Kisah Fault in Our Stars menceritakan kisah cinta dua anak manusia yang sama-sama pengidap kanker. Sebenarnya ini bukan kali pertama gue menonton film yang sudah pasti 'mematikan' salah satu tokoh utama mereka. Tentunya, setelah terlarut jauh kedalam kisah mereka, penonton dibuat menangis kesudahannya.
Tapi, film ini tidak hanya sekedar romantis, sedih dan... keren! Gue sudah dengar dari beberapa teman kalau film ini bagus, lalu setelah gue tonton pun, pendapat gue sama... BAGOES! Sarat makna dan pesan yang bisa kita ambil dan mungkin di terapkan dalam hidup sehari-hari.
Seusai film ini diputar, otak gue langsung bekerja mencari-cari bagian mana saja yang chic dan chiamik untuk bisa gue tuliskan serta bagikan kepada seluruh pembaca setia blog ini. Akhirnya, gue memutuskan mengkategorikannya menjadi empat bagian tentang film ini.
Pertama, VERY ORDINARY LINE! Kisah ini tentang Hazel Grace yang mengidap Tiroid akut stadium 4, yang sisa hidupnya harus bergantung pada selang oksigen yang menempel di hidungnya. Bertemu dengan Augustus, seorang pria yang berhasil survive dari kanker yang merenggut kakinya. Kisah cinta mereka yang mengalir seperti layaknya remaja sungguhan. Ketemuan, saling tukar nomor handphone, komunikasi, bahkan menciptakan kode-kode rahasia yang hanya diketahui antara yey dan eke. Yeah, it makes sense because I ever do it.
Kedua, ACCEPTANCE. Nilai yang tersirat dari film ini adalah penerimaan satu sama lain. Gue agak setuju akan pendapat Hazel saat awal-awal mereka mulai dekat. Ia tidak ingin terlalu dekat kepada siapapun karena terlalu menyakitkan. Terlalu menyakitkan karena mengetahui akan meninggalkan luka bagi orang yang dicintai. Terlalu menyakitkan karena orang yang ditinggalkan akan merindukan kita disuatu hari nanti, tanpa bisa melihat atau pun menyentuh. Tapi, gue juga setuju dengan Augustus bahwa lebih menyakitkan lagi kalau kita dilupakan. Tidak ada satu orang pun yang tahu keberadaan kita. Kita dilupakan dunia. Akhirnya, mereka memilih menerima keadaan mereka apa adanya lalu membiarkan kisah mereka mengalir seperti apa adanya. Tanpa banyak kata cinta!
“I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you.” Augustus Waters
Ketiga, PERFECT. Gue suka sama Augustus! How the way he smile, how the way he give encourage to Hazel, how the way he think to be positive. I love it! Karena hidup itu sendiri tidaklah sempurna, maka ketidaksempurnaan itu mereka ubah menjadi kebahagiaan buat keduanya. Sempurna! Gue juga suka sama Hazel yang tegar banget dan berpikir... bisakah gue setegar dan sekuat itu? I think....
source |
"What else? She is so beautiful. You don’t get tired of looking at her. You never worry if she is smarter than you: You know she is. She is funny without ever being mean. I love her. I am so lucky to love her, Van Houten. You don’t get to choose if you get hurt in this world, old man, but you do have some say in who hurts you. I like my choices. I hope she likes hers.” Augustus Waters
yes! I believe!! |
Ijinkan gue memakai kata-kata Hazel pada saat pra-pemakaman Augustus,
"Some infinities are bigger than other infinities", "Beberapa tanpa batas ternyata lebih besar daripada tanpa batas".
*nggak suka sad ending* * :'(( *
ALL of pictures get from here
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^