Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

4 Juni 2016

Terlalu lama sendiri?

Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hatiBahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepiSampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus beginiAku harus berusaha tapi mulai darimana
Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiriSudah terlalu asyik dengan duniaku sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apaKu hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunyaWalau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus beginiAku harus berusaha tapi mulai dari mana
Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiriSudah terlalu asyik dengan duniaku sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Jauh dlubuk hati aku tak ingin sendiri
*Kunto Aji - Terlalu Lama Sendiri
Just to appreciate myself for my loneliness. But, doesn't mean nothings. I'm alone but not lonely...

29 Mei 2016

Beda selera

Semalem, gue baru aja putar ulang film Decendants of The Sun, drama Korea yang lg ngehits di tahun ini. Padahal, gue baru saja kelarin itu film 2 hari yang lalu dan merasa belum puas dengan drama itu, mungkin karena ending yang memang menggantung, tapi jujur aja... gue suka.

Gue sempet tanya ke sohib tentang pendapat dia. Menurutnya, drama itu biasa aja. Ngga begitu mengena dan... ya gitu aja. Partner kerja gue yang penggila drama juga bilang begitu. Herannya gue, kenapa mesti gue putar ulang.

Beberapa list drama yang ada di laptop, biasanya ada beberapa yang gue putar ulang dengan alasan, kangen atau memang film nya bagus. Tapi ada juga film yang cuma gue tonton satu kali dan bahkan ada yang ngga gue tamatkan karena tidak sebagus janji-janji manis trailler nya.

Herannya lagi, gue sudah memutar ulang drama ini selang dua hari setelah tamatnya. Sekilas, gue jadi ingat akan drama Korea berjudul The King 2 Hearts yang menjadi film drama pertama kesukaan gue dan film itu juga yang sudah bosan gue putar ulang kesekian kali. Bukan karena pemainnya yang keren, tapi filosofi ceritanya yang mengena.

Temanya sama, Menjaga perdamaian dunia, dengan cara dan posisi yang berbeda. Dan, gue suka! Entah apa yang buat gue suka setengah mati dengan kedua film itu dan setelah suka film nya, gue jadi suka sama pemeran filmnya.

Lee Joong Ki, Song Hye Kyo...
Lee Seung Ki, Ha Ji Won..

Haha.. pemeran utama prianya namanya hampir mirip. Entah apa pendapat kalian tentang kedua film yang sebagian besar mempertontonkan aksi kemiliteran dan usaha diplomasi politik yang notabene mungkin memang terjadi di kehidupan nyata kita. Walau memang sama mereka di dramatisir. Wajarlah, judulnya kan drama.

Tapi, drama yang agak realistik itu menurut gue lebih menyenangkan dan menyegarkan. Setidaknya, dibalik setiap masalah pasti ada pria bling-bling yang siap mencuci mata. #ehhh #salahfokus

Daripada hidup kebanyakan drama, ngga salahnya kita lebih sadar dunia nyata bawa ngga selamanya hidup cuma drama yang melulu nangis dan jatuh cinta. Pasti ada waktunya untuk berjuang, untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk sesama, untuk masyarakat, bahkan seluruh dunia...

I love you., na na na na na na...
Only you,. Nana na nana... (gue ngga tau lirik soundrack nya, tapi itu enak.. serius!)

27 Mei 2016

F4

Cauntion!
Postingan ini bukan berarti F4 versi Taiwan itu sudah tidak ada ya.. Mereka masih ada namun sudah sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing.

Buat teman-teman yang kelahiran era tahun 90-an, pasti tahu banget sama F4 versi Taiwan yang beranggotakan Jerry Yan, Vanness Wu, Ken Zhu dan Vic Chou. Dulu, sebelum jaman boyband versi Korea ataupun versi dalam negeri yang jingkrak-jingkrak ngga jelas, otak gue sudah terdoktrin bahwasanya sebuah boyband itu ngga harus jago dancing, yang penting tampang kece dan lagu khas yang selalu berhasil bikin gue kangen sama mereka.

Gue masih inget saat F4 itu baru pertama kali keluar dan booming banget, saat itu gue masih imut-imut, duduk di bangku sekolah kelas 5 dan sudah membayangkan mempunyai seorang kekasih setampan Jerry Yan! #ngarep
Anak-anak dijaman gue, memang tersihir akan ketampanan mereka namun kami tidak lantas menjadi alay dengan latah membuat boyband seperti mereka ataupun bergaya seperti mereka. Well, kalo soal bergaya sih sebenarnya sah-sah saja sih, hanya mungkin ngga lebay seperti jaman sekarang.

Saking terkenalnya F4 dulu, bahkan di depan sekolah gue dulu ada yg menjual kartu-kartu permainan yang bergambarkan si artis ganteng. Secara, dulu internet itu barang mahal. Jangankan internet, ketemu komputer seminggu sekali saat pelajaran komputer saja sudah mending. Apalagi harus mencari foto mereka yang guanteng dengan gratis. Dulu bayar! Sekarang, muka Jerry Yan bisa gue donlod sampai kuota habis pun mudah banget!

Ada juga kala info si F4 akan berkunjung ke Indonesia merebak, mungkin seluruh fans F4 mati-matian buat dapat tiket untuk meet and greet. Berhubung orang tua gue ngga punya pohon emas, gue akhirnya hanya bisa menatap mereka dari kotak bernama televisi. Bahkan, gue juga belajar tulis surat pakai bahasa Inggris yang kalau dilihat tata bahasanya itu menyedihkan! Tapi, gue beruntung karena ngga jadi kirim itu surat, secara dulu si Jerry Yan kagak bisa bahasa Inggris. Huahahaha.. Ngomong ama alien gue nanti!

Walaupun sekarang nama mereka sudah meredup dan kilau cahaya mereka sudah menghilang, F4 tetap selalu bisa menjadi obat rindu akan masa-masa lalu yang kini hanya bisa kita kenang. Dimana kenangan akan cinta masa kecil gue yang benar-benar kayak monyet... #ehh
Atau, tentang lagu-lagu mereka yang berhasil membuat gue mencintai dunia bahasa dari segala sisi. Sisi cinta, sisi kenangan dan... sisi rindu. #eaaa #baper deh...

In the last, I would like to say thank you very much for Jerry Yan, Vanness Wu, Vic Chou and Ken Zhu, whose make my world very wonderful that time. I could not imagine, if i could not know them as a part of my love story. They have been inspiring me, from their song and of course their face look. Hahaha.. I have imagined my future boyfriend that time. And I still remember it.

Thank you for all of you, to make my life is more colourful and cherries because of your songs, stories and handsome faces. Hahahhaa..

I miss your performance so much, I love "Ti I Se Cien" song until now, and I keep singing when I listening the "Cing Fe Te Yi"..

Sincerely yours,
From your big Fans but cannot do more...
Cha!

28 April 2016

"Bukannya aku takut akan, kehilangan dirimu. Tapi aku takut kehilangan Cintamu.." Juliet-Bukannya Aku takut

Hari gini masih nge-baperin orang yang bahkan ngga mikirin balik kita... Sedih rasanya, karena bukan kehilangan orangnya, kehilangan cintanya..

9 Maret 2016

Hanya karena matahari dan bulan bisa bertemu sekian tahun dalam satu kali,
Hanya karena matahari dan bulan hanya bisa bertemu hanya dalam beberapa menit,
Bukan berarti butuh waktu yang singkat untuk dapat hanya melihatmu dalam beberapa menit.

Hanya karena seekor ulat memerlukan waktu yang lama untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah,
Hanya karena seekor kupu-kupu hanya perlu waktu beberapa minggu hingga waktunya berakhir,
Bukan berarti waktu untuk melupakanmu hanya cukup dalam beberapa minggu.

~Luiza Cha~ April 9th, 2016

2 Maret 2016

#WishList25

Oalaaaaa.... Sudah bulan Maret lagi aja... Bentar lagi... Bentar lagiii.... Bentar lagi gue akan memasuki usia yang sudah hampir seperempat abad. Siap-siap pertanyaan "Kapan Nikah?" itu muncul!

Mari lupakan sejenak tentang teror "Kapan Nikah?" diatas. Sekarang waktunya gue untuk memberikan list buat kalian yang kepengen ngasih gue kado. *ciee elaah.. *PEDE!!!!* wakakakakakakaak!!

29 Desember 2015

Cinta adalah Racun

Mencintaimu adalah racun. Membencimu adalah obat penawar atas segala rasa sakitku.
Post!

19 November 2015

Mengundang Rindu

Hujan.. Kadang identik dengan butiran rindu yang turun bersamanya.
Aromanya terbawa angin saat menembus tanah gersang tak terurus.
Membalut rindu disela hembusannya.
Menebar luka yang masih menganga.

Malam.. Kadang identik dengan romantika sang bintang.
Sebuah kedipan mata hitam bulay, bak bola pingpong.
Menyuntikan rindu disela-sela tidurnya.
Menyelimuti hati yang terluka.

Rindu.. Kadang identik dengan sebuah kisah perpisahan yang menghantarkan kembang-kembang rindu ke sana. Membuat ia melayang dimabuk rindu.

Mungkin, sebuah kisah masih belum bisa terjadi meskipun hanya sejumput rindu. Namun, walau hanya berpaku pada sang rindu, sosoknya tak akan pernah terganti. Apapun yang terjadi.

Akhirnya, biarlah rindu ini melebur bersama derasnya hujan, pekatnya malam serta serbuan rindu di dalam hati.

28 September 2015

Rindu Hujan

Waktu tahun 2012, gue ada buat banyak postingan tentang si hujan. Saat itu gue sangat mencintai hujan. Bahkan tiap saat hujan, gue pasti buat satu postingan. Hujan itu seperti pemberi inspirasi alami tanpa harus kita gali dengan sendirinya. Bahkan peneliti pun menyatakan bahwa saat hujan turun, ada gelombang-gelombang lain yang ikut turun dan mempengaruhi jiwa dan pikiran manusia. Jadi, jangan heran kalau gara-gara hujan, banyak orang galau nggak jelas.

Ditahun berikutnya, postingan gue tentang hujan sangatlah berbeda 180 derajat selsius. *nah loh*.
Kecintaan gue yang besar pada hujan tampaknya membuat sang hujan ke ge-eran, sehingga di tahun 2013, banyak hujan terjadi namun melebihi dari apa yang gue pikirkan. Hujan banyak, banjir juga banyak. Apalagi saat itu gue statusnya masih kuliah, ditambah tiap sore harus hujan. Saking kesalnya, gue meminta hujan untuk berhenti saat itu juga.

15 Juli 2015

Kotak Hati


“Pak, tolong bantu angkat kotak yang ditengah sana,” pinta Feli pada Pak Budi, pria paruh baya yang bekerja sebagai supir dirumahnya.
Feli menunjuk pada arah tumpukkan kotak berwarna coklat ditengah kamarnya. Kotak-kotak berwarna coklat bertumpukkan satu sama lain secara acak. Ia baru saja selesai mengepak seluruh barang-barang yang akan dibawa menuju kos-an barunya.
“Tinggal ini saja? Masih ada lagi tidak?” tanya Pak Budi memastikan.
Feli terdiam berusaha mengingat-ingat. Kakinya segera melangkah menuju lemari dan menengok sisa-sisa pakaian serta barang-barang yang sengaja ditinggalnya di dalam lemari.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah kotak yang tak asing lagi bagi Feli. Sebuah kotak berbentuk hati yang tergeletak dirak paling atas dan berada pada posisi paling ujung lemari.
Feli masih bisa mengenali warna merah pada sisi luar kotak yang kini telah memudar. Kotak pun diraih. Debu-debu tipis serta sebuah kertas menempel diatasnya. Ditiupnya debu-debu yang menutupi tutup kotak kemudian nampak sebuah tulisan tangan miliknya.
“Kotak hati,” gumam Feli kecil.
Perlahan dibukanya ‘Kotak Hati’ dan ingatannya langsung kembali pada dua tahun sebelumnya.
***
“Siap, bubarkan!!” teriak pemimpin upacara.
Feli menghela nafas lega saat pemimpin upacara menerima perintah terakhir dari komandan upacara untuk dibubarkan. Menghabiskan empat puluh lima menit ditengah lapangan serta dibawah terik sinar matahari sudah cukup membuat keringatnya bercucuran.
Tak lama, para siswa segera berhamburan meninggalkan lapangan. Bersama teman-teman barunya Feli pun ikut pergi.
“Feli!” panggil seseorang terdengar dikejauhan.
Langkahnya terhenti berusaha mencari sumber suara. Halaman sekolah masih tampak ramai. Beberapa siswa masih memilih tinggal disisi halaman sementara sisanya kembali ke kelas dengan menyusuri koridor-koridor gedung.
Matanya langsung tertuju pada sosok pemuda berseragamkan putih dan celana panjang abu-abu. Feli segera dapat mengenali sosoknya kemudian senyum kecil tersimpul dibibir.
“Kak Angga!” seru Feli seraya berlari menghampiri pemuda yang dipanggilnya Angga.
“Bagaimana hari pertamamu?” tanya Angga
“Lumayan, Kak! Kakak sendiri bagaimana?” jawab Feli dengan sikap manja.
Angga tersenyum lembut pada Feli. Terlihat jelas rasa sayang yang dipancarkan lewat kedua matanya pada gadis yang berdiri dihadapannya.
“Baguslah,” ucapnya seraya mengacak-acak rambut Feli. “Ini bukan hari pertamaku, jadi menurutku biasa saja.”
“Ah, kakak ini!” elak Feli. Gadis itu segera menepis jauh-jauh tangan Angga yang berada dikepalanya. “Aku sudah SMA. Sudah besar, jadi kakak jangan bersikap seperti ini, ya, di depan teman-temanku.”
Angga tertegun sesaat kemudian tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. “Oh, ya. Kamu sudah besar,” sahutnya.
“Sudah, ya. Aku mau ke kelas dulu.”
Angga mengangguk seraya menatap sosok Feli menjauh. Secara tidak kasat mata, ia melihat tembok diantara dirinya dan Feli. Hatinya perlahan terasa perih. Perlahan namun pasti, ia pasti akan kehilangan Feli. Gadis yang mulai tumbuh dewasa dan menjauh dari kehidupannya.
***
Buah-buah mangga yang hampir masak seakan memanggil untuk dipetik. Angga pun segera memanjat pohon mangga yang tertanam dihalaman rumahnya kemudian memetik salah satu diantaranya.
“Huaaa... Mama...”
Angga tengah asik memakan buah mangga langsung diatas pohon. Perhatiannya segera teralih pada suara tangisan yang didengarnya. Terasa tak jauh. Angga kecil pun celingak-celinguk mencari sumber suara dan menemukan seorang gadis kecil tengah menangis di depan pintu rumahnya.
Ia tak melihat ada orang yang membukakan pintu untuk gadis tadi. Tanpa basa-basi lagi, Angga melompat dari pohon kemudian menghampirinya.
“Kamu kenapa?” tanya Angga heran.
Gadis itu hanya menatapnya dengan mata penuh air mata kemudian melanjutkan tangisannya kembali. Angga pun bingung. Ia mengintip ke dalam rumah  lewat jendela dan tak menemukan siapapun di dalamnya. Hanya perabotan rumah dan sebuah lampu yang menyala di tengah ruangan.
“Kemana Mama-mu?” tanya Angga lagi.
Tangisan gadis tadi terdengar makin keras. “Mamaaaaa...”
Angga bingung. Ia ingin menolong gadis tadi namun tidak tahu harus melakukan apa. Dilihatnya mangga yang digenggamnya sedari tadi. Dengan polosnya, Angga menyodorkan mangga ditangannya pada gadis tadi.
“Ini buat kamu,” ujar Angga.
Tangisan anak tadi sekejap terhenti. Diraihnya mangga dari Angga, “Terima kasih.”
Angga pun terduduk disebelah anak tadi. “Aku Angga, kamu siapa?”
“Aku Feli.” jawab gadis itu disela-sela tangisnya. “Mamaku pergi, aku ditinggal sendirian.”
“Pergi kemana?” tanya Angga lagi.
“Aku tadi main di depan. Mama sudah melarang tapi aku tetap ingin main. Aku ingin mengambil mangga itu...” ujar Feli kecil seraya menunjuk pohon mangga milik Angga.
“Oh, kamu mau mangga ini. Mau ku ambilkan?”
Dengan penuh bersemangat, Angga segera berdiri bermaksud mengambil mangga.
“Jangan pergi...” pinta Feli.
Feli meraih celana pendek Angga dan menghentikan langkahnya.
Angga menatap mata sedih Feli dengan iba. Ia pun memutuskan untuk kembali duduk di sebelah Feli.
“Ya, aku tidak akan pergi. Kamu tenang saja, ya...”
***
“Kak Angga!!” teriak Feli dari kejauhan.
Suara Feli menggema diantara tembok-tembok koridor gedung sekolah. Diikuti pandangan heran para siswa yang tengah berdiri disisi koridor sembari mengobrol atau sekedar kumpul. Gadis itu berlari menghampiri Angga yang langsung menoleh padanya. Ia memandang Angga penuh rasa sayang layaknya seorang adik.
“Ada apa?” tanya Angga. “Bukannya kamu bilang untuk tidak dekat-dekat denganmu selama di sekolah?”
Feli pun langsung cemberut. “Kok begitu sih? Aku kan mau cerita.”
Tawa renyah Angga segera menyambar sesaat kemudian. Ia tahu kakaknya tidak mungkin marah padanya karena hal kecil. Senyumnya pun kembali terkembang.
“Aku punya berita bagus!” ucap Feli bersemangat. Hatinya berdebar begitu kencang seperti orang yang akan menyatakan cinta. “Aku jadian sama Robi. Hebat, kan!”
Senyum Angga sekejap menghilang. “Kenapa Robi? Tidak, kamu tidak boleh jadian dengan Robi!”
Darr!
Seperti mendengar suara petir ditengah siang bolong, hati Feli sekejap sakit. Ia tak menyangka akan menerima balasan yang tidak diinginkan keluar dari mulut Angga, seseorang yang sangat berarti baginya.
“Kenapa, Kak?” tanya Feli lirih.
“Ia tidak baik, Feli. Playboy kelas kakap!”
“Kakak!” bentak Feli kesal. “Berhenti bersikap protektif padaku!”
Suara Feli terdengar seantero koridor hingga siswa lain menatap mereka penuh tanya. Ia tahu Angga sangat menyayangi dan melindunginya seperti adik sendiri, namun kini dirinya telah dewasa. Sudah SMA!
“Feli, ini bukan sekedar protektif...” jelas Angga.
“Sudahlah, Kak!” sergah Feli. “Aku pergi dulu!”
Kata-kata Feli seakan terdengar seperti ucapan perpisahan bagi Angga. Ia menatap punggung Feli yang bergerak menjauh. Pikiran serta tindakkannya tidak cukup cepat untuk menghentikan. Pemuda itu menyadari akan kesalahan ucapannya pada Feli. Gadis itu pasti membencinya. Pasti!
***
“Robi... Kamu kemana, sih?”
Feli mengeluh sepanjang hari saat Robi tak kunjung dapat dihubungi. Sudah seminggu lebih Robi menghilang tanpa kabar. Tak terlihat di sekolah dan sulit dihubungi.
Ia melenggang menyusuri koridor sekolah melewati ruang kelas Robi. Rasa penasaran mendorongnya untuk mengecek ke dalam kelas Robi. Tak ada. Hanya ada sekumpulan siswa dipojok ruangan serta kumpulan para siswi yang bergosip ditengah ruang kelas. Matanya terkaget saat pojok ruangan lainnya.
Robi tengah bercakap mesra bersama dengan seorang siswi yang tak dikenalnya. Tawaan serta candaan yang tercipta seakan menegaskan hubungan keduanya.
“Robi!” panggil Feli menahan kesal.
Robi dan siswi tadi terkejut melihat Feli. Tanpa basa-basi lagi, Feli menghampiri kemudian menampar Robi keras-keras.
“Dasar playboy! Pergi saja kamu ke laut!”
Ia langsung berlari keluar kelas. Hatinya terasa sakit, anehnya bukan rasa sakit karena dikhianati Robi melainkan perasaan kecewa karena pernah menghiraukan perkataan Angga.
“Feli!” teriak Angga terdengar dari kejauhan.
Feli menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. Ia melihat kakak pelindungnya berdiri seraya menatapnya cemas.
“Kak Angga...”
Feli berlari meraih Angga dan memeluknya.
“Kamu kenapa?” tanya Angga cemas.
Feli menggeleng. “Tidak apa... Aku senang melihat kakak.”
***
Feli menyeruput kopi panas miliknya secara perlahan. Ia menatap Angga yang baru masuk ke dalam cafe dan berjalan menghampiri meja miliknya.
“Kakak darimana?”
Wajahnya sekejap terkejut saat melihat lebam dibibir serta pelipis Angga.
“Kakak kenapa?” tanya Feli.
“Tak apa. Aku hanya memberi pelajaran pada orang yang membuat adikku menangis. Itukan tugas seorang kakak...” jawab Angga lembut.
“Kakak...” sahut Feli lirih.
Angga menarik kursi diseberang meja Feli kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.
“Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini karena aku melihat kamu bahagia bersama Robi. Namun mengingat kejadian hari ini, aku rasa harus memberitahumu.”
Feli menatap mata Angga yang menatapnya penuh keseriusan.
“Apa, Kak?” tanya Feli penasaran.
“Aku akan pindah ke Bandung meneruskan kuliahku disana.”
***
“Feli,” panggil seseorang membuyarkan lamunannya.
Feli menoleh pada asal suara dan melihat Angga berdiri diambang pintu kamarnya. Setelah dua tahun berlalu, Feli memutuskan menyusul Angga ke Bandung.
“Ah, maaf, Kak.”
“Kamu lagi lihat apa sih?” tanya Angga seraya menghampiri Feli.
Feli mengeluarkan selembar kertas dari dalam kotak dan berisikan foto Angga yang mengenakan baju kelulusannya dari universitas bersama dengan Feli.
“Aku bersyukur memiliki kakak sepertimu, seseorang yang lebih dari seorang kakak.”
“Memangnya apa yang lebih dari seorang kakak?” goda Angga.
“Haha,” tawa Feli. “Bagaimana jika seorang kekasih?” canda Feli.
Angga terdiam. Tak ada balasan dari laki-laki itu.
“Baiklah...” jawab Angga singkat.
Sekejap Feli ingin melonjak kegirangan mendengar jawaban singkat Angga.
“Aku menyayangimu, Feli...” ucap Angga lembut.


30 Juni 2015

Cerita Mini: Bioskop

Mematut diri di depan cermin, mencari baju yang cocok, tersenyum sejak pagi, aku rasa hanya orang yang hampir gila yang bertingkah seperti itu. Sayangnya, aku pikir bahwa dirikulah orang itu. Sejak semalam aku pun hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berkali-kali terbangun dan langsung melirik pada penunjuk waktu. Aku merasa jantungku seperti mendapat sengatan listrik entah dari mana hingga membuatnya berdebar setiap waktu.

Lagi-lagi kulirik jam weker yang ku pasang disamping tempat tidurku. Wah, masih jam delapan pagi, masih ada dua jam sebelum aku bertemu dengan si penyebab keanehan padaku. Dua jam serasa dua tahun, aku menunggu dan si Dia tiba tepat waktu. Suara bel terdengar dan melihat sosoknya dibalik pintu membuat jantungku hampir melompat keluar. Perasaan senang serta salah tingkah bercampur jadi satu. Ah, aku tampak seperti orang bodoh, rutukku dalam hati.

Kami pergi menonton bioskop. Bioskop pertama yang menjadi saksi perjalanan kisah cinta kami. Menonton film, makan di restoran, bermain di pusat permainan hingga tak terasa waktu yang mengingatkanku untuk segera pulang. Langit diluar bangunan sudah berubah kembali menjadi gelap dan si Dia mengantarku pulang dan berpamitan dengan kedua orangtuaku.


Aku tersenyum sambil merasakan debaran jantungku saat membayangkan kenangan kami hari ini.

26 Juni 2015

Pusara Luna...

Disclaimer
Sebelum membaca, disarankan untuk membuka postingan sebelumnya disini. Kumpulan cerpen di tahun 2015 ini dibagikan agar lebih bermanfaat dan lebih banyak yang membaca. Happy reading.

20 Juni 2015

I wanna fall in love...

Disclaimer
Cerpen ini diciptakan dimasa awal-awal jatuh cinta pada kepenulisan cerpen dan novel. Gaya tulis dan diksi yang terbatas,  tidak menjadi penghalang dalam menyampaikan perasaan. Selamat membaca...

19 Juni 2015

First Love

Kenangan Klasik Cinta Pertama
Puisi klasik mengenai cinta pertama
Menceritakan begitu manisnya cinta pertama yang terjadi
Teringatkan akan saat-saat dimana dirimu menyukai dirinya
Setiap saat, setiap waktu dan dimana pun kau berada
Mungkin di dalam pikiranmu hanya ada dirinya.

Begitu indah, begitu manis
Rasanya seperti sebuah gulali yang manis
Menghiasi hari-hari dan waktu yang ada dengan bayangnya
Selalu teringatkan akan setiap hal yang dilakukannya
Setiap hal baik yang pernah dilakukannya untukmu.

Saat kau menyadari akan perasaanmu
Saat itu pula kau akan menyadari akan kesedihan dibaliknya
Namun kau sangat menyadari bahwa ini takdirmu
Bagaimana pun kau berusaha melawannya
Ia akan tetap menjadi cinta pertama.

Hati merasakan hal manis saat cinta pertama menyisakan hal termanis
Kenangan-kenangan yang tercipta tak akan pernah kembali
Namun kenangan akan tetap terukir manis
Walaupun pada akhirnya bahwa segalanya hanyalah kenangan.

Pernah terpikirkan untuk kembali merasakan manisnya cinta
Ingin menyentuh kembali manisnya masa-masa lalu
Menikmati setiap kemanisan yang terasa dan melupakan waktu yang berjalan
Tapi harus menyadari bahwa semua tetap hanya masa lalu.

Cinta pertama tidak selalu memberikan kenangan manis
Saat dirimu begitu ingin mengulang manis rasanya
Saat itu pula akan teringat hal pahit yang membuat dirimu hanya bisa memandangnya
Hal yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata
Namun hati yang bisa menunjukkan.

Cinta pertama kadang terasa menakutkan
Kau tidak ingin merasakan lagi rasanya cinta
Namun cinta pertama tetap terkenang manis dibalik segala ketakutan

Cinta pertama...

7 Juni 2015

Tamu

Disclaimer
Postingan ini masih satu rangkaian dengan cerpen sebelumnya. Dalam mengikuti seleksi kompetisi tempo dulu dan sekarang dibagikan agar banyak pecintanya. Happy reading...

Ting tong... Ting tong...

Suara bel rumah berbunyi di pagi buta saat hari liburku berlangsung. Dalam hati bertanya mengapa tidak ada yang membuka pintu? Aku cuek dan suara bel terus berbunyi. Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu dirumah orang, keluhku. Akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidurdan bergegas menuju pintu rumah. Aku menemukan secarik kertas memo diatas meja makan yang ternyata dari mama. Ia menulis pesan bahwa dirinya sedang pergi ke pasar. Pantas saja tidak ada yang membuka pintu, gumamku dalam hati.

Aku segera menghampiri pintu rumah dan membuka handelnya dengan perasaan malas. Begitu terbuka, tampak seorang laki-laki sedang berdiri memunggungi pintu. Laki-laki itu mengenakan kaos oblong berwarna merah dan kedua tangan diselipkan di saku celananya.

“Maaf, mas. Cari siapa?” tanyaku heran.

Laki-laki tersebut tidak menjawab pertanyaanku dan tidak bergerak sedikitpun. Aku pun semakin penasaran saat menyadari sosoknya seperti tidak asing lagi bagiku.

“Maaf, penagih hutang, ya?” ujarku kemudian. Laki-laki tadi tetap tidak menjawab. Rasa emosi mulai menghinggapiku saat melihat laki-laki tadi yang tidak kunjung menjawab pertanyaanku. “Hey mas, kalau ditanya jawab dong. Saya susah payah bangun supaya bisa bukain pintu buat mas tapi malah diam seperti patung begini!”

Gerutuku rupanya bermanfaat juga. Laki-laki tadi mulai bergerak dari tempat ia berdiri dan membalikkan badannya. Begitu wajahnya menatapku, sesaat aku merasakan degup jantungku berhenti tiba-tiba. Rasa shock dan tidak percaya bercampur jadi satu. Laki-laki itu adalah DIA... DIA... Dia yang selalu datang dimimpiku, bahkan beberapa saat lalu aku masih memimpikannya. 

Tapi sekarang, dia ada dihadapanku, didepan mataku! Astaga!

Tanganku menutup mulutku yang reflek menganga menatap Rendi, kakak kelas yang selama ini hanya bisa aku lihat dari jauh karena banyak penggemarnya. Aku menyukainya karena wajahnya yang manis dan prestasinya yang luar biasa disekolah. Dapat ku lihat, Rendi tersenyum melihat aku yang terbelalak kaget saat melihat dirinya berdiri di depan rumahku.

“Kak Rendi...” seruku pelan, sepelan suara angin.

“Hai Andin, apa kamu sudah sarapan? Aku mau mengajakmu sarapan bersama.” balas kak Rendi kembali tersenyum menatapku.

Oh, astaga! Apa yang terjadi hari ini? apa ini tanggal keramat? Keajaiban apa yang terjadi sehingga Kak Rendi yang terkenal dingin itu mengajakku sarapan pagi. Lagi-lagi mulutku menganga menanggapi ajakan Kak Rendi yang tiba-tiba. Buru-buru aku menyadarkan diri lalu menjawab pertanyaan Kak Rendi dengan tergagap.

“Be... Belum kak... Ki... Kita sarapan bersama?”

Senyum Kak Rendi tiba-tiba pecah menjadi tawa mendengar jawabanku. Seketika wajahku berubah menjadi merah seperti udang rebus. Dimana aku harus menyembunyikan malu ini??? pekikku dalam hati.

“Mari Andin, kita sarapan bersama di depan komplek rumahmu. Tadi aku melihat ada penjual nasi uduk disana.” Ajak Kak Rendi lagi. Ia lalu meraih tanganku mengajakku keluar rumah.

Seluruh tubuhku bergetar dan perutku berguncang hebat disertai rasa sakit kepala yang luar biasa. 

Astaga, ada apa lagi ini? Ini saat yang penting, kenapa harus sakit? Oh, ya. Semalam aku kehujanan dan lupa minum obat. Aku menatap Kak Rendi penuh permintaan. Namun lama kelamaan pandanganku kabur dan bisa kurasakan tubuhku terjatuh ke lantai disertai teriakkan Kak Rendi.


Betapa malunya diriku. Pingsan saat sang pujaan hati mengajak sarapan bersama.


8 Maret 2015

Turn Back to You...

You and I must have really liked each other then.

I didn't know how to be angry because I was happy all the time.

Yes, it was like that, how it felt to love you.

To me, the world was most touching then.

If that moment was lost, the short time that I have lived, will be too insignificant then.

I want to turn back to find you.

~taken from translate of OST. Protect The Boss~

14 Desember 2014

Celebrate of Life

Bulan Desember!! Akhir tahun!!

Secara pribadi, bulan terakhir dalam kalender Masehi ini selalu penuh dengan perayaan. Bukan karena tehaer yang keluar atau pesta tahun baru yang akan menjelang. Tapi, bulan Desember memiliki makna yang lebih dari sekedar perayaan. Merayakan hidup, mensyukuri hidup, mensyukuri berkat yang sudah di peroleh selama setahun terakhir dan bersiap menjalani tahun-tahun berikutnya dengan semangat baru. *Eaaa

Di bulan ini juga, seorang malaikat yang biasa gue panggil dengan sebutan Mama pun merayakan hari lahirnya. Sebelumnya, ada juga saudara nyokap yang ultah di tanggal yang nggak jauh dari mamah dan sesudahnya akan ada juga saudara sepupu yang akan merayakan hidupnya yang bertambah lagi setahun. Setelah seluruh perayaan hidup, akan disusul perayaan-perayaan keagamaan yang meriah dari tahun ke tahun.

That's why... I always wait for December to celebrate the life!!

22 Agustus 2014

Gadis itu...

Untuk pertama kalinya, ia lupa akan satu hal.
Sebuah hal yang selalu diingatnya,
Walau tidak sebaliknya.

Untuk pertama kalinya, ia lupa..
Ah, lebih tepat... melupakannya.
Karena kata lupa identik dengan kesalahannya.

Untuk pertama kalinya, ia berhasil mewujudkan mimpi serta janji yang tidak pernah ia harap dapat terwujudkan.
Karena ia tahu, untuk bermimpi pun sulit, terlebih mewujudkannya.

Untuk kesekian kalinya, ia tidak lagi kesal.
Kala pesannya hanya dibalas singkat dan... biasa.
Tidak ada yang spesial lagi baginya.

Untuk kesekian kalinya pula, ia bersedih karena harus mengakhiri tanpa punya arti.

Ia berteriak pada diri sendiri,
"Mau sampai kapan?!"
"Mau sampai kapan?!"

Ia bersikeras bertahan, mengganggap dirinya sudah lepas dari ingatannya, sayang... ketika ingatannya kembali, ia harus kembali terluka.

Ia pun menggumam, "Haruskah ini berakhir? Bahkan memulainya pun, aku tak sempat..."
source

9 Agustus 2014

Parfum itu...

source
Aku melihat botol parfum yang menarik perhatian
Warnanya merah, berbentuk buah apel
Mirip sebuah merk sebuah ponsel pintar

Kemasannya memikat
Maka kudekati serta menghirup aroma di dalamnya
Harum semerbak, menenangkan jiwa
Menelusup ke dalam hati
Aku mulai terbuai dibawanya...

Tidak seperti parfum lainnya
Keharumannya selalu berhasil meredam amarah
Kehadirannya selalu melengkapi hari yang penuh dengan emosi
Hadirnya memberi arti lebih dari sekedar minyak wangi

Harumnya, tidak pudar hanya dalam sehari
Semerbak masih tercium hingga keesokan harinya
Saat mulai menghilang, disiramnya lagi diseluruh tubuh
Membuat hati terikat tak berpaling, pada harum manapun

Tapi aku ingin harum ini selamanya
Tidak hanya datang dan hadir saat diperlukan
Maka aku coba ‘tuk tidak menyiramnya lagi
Mencoba memberi kesempatan agar parfum menyirami sendiri tubuhnya

Sayang, penantian yang sia-sia
Sang parfum tidak bisa menyiram tubuhnya sendiri
Ia harus disirami lagi dan lagi
Melelahkan...

Ah, harum parfum itu hanyalah tinggal setetes
Biarlah aku sirami tubuhnya sekali lagi
Mungkin untuk yang terakhir kali
Lalu membiarkan harum semerbaknya menyebar sepanjang hari
Hingga akhirnya hilang sendiri
Bersama angin, bersama udara,

Bersamaan dengan seluruh kenanganku tentang sang parfum...

6 Mei 2014

Berbagi Kebahagiaan

Dari sekian banyak bakti sosial yang gue ikuti, kemudian diniatkan untuk di posting ke dalam blog, mungkin ini-lah postingan pertama. Walau bukan postingan yang pertama, tapi kebahagiaan yang diterima seusai acara ini tidaklah selalu sama.