan.
Feli menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. Ia melihat kakak pelindungnya berdiri seraya menatapnya cemas.
“Kak Angga...”
Feli berlari meraih Angga dan memeluknya.
“Kamu kenapa?” tanya Angga cemas.
Feli menggeleng. “Tidak apa... Aku senang melihat kakak.”
***
Feli menyeruput kopi panas miliknya secara perlahan. Ia menatap Angga yang baru masuk ke dalam cafe dan berjalan menghampiri meja miliknya.
“Kakak darimana?”
Wajahnya sekejap terkejut saat melihat lebam dibibir serta pelipis Angga.
“Kakak kenapa?” tanya Feli.
“Tak apa. Aku hanya memberi pelajaran pada orang yang membuat adikku menangis. Itukan tugas seorang kakak...” jawab Angga lembut.
“Kakak...” sahut Feli lirih.
Angga menarik kursi diseberang meja Feli kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.
“Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini karena aku melihat kamu bahagia bersama Robi. Namun mengingat kejadian hari ini, aku rasa harus memberitahumu.”
Feli menatap mata Angga yang menatapnya penuh keseriusan.
“Apa, Kak?” tanya Feli penasaran.
“Aku akan pindah ke Bandung meneruskan kuliahku disana.”
***
“Feli,” panggil seseorang membuyarkan lamunannya.
Feli menoleh pada asal suara dan melihat Angga berdiri diambang pintu kamarnya. Setelah dua tahun berlalu, Feli memutuskan menyusul Angga ke Bandung.
“Ah, maaf, Kak.”
“Kamu lagi lihat apa sih?” tanya Angga seraya menghampiri Feli.
Feli mengeluarkan selembar kertas dari dalam kotak dan berisikan foto Angga yang mengenakan baju kelulusannya dari universitas bersama dengan Feli.
“Aku bersyukur memiliki kakak sepertimu, seseorang yang lebih dari seorang kakak.”
“Memangnya apa yang lebih dari seorang kakak?” goda Angga.
“Haha,” tawa Feli. “Bagaimana jika seorang kekasih?” canda Feli.
Angga terdiam. Tak ada balasan dari laki-laki itu.
“Baiklah...” jawab Angga singkat.
Sekejap Feli ingin melonjak kegirangan mendengar jawaban singkat Angga.
“Aku menyayangimu, Feli...” ucap Angga lembut.


30 Juni 2015

Cerita Mini: Bioskop

Mematut diri di depan cermin, mencari baju yang cocok, tersenyum sejak pagi, aku rasa hanya orang yang hampir gila yang bertingkah seperti itu. Sayangnya, aku pikir bahwa dirikulah orang itu. Sejak semalam aku pun hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berkali-kali terbangun dan langsung melirik pada penunjuk waktu. Aku merasa jantungku seperti mendapat sengatan listrik entah dari mana hingga membuatnya berdebar setiap waktu.

Lagi-lagi kulirik jam weker yang ku pasang disamping tempat tidurku. Wah, masih jam delapan pagi, masih ada dua jam sebelum aku bertemu dengan si penyebab keanehan padaku. Dua jam serasa dua tahun, aku menunggu dan si Dia tiba tepat waktu. Suara bel terdengar dan melihat sosoknya dibalik pintu membuat jantungku hampir melompat keluar. Perasaan senang serta salah tingkah bercampur jadi satu. Ah, aku tampak seperti orang bodoh, rutukku dalam hati.

Kami pergi menonton bioskop. Bioskop pertama yang menjadi saksi perjalanan kisah cinta kami. Menonton film, makan di restoran, bermain di pusat permainan hingga tak terasa waktu yang mengingatkanku untuk segera pulang. Langit diluar bangunan sudah berubah kembali menjadi gelap dan si Dia mengantarku pulang dan berpamitan dengan kedua orangtuaku.


Aku tersenyum sambil merasakan debaran jantungku saat membayangkan kenangan kami hari ini.

26 Juni 2015

Pusara Luna...

Disclaimer
Sebelum membaca, disarankan untuk membuka postingan sebelumnya disini. Kumpulan cerpen di tahun 2015 ini dibagikan agar lebih bermanfaat dan lebih banyak yang membaca. Happy reading.

20 Juni 2015

I wanna fall in love...

Disclaimer
Cerpen ini diciptakan dimasa awal-awal jatuh cinta pada kepenulisan cerpen dan novel. Gaya tulis dan diksi yang terbatas,  tidak menjadi penghalang dalam menyampaikan perasaan. Selamat membaca...

7 Juni 2015

Tamu

Disclaimer
Postingan ini masih satu rangkaian dengan cerpen sebelumnya. Dalam mengikuti seleksi kompetisi tempo dulu dan sekarang dibagikan agar banyak pecintanya. Happy reading...

Ting tong... Ting tong...

Suara bel rumah berbunyi di pagi buta saat hari liburku berlangsung. Dalam hati bertanya mengapa tidak ada yang membuka pintu? Aku cuek dan suara bel terus berbunyi. Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu dirumah orang, keluhku. Akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidurdan bergegas menuju pintu rumah. Aku menemukan secarik kertas memo diatas meja makan yang ternyata dari mama. Ia menulis pesan bahwa dirinya sedang pergi ke pasar. Pantas saja tidak ada yang membuka pintu, gumamku dalam hati.

Aku segera menghampiri pintu rumah dan membuka handelnya dengan perasaan malas. Begitu terbuka, tampak seorang laki-laki sedang berdiri memunggungi pintu. Laki-laki itu mengenakan kaos oblong berwarna merah dan kedua tangan diselipkan di saku celananya.

“Maaf, mas. Cari siapa?” tanyaku heran.

Laki-laki tersebut tidak menjawab pertanyaanku dan tidak bergerak sedikitpun. Aku pun semakin penasaran saat menyadari sosoknya seperti tidak asing lagi bagiku.

“Maaf, penagih hutang, ya?” ujarku kemudian. Laki-laki tadi tetap tidak menjawab. Rasa emosi mulai menghinggapiku saat melihat laki-laki tadi yang tidak kunjung menjawab pertanyaanku. “Hey mas, kalau ditanya jawab dong. Saya susah payah bangun supaya bisa bukain pintu buat mas tapi malah diam seperti patung begini!”

Gerutuku rupanya bermanfaat juga. Laki-laki tadi mulai bergerak dari tempat ia berdiri dan membalikkan badannya. Begitu wajahnya menatapku, sesaat aku merasakan degup jantungku berhenti tiba-tiba. Rasa shock dan tidak percaya bercampur jadi satu. Laki-laki itu adalah DIA... DIA... Dia yang selalu datang dimimpiku, bahkan beberapa saat lalu aku masih memimpikannya. 

Tapi sekarang, dia ada dihadapanku, didepan mataku! Astaga!

Tanganku menutup mulutku yang reflek menganga menatap Rendi, kakak kelas yang selama ini hanya bisa aku lihat dari jauh karena banyak penggemarnya. Aku menyukainya karena wajahnya yang manis dan prestasinya yang luar biasa disekolah. Dapat ku lihat, Rendi tersenyum melihat aku yang terbelalak kaget saat melihat dirinya berdiri di depan rumahku.

“Kak Rendi...” seruku pelan, sepelan suara angin.

“Hai Andin, apa kamu sudah sarapan? Aku mau mengajakmu sarapan bersama.” balas kak Rendi kembali tersenyum menatapku.

Oh, astaga! Apa yang terjadi hari ini? apa ini tanggal keramat? Keajaiban apa yang terjadi sehingga Kak Rendi yang terkenal dingin itu mengajakku sarapan pagi. Lagi-lagi mulutku menganga menanggapi ajakan Kak Rendi yang tiba-tiba. Buru-buru aku menyadarkan diri lalu menjawab pertanyaan Kak Rendi dengan tergagap.

“Be... Belum kak... Ki... Kita sarapan bersama?”

Senyum Kak Rendi tiba-tiba pecah menjadi tawa mendengar jawabanku. Seketika wajahku berubah menjadi merah seperti udang rebus. Dimana aku harus menyembunyikan malu ini??? pekikku dalam hati.

“Mari Andin, kita sarapan bersama di depan komplek rumahmu. Tadi aku melihat ada penjual nasi uduk disana.” Ajak Kak Rendi lagi. Ia lalu meraih tanganku mengajakku keluar rumah.

Seluruh tubuhku bergetar dan perutku berguncang hebat disertai rasa sakit kepala yang luar biasa. 

Astaga, ada apa lagi ini? Ini saat yang penting, kenapa harus sakit? Oh, ya. Semalam aku kehujanan dan lupa minum obat. Aku menatap Kak Rendi penuh permintaan. Namun lama kelamaan pandanganku kabur dan bisa kurasakan tubuhku terjatuh ke lantai disertai teriakkan Kak Rendi.


Betapa malunya diriku. Pingsan saat sang pujaan hati mengajak sarapan bersama.