31 Maret 2014

Bye March.. I will miss you for a year...

Yaaaah, kok sedih gitu sih judulnya... *ambil tisu.

Ya! Tepat sekali kawan! Kita sudah tiba di penghujung bulan Maret dan kebetulan hari ini adalah hari libur nasional. Alias tanggal merah! Intinya, liburan laaahh.... Tapi, saat postingan ini terbit, rupanya gue sedang berada di puncak gunung untuk mengadu ilmu dengan mereka-mereka yang disebut pemimpin muda. *upss..

Okeh, back to topik.

Dipostingan kali ini, seperti biasa gue akan mengulas hal-hal yang telah terjadi dan beberapa diposting ke dalam blog ini. Saya mengusung Feel Blessing di bulan ini karena gue merasa kalau bulan ini harus disyukuri dengan sepenuh hati. Apalagi karena si penulis blog inih berulang tahun. Keceh gak tuuuh.. *tertawa puas.

Ada beberapa postingan yang di dapat hikmatnya dari hal-hal kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Dan bulan ini, bisa gue angkat ke dalam tulisan. Biasanya, hanya nyantol di otak lalu ilang lagi keesokan harinya.

Lalu ada juga beberapa liputan hasil jalan-jalan ke tempat-tempat wisata. Lelah? Pasti! Tapi bersyukur aja karena masih bisa menikmati waktu dan masa muda dengan penuh semangat.

Nah, re-view bulan Maretnya hampir selesai nih. *berlinangan air mata.

25 Maret 2014

duA tiGa

Halo!
Rasanya tidak menyangka bisa mencapai hari ini lalu mencapai umur yang dibilang kepala dua. Tepat tiga tahun sudah berlalu sejak memiliki julukan 'kepala dua'.

Postingan kali ini tidak akan membahas apa-apa, apalagi soal ulang tahun. Karena postingan ini disiapkan hanya untuk mengucapkan terima kasih atas seluruh pelaku hidup yang pernah mampir, singgah bahkan berlalu dalam hidup gue. Bahkan, yang masih tinggal dalam hidup gue pun masih ada.

Big Thanks for...

GOD!
picture from google.com
I can't get this moment without His blessing!


MY MOM!

You are the strongest one, mom!

MY YOUNGER SISTER AND BROTHER!


I don't want to be separated from them!


MY BIG FAMILY!

21 Maret 2014

Fatahillah Fiesta, on KOTU

"Yah, too.. Gue lupa! Besok gue udah ada janji duluan sama temen gue!"

Grrr... Emoticon dengan kepala bertanduk pun segera gue luncurkan lewat pesan singkat BBM.

"Jiaaahhh.. Kan lo sudah buat janji duluan sama gue! Bodo! Pokoknya gue ngambek!"

Cetarr!

Rencana yang sudah gue siapkan sejak sebulan yang lalu akhirnya harus batal hanya dengan sebuah kata mematikan. LUPA! Memang, kalau orang lupa pasti tidak ingat. Kalau tidak ingat....
Awalnya, gue berencana pergi bersama Listi ke Jakarta Selatan untuk ikutan #nulisbukuclub dan mampir ke Kota Tua untuk menyaksikan festival kuliner. Sayang, semua BATAL, TAL, TAL.. *suara menggema.

Okeh, acara #nulisbukuclub-nya memang tidak jadi di kunjungi tapi masih ada Festival Kuliner nih. Akhirnya gue tetap memaksakan untuk pergi ke Fattahilah Festival walau harus ketinggalan kereta, nunggu kereta dan waktu yang mepet pet pet. *bunyi klakson bajaj.

Begitu tiba di KOTU, semangat gue langsung full 100%. Sebenarnya, hari itu gue sedang dilanda penyakit 'ngantuk' KW super, jadi saat gue bilang semangat gue full 100%, mata gue baru benar-benar melek!

Tujuan utama ke tempat ini adalah jalan-jalan. Apalagi ada festival kulinernya, sudah pasti ujungnya... Jajan! Waah.. Buang duit dong. Eits, sebelum tiba ditempat itu, gue sudah menyiapkan jumlah uang yang menjadi batasan gue saat berbelanja.

Jreeeng.. 40 ribu sajah.

Cukup murah, kan? Coba kita lihat bisa dapat apa saja dari 40 ribu tersebut?

Go on..

Matahari sore sudah hampir tiba di peraduannya tapi semangat gue ternyata masih diatas awan, alias masih membara! Tenda-tenda putih serta beberapa areal Museum Fattahilah sudah berdiri kokoh dari hari kamis sebelumnya. Sayangnya, begitu gue tiba ternyata festivalnya belum mulai. Belum ada yang jualan sama sekali......

DOEEENG...

20 Maret 2014

Tidak Telalu Manis

"Mbak, tahu-nya seporsi berapa?" ujar gue saat melihat pedagang baru di kantin Buddhi.
ini gambar cuma minjeeem dari sini

"Lima ribu, ci."

"Oh, boleh deh satu."

Mbak penjaga kios Tahu Kriuk langsung memasukkan 14 potong tahu ke dalam kotak 'tupperware' kemudian bertanya, "Mau rasa apa, ci?"

"Hmm.. Adanya?"

Si Mbak tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan sekeranjang botol berisikan beberapa penyedap rasa, dari berbagai rasa.

"Kalau yang pedas ada?" tanya gue lagi.

"Ada. Balado sama Extra Hot," jawab Mbak penjual.

"Kalau di campur boleh?" *nanya mulu, nggak mau rugi.

"Boleh."

Dengan cekatan, Mbak penjual segera menuangkan bumbu Balado dan Extra Hot. Setelahnya, tahu pesanan gue dimasukkan ke dalam kotak sterofoam dan diberi tusuk sate. Sambil berjalan menuju ruang kelas, gue masukan tusukan tahu pertama ke dalam mulut dan rasanya... pas!

Perpaduan bumbu Balado yang agak manis dicampur rasa pedas dari bumbu Extra Hot seakan menyatu dan menciptakan rasa yang tidak terlalu manis, juga tidak terlalu pedas. Pas!

14 Maret 2014

Berdamai dengan DIRI SENDIRI

Pada mata kuliah Leadership hari Kamis yang lalu, ada topik yang menarik dan di jelaskan oleh Dosen.  Beliau menyebutkan, bahwa salah satu karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang Leader adalah SELF-CONFIDENCE.

"Apakah PERCAYA DIRI itu bisa tumbuh sendiri?"

Menurut gue, percaya diri tumbuh dari diri sendiri. Lalu, Beliau berkata kalau mau dapat 'SELF-CONFIDENCE' yang oke, kita harus memegang prinsip 'BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI'.

"Ya iyalah... Bagaimana mau berdamai dengan orang lain kalau damai dengan diri sendiri aja susah?!"
he said.

Lalu bagaimana cara Berdamai dengan Diri Sendiri itu? Beliau memberikan 2 topik yang menarik dan berhubungan dengan SELF-CONFIDENCE ini. Kebetulan juga, topik-topik tersebut berhubungan dengan Feel Blessing yang diusung Blog ini di bulan Maret ini.

Yang PERTAMA adalah....

Stop asking WHY, start ask for STREGTH


source
Kenapa? Kenapa? Mengapa? Mengapa?

"Kenapa gue nggak masuk ke Univ yang terkenal?"
"Kenapa gue nggak se-cantik artis A, B, C?"
"Kenapa gue nggak se-tajir menteri D, E, F?"
"Kenapa gue harus kerja?"
"Kenapa? Kenapa? Kenapa?!"

Semua berawal dengan pertanyaan kita yang tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Sama seperti saat pacaran.

"Kenapa gue bisa suka sama dia?"
"Kenapa gue bisa jadian sama dia?"
"Kenapa gue bisa punya pacar kayak dia?"
Dan seribu 'kenapa' lainnya yang muncul seiring berjalannya waktu.

STOP guys!
source
Dalam penjelasan Beliau, seseorang berpikir bahwa yang mereka butuhkan adalah Jawaban atas pertanyaan 'Kenapa' tadi. Padalah, seharusnya yang diminta bukan jawaban tapi jalan dan kekuatan. Seperti kata pepatah lama, "Dimana ada kemauan, disitu ada jalan."

13 Maret 2014

Liebster Blog Awards

Awalnya, gue menemukan postingan 'Liebster Blog Awards' dari sini. Lalu setelah di telusuri, ternyata banyak versi dari Liebster Blog Awards ini. Namun, ada 1 hal yang bisa disimpulkan dari kegiatan ini.
Menjawab, Memberikan 11 fakta unik secara acak (tentang diri sendiri), kemudian menominasi blog-blog lain disertai pertanyaan yang harus mereka jawab di blog mereka nanti.

Kegiatan ini sifatnya berantai, jadi setiap orang harus menjawab dan bertanya lalu memberikan. Untuk lebih jelasnya, silahkan klik link ini.

Tema untuk Liebster Blog Awards yang gue buat adalah The Strongest. Gue akan memberikan pertanyaan-pertanyaan setelah ini niih...

11 Random Facts about Luiza:

1. Pendiam. Orang-orang yang baru kenal sama gue, apalagi orang baru, inilah kata pertama yang mereka sebutkan tentang gue.
2. Galak. Orang yang baru pertama kali kenal pasti tidak tahu kenyataan yang paling 'Random' dari gue ini. Tapi setelahnya... mereka terbiasa kok.. :')
3. Sebenarnya penyabar. Karena gue terbiasa menunggu, jadi gue anggap kalau itu termasuk penyabar.
4. Bad temper. It's fact...
5. Pemalu. Awalnya, kesananya... nggak tahu malu! *ups...
6. Penyayang. Dari kucing sampai adik-adi sekolah minggu. Bener deh ini! Serius...
7. Penggila drama Korea. Ini fakta terbaru, kok. Baru berjalan 2 tahun belakangan ini, sebelumnya... entahlah.
8. Pecinta buku. Gue sampai harus cemberut berhari-hari gara-gara buku gue ke rendam banjir. :(
9. Setia. Setiap tikungan ada, bukaaan.. gue memang orang yang setia kok. Suerrrr...
10. Sebenarnya, gue ingin memimpin sebuah proyek kegiatan apapun itu. Tapi, setelah mengalami di proyek pertama kemarin, untuk beberapa waktu ke depan, gue sedang kapok tingkat DEWA untuk memimpin kembali. Nanti... mungkin!
11. Punya 3 cerpen yang sudah di terbitkan. 1 di penerbit major, sisanya masih indie. It's better than nothing, right!


Nah, karena Liebster Blog Awards ini gue buat secara sepihak, jadi gue tidak memasukkan jawaban atas pertanyaan dari blog lain. Tapi tenang, gue akan menjawab pertanyaan dari blog lain setelah gue me-nominasi blog-blog dibawah nanti. Jadi, untuk sesi 'JAWAB', di skip!

Ini dia yang ditunggu-tunggu!

5 Nominasi Blog versi gue:

1. Dwitasari
2. Roy Adiputra
3. Listiati
4. Grace E. Tauladan
5. Meily Pujianti
Ada tambahan niih!
6. Nikmal

Okeh, para nominator... Sekarang waktu kalian menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini... Here we go!


1. Suka nge-blog? Kenapa?
2. Dalam seminggu, bisa berapa kali menulis di blog dan posting?
3. Punya blog favorit? Ceritain dong...
4. Apakah kamu pecinta buku?
5. Buku apa dan kenapa?
6. Buku apa yang paling disukai sampai-sampai hafal jalan ceritanya?
7. Selain bukunya, siapa penulis yang paling disukai?
8. Film apa yang disukai dan menginspirasi?
9. Siapa aktris dan aktor dalam dan luar negeri yang disukai?
10. Kenapa?
11. Terakhir, sepotong paragraf untuk pemberi nominasi ini. :')


Pertanyaan-pertanyaan di atas silahkan dijawab di blog kalian. Silahkan juga untuk membuat Liebster Blog Awards versi kalian sendiri. Gue akan menjawab pertanyaan yang kalian buat di postingan gue berikutnya, tentunya kalau kalian menginginkannya... :D

Jangan lupa untuk me-link pada blog yang me-nominasi kalian dan men-twitt atau mention ke @LuizaCha apabila sudah di jawab dan diposting Awards-nya ya... Tentunya blog gue ini!

That's all! 
Akhirnya, kesampaian juga buat Award ini. Semoga kita semua semakin terpacu dalam menulis, berkarya dan membuat tulisan yang layak dibaca.

Salam tulisan!
:D


12 Maret 2014

Let your heart loving it...

Terkadang,

Secara tidak sadar, kita selalu berharap untuk meminta balasan. Walau dalam bibir berbicara 'Ikhlas', kenyataannya tidak pernah mau sejalan dengan pikiran. Perasaan tidak pernah mau di kompromi dengan pikiran.

Saat bekerja di kantor misalnya,

Awalnya mungkin kita akan mengatakan, "Jalanin aja dulu..."
Kenyataannya akan berubah saat akhir bulan dan melihat saldo rekening tidak sesuai dengan harapan.
Lalu, kata-kata di awal tadi akan berubah menjadi, "Cape-cape, cuma segini..."

Saat berorganisasi misalnya lagi,

Awalnya mungkin kita akan berkata, "Gue mau aktif aja, melayani dengan ikhlas..."
Seiring berjalannya waktu, kemampuan yang ikut meningkat serta eksistensi yang mengikuti, secara tidak sadar kita menginginkan lebih dari sekedar melayani.
Lalu, kata-kata diawal tadi akan berubah menjadi, "Kok cuma dia yang dipilih, bla bla bla..."

Sampai-sampai ke saat perasaan berpengaruh begitu kuat,

5 Maret 2014

Malioboro, I'm walk in..

Halo!

Hari terakhir di Jogja nih. Entah mengapa, waktu terasa begitu cepat saat diri sedang memanjakan diri dengan jalan-jalan ataupun refreshing, entahlah. *ms.entah*

Pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi kami sudah harus siap-siap lagi berangkat menuju Stasiun Tugu Jogjakarta. Bukaan, bukan jadwalnya gue pulang hari itu. Ceritanya, kami mengantar Kak Rosa yang harus pulang duluan karena ada ujian sorenya.

Jadi, kami menyetop taksi kemudian mengantar Kak Rosa hingga ke Stasiun, lalu ... Foya-foya bak orang yang tidak sayang uang. Ya, belanja di Malioboro!

Sasaran pertama kami adalah sarapan. Makanan yang wajib dicoba selama di Jogja adalah.. Nasi gudeg! Sayur nangka nan manis dan I try to love it!
Selesai.
Perburuan berikutnya adalah.. oleh-oleh!

4 Maret 2014

(Jog)JAKARTA

Beda Jakarta, beda (Jog)JAKARTA!

'JOG'.

Tiga huruf depan dari kata Jogjakarta ternyata memang berarti banyak, sekaligus pembeda yang cukup kontras atas dua kota ini.
source

Jakarta, merupakan IBUKOTA Negara saat ini, sedangkan Jogjakarta, mantan IBUKOTA Negara dimasa lampau.

Jakarta, kota Megapolitan dengan arus urbanisasi terbesar di Indonesia. (opini pribadi!)
Jogjakarta, kota Metropolitan yang masih berbalutkan kebudayaan yang cukup kental.

Jakarta, dimana orang-orang bisa menyeberang jalan dengan SEMBARANGAN, meski ada zebra cross, jembatan penyebrangan ataupun lampu lalu lintas khusus penyebrang.
Jogjakarta, tempat dimana gue disoraki oleh penduduk saat menyeberang secara sembarangan, menandakan gue benar-benar pendatang, khususnya dari Jakarta.
source

3 Maret 2014

Loneliness


Masih soal perasaan. Pesan iklan dari salah satu provider telepon selular seperti menampar hati Velly keras-keras.

“Om, om. Truk aja gandengan, masa Om nggak?”

Mungkin, kalau dia yang berada di iklan tersebut, bukan hanya bibir saja yang memble, tapi isi hati ikutan memble.

Sama pula saat lagu lawas dari Backstreet Boys yang mengalun melalui earphone ponsel miliknya.

Show me the meaning of being lonely...♪ So many words for the broken heart...♪

Jleb!

Air mata kembali menggenang dipipi. Seminggu lewat setelah Velly memutuskan untuk mengakhiri hubungannya bersama dengan Vanno. Delapan tahun pacaran membuat Velly tidak sanggup melupakan laki-laki yang pernah mengisi masa sedih dan bahagianya.

“Aku juga. Aku ingin sendiri, bebas melakukan segalanya. Kita putus.”

This is the feeling, I need to walk with...


*This is my first #FIKSILAGU. 

1 Maret 2014

M.A.R.C.H ~ Feel Blessing

HUALOOOOOWWW...
:3

iT's MaRcH!

Yeay! Tahun 2014 ini sudah tiba di bulan ke 3 yakni bulan Maret! Ini adalah bulan yang paling gue sayangi tiap tahunnya. Alasannya? Akan gue bahas nanti di bawah.

Sebelum gue bahas lebih lanjut soal bulan Maret, pernak-pernik Maret dan lain-lainnya, gue akan bawa lo ke bulan Februari dulu ya. Saatnya me-review perjalanan menulis gue yang lagi menggebu-gebu di akhir bulan kemarin.

Hampir 10 postingan dibuat loh. Yah, karena hutang tulisan juga sih sebenarnya. Dari misa Imlek hingga liputan perjalanan gue ke Jogja bulan November lalu loh.

26 Februari 2014

Sunset for US

Soreeeeee....

Berangkat dari Prambanan sekitar jam setengah 3 siang, membuat kami memaksa Pak Heru ngebut sebelum matahari benar-benar tenggelam ditelan lautan. *halaaah.. diksinya!*

Matahari masih mentereng saat kami tiba di parkiran Pantai Parangtritis. Parkirannya hanya lahan kosong yang dikelola oleh masyarakat sekitar.

"Lauuuuuuuttt!!"
AAAAkk, posenyaa..
I'm the queen of the SEAA.. *hahaha*


25 Februari 2014

#Day2: Ngayogyakarta ~ ~ ~

Ah, ya! Hari minggu ke dua buat gue di Jogjakarta setelah pernah sebelumnya disana bulan Juni 2013 lalu. Jadwal hari itu adalah Ibadah, Keraton, Pantai.

Negeri Ngayogyakarta, merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang masih memiliki sistem monarki atau kepala daerahnya masih di pimpin oleh Sultan. Jujur, bangga banget masih punya daerah yang menyimpan kebudayaan seperti ini. Ditambah kultur budaya yang masih tradisional banget, jadinya provinsi ini tidak pernah lelah memancarkan pesona pariwisatanya.

Balik lagi ke perjalanan hari ke dua ini. Kali ini akan gue posting menjadi satu artikel panjaaaaaaaaaaaaaaaaanggg.... sekali.

Pukul 7 pagi, gue dan rombongan pergi meninggalkan penginapan untuk mengikuti Misa Pagi di Gereja St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. Sekitar pukul setengah 8, Misa pun dimulai. Awalnya gue  pikir akan bingung dan salah kaprah. Berpikiran kalau-kalau di Gereja ini akan berbeda tata caranya dengan Gereja gue di Tangerang.
berita parokinya berbentuk buku, bayar sukarela.
Tapi, karena Gereja Katolik itu Universal, ketakutan gue pun langsung sirna. Segala tata cara Misa hingga bahasa pengantarnya pun, umum sekali. Bahkan, boleh diakui kalau gue merasa lebih khusyuk berdoa saat di Gereja ini.
interior dalam gereja.
Selain ibadat Misa yang menurut gue, 'WOW', interior dari Gereja ini pun menawan. Dengan beberapa lukisan-lukisan Mukjizat Yesus di dinding atas Gereja, lalu patung St. Antonius di depan Gereja yang jadi sasaran camdid kami berikutnya.
patung St. Antonius-nya kepotong. :(
Oh ya! Gue sempat melihat adanya petunjuk arah mengenai perpustakaan Gereja, sayangnya saat dikunjungi, perpustakaan hanya buka di hari biasa dan... hampir terlupakan keberadaannya. Bukti kuatnya, banyak umat di Gereja yang tidak tahu akan keberadaan perpustakaan tersebut. poor it. :(

kupat sayur
Pagi itu, kami sarapan dengan sepiring kupat sayur khas Jogja. Pada umumnya, rasanya sama dengan ketupat sayur di Tangerang, hanya saja rasa dari kuah ketupat sayur ini sedikit pedas dan gurih. Berbeda dengan ketupat sayur di Tangerang yang rasanya gurihnya balapan dengan rasa gurih dari santan.

Penjelajahan kami dilanjutkan. Destinasi pertama adalah KERATON JOGJAKARTA. checked!

23 Februari 2014

Alun-alune...

Ini masih lanjutan dari perjalanan di hari pertama.

Setelah gagal masuk ke Prambanan, kami memutuskan untuk lanjut ke Alun-alun Selatan Kota Jogjakarta sembari mencari makan malam. Jujur, tidak terbayang sedikitpun bayangan alun-alun yang dimaksud. Dikota gue, alun-alun merupakan sebuah spot yang luas tapi lebih diperuntukkan untuk olahraga. Ada lapangan upacara juga yang besar.
alun-alun kota Tangerang
Nah, alun-alun kota Selatan Kota Jogjakarta juga merupakan sebuah spot yang luas dan... RAME!! Ditambah lagi malam minggu. Isinya... Beragam!

Dari pedagang kaki lima di tengah-tengah alun-alun, di pinggir trotoar alun-alun, mobil sepeda warna-warni, pejalan kaki, pengendara motor dan mobil hingga dua pohon kembar yang terkenal. Pohon itu terkenal karena mitosnya, bagi siapa saja yang bisa melintasi ruang diantara kedua pohon itu, segala permohonannya bisa terwujudkan.

Pokoknya, RAME!
Beberapa petunjuk arah memberitahu bahwa beberapa gang yang bermuara ke alun-alun selatan dapat tersambung ke tempat-tempat wisata khas keraton. 

Gue berjalan mengitari alun-alun bersama Kak Rosa dan Paskalia lalu berhenti di depan seorang ibu penjual sate. Harganya sekitar 5.000 per porsi (isi berapa, ya? Lupa!). Kami membeli 20.000 alias 4 porsi. Ingat, gue nggak sendiri disini.
merah semua fotonya..

22 Februari 2014

#Day 1: ... Borobudur!

picture capture by cymera for android
Mobil meluncur mulus dari Sendangsono melewati lereng-lereng antah berantah yang gue nggak tahu namanya. Menurut Pak Heru, supir mobil sewaan, kami melewati aliran sungai gempol yang konon terkenal karena aliran kawah gunung Merapi melewatinya.

Juga, kami melewati gugusan gunung-gunung yang berjejer rapi seperti membentengi negeri Jogjakarta. Dari gunung Semeru sampai gunung Gede. Sepanjang mata memandang yang terbentang hanyalah hamparan sawah, gugusan gunung, hutan-hutan dan rumah-rumah penduduk yang asri. Tentunya, menyejukkan mata dari hiruk-pikuk kota Tangerang dan Jakarta yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.

Awalnya, gue pikir dari Sendangsono ke Borobudur jaraknya dekat, karena menurut Pak Heru kalau alurnya sejalan. Ternyata, perjalanan menuju Borobudur memakan waktu 1 jam perjalanan. Cukup untuk tidur sebentar, memenuhi kekurangan tidur akibat naik kereta malam.

Yeay!
masuk ke candi nan rame
Akhirnya tiba juga di Borobudur dan langsung narsis foto-foto di depan pintu gerbang Borobudur. Susunan batu-batu tanpa semen yang membentuk candi-candi di sekeliling bangungan Candi Borobudur. Sebelum masuk ke kawasan per-candian, kami diwajibkan memakai kain di pinggang yang telah di sediakan oleh pengelola kawasan.

Kesan pertama begitu tiba di kawasan candi adalah... PANAS!

21 Februari 2014

#Day1 -> Sendangsono to....

Hoamss...
the first sunshine in Jogja, capture using Instagram.
Kereta yang gue dan kawan-kawan tumpangi akhirnya tiba juga di kota gudeg Jogjakarta. Tepat pukul EMPAT PAGI, alias subuh-subuh. Udara dingin di luar gerbong langsung menusuk sampai masuk ke tulang. Matahari juga masih belum berani keluar dari peraduannya, hanya mengintip-intip dengan cahaya benderangnya. *eaaa.. berpuitis ria*

Hari pertama di Jogjakarta! Yeay!
Kami sengaja memilih keberangkatan kereta yang paling malam agar tiba di Jogja paling pagi sekali. Gue pernah terkesima dengan pemandangan pagi di Jogja beberapa bulan sebelumnya, jadi gue pun mengusulkan untuk ambil keberangkatan paling malam.

Karena kami hanya akan berwisata selama 4 hari 3 malam, jadinya hari pertama ini akan menjadi hari yang cukup padat, mengingat ada beberapa tempat wisata yang harus dikunjungi dan masuk ke dalam daftar wisata kami.

Sebelum meninggalkan Stasiun Tugu, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto ria di depan Stasiun. *narsis mode on*
cuma ber-4 sisanya jadi juru foto. *hahaha*


Selanjutnya... Petualangan pun dimulai. Kami keluar stasiun sekitar pukul setengah enam pagi, otomatis jalanan sekitaran Malioboro, St. Tugu hingga ke Prawirotaman pun masih sepi.

Tadinya mau coba naik taksi ke penginapan, lalu kami dengan gaya (sok) backpaker-an, kami memilih jalan kaki dan mengandalkan GPS untuk menuju penginapan. Dan, sampai sekitar jam setengah tujuh pagi, kami belum juga tiba di penginapan sementara berdasarkan petunjuk dari GPS, masih sekitar 1 km lagi.

"Kapan nyampenya niiih!"

Ini dia! Satu lagi kesalahan atas persiapan yang serba dadakan. Perkiraan kami, penginapan bisa dijangkau dengan jalan kaki dan... SALAH! Akhirnya, karena salah satu teman kami sudah tidak sanggup jalan kaki lagi, kami pun memutuskan untuk menyetop taksi yang seakan tahu kami butuh.

Oh, ya! Perlu diketahui, saat kondisi masih pagi seperti itu, jalanan sepi dan belum ada satu pun kendaraan umum yang lalu lalang. Jadi, taksi pagi itu seperti OASE buat kami.

Tepat pukul tujuh lewat, kami akhirnya tiba di penginapan dan segera registrasi. Setelah mendapat kamar dan membaginya, kami langsung beres-beres serta mandi karena mobil yang kami sewa akan menjemput kami tepat pukul sembilan. Masih cukup waktu untuk leha-leha dan bernarsis ria dulu di penginapan.

Tujuan pertama kami adalah...

SENDANGSONO!
beringin 100 tahun babtisan SENDANGSONO
Destinasi ini juga termasuk yang dadakan karena baru diputuskannya satu bulan sebelum keberangkatan, beberapa minggu setelah tiket sudah di beli. Dengan niat berwisata rohani, kami memasuki kawasan tempat ziarah yang menanjak.

20 Februari 2014

Demi ke Jogja!

Ingat, kan? Gue pernah cerita kalau persiapan ke Jogjakarta tempo hari itu serba DADAKAN? Dari beli tiket yang DADAKAN sehingga kemalaman dan super capek, sampai pesan kamar yang baru di booking 3 hari sebelum keberangkatan.

Ah, ya. Gue belum cerita untuk bagian itu. Jadi, ceritanya diantara kami ber-6, gue kebagian yang mencari penginapan. Gue berpikir kalau pemesanan kamar lebih baik dekat-dekat hari dari keberangkatan kami, lalu gue baru sadar kalau hari dimana kami berangkat merupakan LONG WEEKEND!
pinjam
Bisa kebayang dong, apa yang terjadi? Of course! Seluruh penginapan yang MUMER dan sudah gue patokin dari jauh-jauh hari, otomatis PENUH! FULL RESERVED! Beruntunglah gue menemukan HOTEL CEPURI yang harganya masih masuk ke dalam budget perjalanan. Lagi, akibat dari ketidak matangan persiapan, ada efek buruk dari hal ini. Akan gue posting di postingan berikutnya.
hotel cepuri
Balik lagi ke perjuangan kami ke Jogjakarta.

Tiket, already!
Penginapan, baru saja di reserved!
Satu lagi,

Jadwal keberangkatan gue ternyata BENTROK dengan jadwal UTS gue!! Mateng!! Setelah bergumul beberapa minggu dan tanya sana-sini pendapat orang-orang, akhirnya gue meminta surat resmi dari PERPUSTAKAAN PUTERA BUDAYA yang kemudian gue ajukan ke kampus.

Lancar? Lancar... suratnya! Dikasih ijin? KAGAK!!
Mateng lagi!! *telur rebusnya sudah mateng!*

19 Februari 2014

Goes to Jogja #Preparation

Berlebihan nggak sih kalau gue memberikan caption "Wonderful Indonesia" atas sebuah kota bernamakan...

Yogyakarta!

Sebuah kota dengan sejuta warna akan budaya, kuliner, serta keramah-tamahan orang-orangnya-lah yang membuat gue penasaran sejuta kali dan ngotot kepengen memijakkan kaki di bumi Ngayogyakarta.

Akhirnya, setelah penantian sekian tahun *eaa*, gue berhasil memijakkan kaki di Negeri para pelajar tersebut. Pertama kali tiba di Yogyakarta yakni bulan Juni 2013 dan murni untuk pelatihan penulis. Kedatangan gue yang kedua kali di provinsi Yogyakarta yakni bulan November 2013 yang lalu, benar-benar murni untuk jalan-jalan! Yeay! *tepok tangan*

Sebagai 'newbie' dalam hal berpetualang di kota orang nan asing, tentunya segala persiapan dilakukan dari jauh-jauh hari dong.. Jadi, gue bersama dengan 5 teman gue lainnya melakukan persiapan dengan membeli tiket yang secara.... DADAKAN!

Okeh, boleh gue akui, kalau persiapan ke Jogja kali ini benar-benar serba dadakan. Tepatnya hari minggu, Ellen dkk, memaksa gue yang tidak tahu apa-apa untuk ikut pergi ke St. Pasar Senen. Oh, ya! Sebagai info, sebelumnya kami telah menabung dari jauh-jauh bulan sebelumnya loh. Jadi kami ke St. Pasar Senen bukan dengan dana dadakan tapi dengan dana yang tersimpan dengan baik.

Balik lagi ke perjalanan beli tiket yang.... DADAKAN! Kenapa gue dari tadi menekankan kata 'DADAKAN' itu? Jadi, kami pergi ke stasiun pasar senen menggunakan kereta dan begitu kami tiba di stasiun tangerang, baru saja tiba dan beli karcis, hanya berselang beberapa detik, kereta melintas begitu saja dan kami ketinggalan kereta. Alhasil, kami harus menunggu lagi selama SATU JAM!

17 Februari 2014

dUA pULUHan

Pernah berada pada masa keemasan atau kejayaan?

Orang tua jaman dulu dan sekarang sering bilang, masa remaja merupakan masa keemasan bagi seluruh manusia yang ada di muka bumi. Tapi benarkah definisi yang mereka utarakan? Ada yang jawab YA, ada pula yang jawab TIDAK. Lalu, pernahkah terpikirkan untuk merasakan masa-masa keemasan tersebut.
source
Secara pribadi, gue selalu mengingatkan diri sendiri bahwa sebenarnya masa keemasan itu bukan dicari atau diraih. Melainkan bagaimana kita melibatkan dan mengikutsertakan diri agar dapat menciptakan masa keemasan itu sendiri.

Pengalaman gue selama berorganisasi atau terlibat dalam suatu angkatan, seakan menjadi kenangan tersendiri buat gue. Jujur, gue alami banyak masa keemasan dalam hidup gue. Khususnya dalam hal berinterkasi dengan sesama.

Misalnya, saat gue masih duduk di bangku *ya iyalah* kalau duduk dimeja, nanti dikeprakin ama ibu/bapak guru -_-" dibangku SMA/SMK, beberapa teman gue ada yang tembus kompetisi tingkat nasional.

Walaupun bukan sebagai tokoh langsung yang menjalani kompetisi tersebut, paling tidak gue sempat mengikuti seleksinya. Tidak menang? Tidak masalah. Karena orang yang mewakili sekolah tersebut hanya berasal dari angkatan gue dan saat itu angkatan gue digelari angkatan emas dengan segudang prestasinya.

Bangga nggak? Jelas bangga!

5 Februari 2014

Pesta Musim Semi ala Umat Paroki HSPMTB (2nd Year)

Sarung tangan, checked!
Masker, checked!
Helm, checked!
Kunci Motor, checked!
Cek BBM dari koko, unchecked! *lho..

Jarum panjang pada jam tangan milik gue sudah menunjukkan pukul 17.23 dan gue masih ada di parkiran kantor, memanaskan mesin motor. Niatnya mau ikut misa di gereja, lalu karena mulai misa-nya jam 5, jadi niatnya terpaksa dibatalkan.

Tak lama, gue tarik gas motor kemudian melaju dengan kecepatan rata-rata menuju gereja. Memangnya ada apa sih di gereja sampai bela-belain datang walaupun sudah telat? Nah, sebelum gue menjawab, masih ingatkah akan Pesta Musim Semi ala gereja gue di tahun kemarin? Kalau belum, baca dulu deh postingannya!

Gue tiba di TKP dan misa sudah setengah jalan. Sambil menunggu teman, gue pun berjalan memojokkan diri ujung kanan gereja, tepatnya dekat tangga aula St. Agustinus. Setengah jam menunggu, akhirnya muncul makhluk berbaju merah, berjaket biru, bernama Lidya.

Kami berdua langsung beranjak menuju aula St. Maria untuk mendengarkan briefing awal dan mendapat tugas "stand by" di tempat. Okeh! Gue rasa ini konsekuensi tidak ikut briefing hari minggu sebelumnya serta datang telat. *poor us*

Begitu misa selesai, para pasukan pembagi angpao dan jeruk yang berbaju merah tampak memenuhi hampir seluruh ruang gereja untuk bagi-bagi angpao dan jeruk. Gue? Duduk manis di stand awal dan mengobrol dengan sohib gue yang satu itu. *huahaha* *evil laugh*

Selesai bagi berkat, angpao dan jeruk, seluruh umat disuguhi lagu-lagu khas Imlek, pertunjukkan barongsai, serta... makan malam bersama! Ya! Bukan cuma makan malam keluarga biasa, tapi makan malam satu gereja! Kesempatan unik ini hanya bisa dijumpai saat acara-acara besar di gereja saja, jika acara-acara biasa, belum tentu ada.
makan malam