12 Agustus 2014

Tak Bisa Sendiri

Belakangan ini, gue baru masuk ke tahap bisa pakai eyeliner sendiri. Yah... nggak usah heran. Dari sekian tahun gue hidup, baru kali ini gue rasa kalau eyeliner itu penting dalam penampilan. Tapi kadang, saat menutup salah satu mata untuk memoles pada mata yang lain, gue merasa kesulitan. Alasannya, salah satu mata gue tidak begitu jelas dalam melihat.
 
well, mata gue nggak secantik inih kayaknya... ^^
Waktu kecil, gue pernah menjalani tes mata dan mendapati kedua mata gue memiliki minus 0.75, entah sekarang berapa. Saat itu dokter menganjurkan untuk memakai kacamata namun gue menolak keras-keras dengan alasan pusing kalau pakai kacamata. Setelah beberapa belas tahun berlalu, gue baru merasakan bahwa mata gue kini benar-benar butuh alat bantu. Tapi lagi-lagi gue bersikeras kalau mata gue tidak sakit, mereka masih cukup baik untuk melihat. Mereka bisa bertahan, pasti!

Rumor-rumor yang gue dengar dari teman-teman yang berkacamata bahwa setelah mereka memakai alat bantu itu pun tidak langsung menyelesaikan masalah mereka. Bahkan tiap tahun atau beberapa tahun sekali mereka harus mengganti lensa karena nilai minus, plus atau silinder  mereka bertambah tiap kalinya. Menyadari hal tersebut, gue berpikir bahwa kacamata secara tidak langsung telah membuat mata kita manja, hingga malas untuk berusaha lebih dan lebih. That’s only my opinion! Trust it!

Lalu, sore tadi gue mencoba untuk menutup sebelah mata gue secara bergantian saat berkendara. Tenang.. ini berkendara santai, jadi tidak masalah. Saat salah satu mata tertutup, rasanya dunia tidak satu, mereka memiliki bayangan yang sama namun tidak nyata. Pusing. Bingung. Gue tutup lagi mata lainnya, ah... memang terasa lebih terang, tapi bayangan tadi tetap ada, walau sedikit jelas. Lalu, saat gue membuka keduanya, aaah... dunia terasa terang. Terserah, baik kiri atau kanan yang tadi kurang jelas, asalkan keduanya dapat bertahan secara bersamaa, gue nggak perlu khawatir karena saat itu dunia tampak begitu jelas dihadapan gue.

source
Dunia memang begitu keras, kasar dan kejam. Ada yang bisa bertahan dan berjuang demi kehidupannya sendiri hingga sukses, tapi tidak ada yang bisa bertahan sendirian. Walaupun kalian seorang anak kos yang katanya apa-apa serba sendirian, atau para perantauan yang katanya jauh dengan keluarga, jadi segalanya serba sendirian. Lalu, dianggap apa para penjual makanan yang tiap hari dibeli, dianggap apa para pemilik kos dan penghuni lainnya yang tiap hari ketemu dan bercengkrama, atau... dianggap apa orang-orang yang menyapa kita walau tidak kenal.

Berjuang memang boleh. Berusaha dan bertahan memang harus. Tapi bukan berarti segalanya harus dilakukan sendiri, bukan? Gue mendapatkan inspirasi itu dari kedua mata yang gue pertahankan untuk tetap bekerja tanpa alat bantu. Mungkin bisa dibilang egois, tapi gue yang akan membantu mereka, dengan cara menjaga kesehatan mereka dan mengurangi konsumsi penglihatan digital. Yah, walau pada akhirnya nanti kedua mata gue merasa lelah dan gue pun tidak tega pada kesendirian mereka yang bertahan pada tugasnya yang berat.


Kata orang, mata merupakan pancaran kehidupan. Kalau menjaga kesehatan mata serta memperjuangkannya saja tidak bisa, bagaimana kita bisa memancarakan sinar kehidupan ke orang-orang. Tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukan sendirian, meskipun binatang sekalipun. Karena mata tercipta sepasang, begitu pun manusia. Keyakinan inilah yang membuat gue selalu percaya akan ada sepasang mata lain yang bisa meluluhkan serta meyakinkan mata ini, bahwa dialah yang diutus Tuhan untuk menemani sepasang mata ini.

4 komentar:

  1. Kata orang, "Mata adalah jendela jiwa". Dan ternyata mata saya rusak, akankah jiwa saya ikut rusak?

    BalasHapus
  2. kebetulan aku juga punya minus 1,5 dan amat sangat mengganggu. tapi, kalo kita nggak pakai kacamata justru bikin mata tambah minus loh, karena mata kecapekan nggak bisa melihat benda dengan jelas (coba googling hehe). pengalaman smp-sma nggak pakai kacamata dan ternyata kuliah nambah minus 1 T_T

    tak apalah mata minus, yang penting mata hati tidak minus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sih.. hehe..
      Setuju. Mata hati nggak boleh minus tuh.. :D

      Hapus

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini