7 November 2015

Cup Cup Anakku...

Sekian tahun menjalani profesi jadi seorang guru, terkadang membuat gue tergelitik dengan sendirinya akan tingkah lugu, polos dan konyol dari masing-masing anak. Contohnya, ada anak yang sengaja nangis tiap pagi, sampai bikin gue kalang kabut takut-takut dia kenapa-kenapa atau merasa ada masalah sama gue.
source

Tapi, membiarkan anak-anak murid gue nangis itu terkadang suka nggak tega juga. Lama kelamaan pun, gue jadi tahu trik-trik unik mendiamkan anak-anak yang hobinya menangis.

"Sayang, kamu kenapa?" tanya gue pada Budi (bukan nama asli) yang tiba-tiba menangis ditengah pelajaran.

"Huweeee..... mamiii, mamiii..." sahut Budi.

"Mami? Maminya work dulu ya," balas gue dengan bahasa yang dicampur-campur.

"Hmm.... Mami,... mamiii..." Budi masih menangis.

"Udah dong nangisnya," balas gue lagi.

"Huweeee.... mamiii... mamiiii.."

Lalu tercium bau-bau tidak sedap di sekitar gue. Awalnya gue pikir bau mulut, ternyata... sejumput kotoran menempel di bokong si anak. Hadeuhh...

Ada lagi cerita lainnya,

"Puwangg.. puwangg.." sebut saja Sule (bukan nama asli), yang pagi itu memaksa maminya untuk pulang padalah baru nyampe di depan kelas.

"Kamu kenapa toh, le?" tanya gue bingung.

"Puwang... puwang..." sahut Sule lagi.

"Udah, masuk yuk. Duduk dulu."

Sule pun masuk ke kelas ibarat msuk ke kandang singa. Nangis meraung-raung meminta pulang dengan bibirnya yang cadel. Gue berinisiatif untuk mengambil susu yang dibawanya lalu memberinya minum. Satu menit kemudian, Sule terlihat asik dengan susu dan lupa akan tangisannya barusan.

Gue sempat berpikir, dulu pun gue pernah berada di posisi anak-anak di atas. Menurut nyokap tercintah, gue termasuk anak yang nggak bisa dilepas and nggak bisa di kasih ke siapa-siapa. Ketemu orang, nangis. Digendong orang lain, nangis. Dicium orang, nangis. Bahkan dicolek aja, nangis.

Membandingkan diri dengan waktu sekarang, jauh sekali perkembangannya. Bahkan, bisa dibilang gue sudah jarang menangis, paling nangis dalam hati kalau duit di dompet tinggal selembar uang bergambar pattimura. *hueee...

Pun mereka. Gue nggak bisa menebak kelak mereka akan menjadi orang seperti apa. Akankah sukses, ataukah tetap terbawa kelamnya masa kecil mereka atau pun menjadi pembicara nasional yang suaranya mungkin bisa terdengar sampai ke istana negara. Semoga.

Jadi, siapa yang bisa menebak masa depan orang? No one!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini