29 Juli 2013

27 Juli 2013

(masih) Nggak akan balik lagi...

ATTENTION:
Postingan ini lanjutan dari "Nggak akan balik lagi..."
It's better to read it first... :)

-----------------------------------------------------------------------------------

Kita lanjut nostalgia kita..

3. Tak Jongkok, Tak Umpet...
gambar dari sini

Dua permainan ini sangat populer. Mungkin sekarang juga masih kali, ya.. Tak Jongkong (Petak kali ya nyebutnya?), cara mainnya dengan mencari satu korban yang menjadi musuh. Lalu teman-teman yang lain berlarian menghindari si korban. Cara menyelamatkan diri dari kejaran si korban ialah jongkok. Yang lucu itu, waktu jongkok ada yang bela-bela jalan supaya bisa berdiri. Kan harus ditepuk sama teman yang masih berdiri. Hehehe..

petak umpet
Sedangkan yang satunya, Tak Umpet (petak, petak), permainannya seru. Satu orang berjaga sambil berhitung, teman-teman yang lain ngumpet. Nah, siapa yang terakhir ketemu, dialah yang kalah. Jaga deh. Kisah serunya, permainan ini sempat berlangsung lebih dari setengah jam. Padahal satu ronde saja loh. Kenapa? Jadi teman-teman yang seharusnya ngumpet itu bukannya ngumpet. Mereka malah berlari mengelilingi gang sebelah! Lalu, saat si penjaga tahu dan mengejar, teman yang ngumpet ini sudah balik duluan ke tempat si penjaga. Kena deeehh... *gaya Pandji di acara kuis gitu...*

26 Juli 2013

Nggak akan Balik lagi...

Sepertinya belakangan ini gue sedang berada di titik terjenuh menjadi seorang dewasa. Hidup di dunia hampir dua puluh tahun lebih, buat gue makin merasa jenuh. Sebenarnya ada beberapa hal yang sebenarnya harus dilepaskan. Istilahnya, keluar dari zona aman. Sayangnya, masih belum bisa. Dan masih belum mau.

Terkadang, manusia memang begitu. Walau susah tetap saja dijalani. *teori siapa coba?*

Nah, beberapa waktu lalu gue pernah bernostalgia mengenai film-film kartun jaman gue masih SD. Lalu tercetuslah ide menulis artikel ini. Sebenarnya sempat lupa. Hanya saja diingatkan secara tidak sengaja saat gue dan teman-teman dari BIA HSPMTB sedang rapat sambing nongkrong di Basjon, sambil ngomongin soal cuaca.

Awalnya hanya karena gue ngoceh begini:

"Gue tau kenapa gini hari nggak ada layangan. Pasti gara-gara hujan!"

Lalu temen gue bernama Janner nyeletuk.

"Ah, memangnya sekarang musim layangan. Kayaknya kagak dah..."

"Yee, sekarang harusnya. Kan musim-musim liburan sekolah. Inget nggak dulu waktu sekolah..."

*pernah sekolah nggak, Jan?* :P

Nah, obrolan pun dimulai deh dari celetukkan kecil tersebut. Seperti tersedot ruang dan waktu, gue dan teman-teman langsung terbawa arus pembicaraan. Membicarakan permainan jaman gue kecil jadi primadona, sekarang hampir hilang tak berbekas. Masa-masa yang nggak akan pernah bisa balik lagi.

1. Layangan.

Nih mainan kayaknya paling populer deh. Jangankan di Tangerang, di Indonesia bahkan di seluruh dunia mungkin punya perayaan tersendiri akan permainan ini. Contohnya di Jepang. Di Indonesia, negara yang penuh dengan 'musim-musim', musim layangan pun juga ada.

Biasanya saat musim liburan anak sekolah. Antara bulan Juni-Juli. Saat matahari sedang terik-teriknya. Musim lagi panas-panasnya. Saat angin sedang bertiup setengah-setengah. Kadang besar kadang tak berangin.

22 Juli 2013

Sahabat sejati bukan ditentukan dari berapa lama kamu berteman,
melainkan bagaimana kamu berbesar hati saat sahabatmu menemukan teman baru dan mulai menjauhimu... -Luiza Cha~~

20 Juli 2013

Book Review [Book-Re]: Setahun Berkisah

Hai, hai. Akhirnya bisa lagi me-review buku di blog ini. Sebelumnya saya pernah me-review sebuah buku. Saking berharganya, saya memutuskan untuk me-review isinya. Nah, kali ini bukan karena ada unsur-unsur (biasa disebut modus) seperti review sebelumnya, melainkan karena tuntutan publik. Banyak teman-teman penulis diluar sana yang me-review buku-buku yang pernah mereka baca. Entah buku yang difavoritkannya atau hanya sekedar kebiasaan me-review.

Nah, buku yang akan saya review kali ini cukup menarik perhatian. Awal ketertarikan dari tweet-tweet si penerbit. Saat membelinya, tidak begitu menyesal. Hehe..

Tak perlu banyak bicara lagi. Here we go...




Judul : Setahun Berkisah (Cerita Cinta Setiap Musim)
Penerbit : Bukune
Edisi : Soft Cover
Tgl Terbit : April 2013


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Blurb
Aku mau tidak usah terlalu takut pada akhir dari sesuatu,
tak peduli betapa kasar dan berharganya sesuatu itu untukku,
karena setiap akhir dari sesuatu adalah awal yang baru.
Aku mau tidak takut pada kemungkinan-kemungkinan pada masa depan.
Aku mau tidak takut memulai kembali.
Aku mau jatuh cinta lagi.
Hari ini mengajarkanku tentang semua itu.
Selamat Tahun Baru, Love

***
Tunjukkan dan rasakan cinta setiap hari, begitu katanya. Tidak peduli pada hari apa, musim apa, kamu selalu bisa merayakannya. Setahun Berkisah berisi delapan kisah cinta, delapan hari raya, dari delapan pencerita. Dengan keunikan tiap hari raya, latar belakang dan sudut pandang pencerita yang unik, kamu akan ikut dibawa merayakan cinta dengan banyak cara.

Ada banyak cinta pada musim-musim ini. Cinta yang mengharapkan banyak hoki dan peruntungan ketika imlek, cinta yang menunjukkan banyak wajahnya pada Hari Kasih Sayang-Valentine, cinta beselimutkan misteri dalam seramnya suasana Haloween, sampai cinta yang menemui akhir sekaligus memulai langkah barunya di pergantian tahun.

Rayakan hari ini, karena besok selalu menjadi hari baru, mungkin pula, cinta yang baru.

Cerita Cinta Setiap Musim
Membaca kata 'musim' yang terpampang di cover, membuat gue langsung mikir. 'Ah, ini pasti cerita-nya kebanyakan di luar negeri, nih.' Secara logika, musim yang ada di Indonesia hanya ada 2. Musim hujan dan musim kemarau. Tidak termasuk musim pancaroba. Apalagi coba-coba. Buat anak kok coba-coba (lho?!)

Nah, setelah melalui sebuah pergumulan (beli nggak ya? beli nggak ya?) yang hebat, akhirnya gue memilih menyomot buku ini dari rak buku yang ada di toko buku. Begitu sampai di rumah, buka plastik pembungkus, langsung jatuh cinta sama sampulnya. 

Bab pertama, masih belum 'ngeh arti musim yang sebenarnya. Setelah membuka halaman demi halaman, barulah ditangkap maksud 'musim' disana. Ternyata musim yang dimaksud adalah musim hari raya yang ada di Indonesia. 

Dari musim Imlek hingga musim Natal. Dari musim bertawa ria hingga musim bersendu sedan. Tulisan-tulisan yang disuguhkan mengajak gue terhanyut. Seakan tenggelam dalam musim tersebut. Lanjutlah gue baca cerita-cerita dari tiap musim.

17 Juli 2013

Sahabat_Definisi yang Tak pernah Lekang (#OncomVersion)

sahabatsa.ha.bat
[n] kawan; teman; handai: ia mengundang -- lamanya untuk makan bersama-sama di restoran




sahabat dekatsahabat karib
sahabat karibsahabat yg sangat erat (baik); teman yg akrab: dia adalah -- karib kakakku
sahabat kentalsahabat karib


Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/sahabat/mirip#ixzz2Z5y09Qji


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat. Sebuah suku kata dasar yang memiliki makna sama ditiap penggunaannya. Entah ditambahi imbuhan atau akhiran. Sahabat. Apa definisinya menurutmu?

Aku pernah bercerita tentang persahabatan yang ku punya bersama dengan dua orang yang diketemukan dengan tidak terduga. Ketemu di tengah perjalanan. Perjalanan menata kehidupan. Menata masa depan. Teman disaat sedih. Teman disaat berbagi kebahagiaan. Teman untuk dibully. Teman disegala hal.

Apalagi, sebagai perempuan yang biasa curcol dimana-mana. Sahabat ibarat seperti 'tong sampah' tempat dimuntahinnya seluruh asa, rasa, cita dan cinta.

(Kurang enjoy nih, ganti kata 'aku' nya ah....)

Nah, di postingan kali ini, gue berencana mengulas seorang sahabat yang dipungut dari pinggiran jalan. Bernama Kebon Jahe. Tinggalnya di pedalaman Tangerang. Dan makanan kesukaannya oncom. Jangan heran kalau gue sering manggil dia 'oncom'. Hehe..

Okeh. Here we go...


Listi Birthady - SMS
Namanya Listi. Berbadan gempal, memiliki paras asli Indonesia, pecandu Korea abissss.....
Ia merupakan sahabat terlamaaaaaaaaa yang masih terjalin komunikasinya dengan baik. Bukannya baik lagi. Amat sangat baik. Hampir setiap hari malahan.

14 Juli 2013

Kisah yang Tercecer...

Sebuah perjalanan pasti ada ujung akhirnya. Sebuah awal pun juga pasti ada akhirnya. Sebuah cerita juga harus ada akhirnya. Terserah. Mau sedih, senang, open, atau menggantung. Sebuah akhir tak bisa dihindari.
Begitu pun kisah yang tercecer seusai pelatihan di Jogjakarta. Kisah yang tercecer. Berasal dari barang-barang yang mengisi kisahnya.

Sepasang sandal. Perjalanan ini dimulai saat mengenakan sandal tersebut lalu menerima pelatihan ditengah mereka yang 'WOW' sedangkan aku yang... 'OH...' Dua hari terlewati bersama si sandal putih bertuliskan #kampusfiksi

Berlanjut pada sebuah papan nama. Membuatku mendesis, 'wih...' Berasa seperti seorang Duta Besar dari suatu negara Besar. Mengikuti konferensi atau rapat tingkat Internasional. Wow... Khayalan yang terlampau tinggi. Bersamaan si papan nama, disampingnya terselip sebuah pin. Pin berwarna biru yang dibuat secara kolektif, tersisipkan sebuah doa kecil di dalamnya. 'Novelis siap Terbit'. Ups, ada sedikit kesalahan rupanya. But, that's oke... No problem...

13 Juli 2013

Kesempatan Takkan Datang Dua Kali...

Bulan kemarin, tepatnya bulan Juni, gue mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan penulis dari salah satu penerbit Major di Jogjakarta. Nama kegiatannya, #KampusFiksi. Penerbitnya, Divapress.

Tampaknya gue nggak harus menjelaskan apa itu #KampusFiksi atau siapa itu Divapress. Silahkan kalian cari tahu sendiri dengan meng-klik link yang sudah disediakan disana. Tulisan gue kali ini akan mengupas apa saja yang gue dapat sepulang dari #KampusFiksi tersebut. Nah, harap bersabar karena kalau kepanjangan, mungkin akan dibagi dua nih postingannya. :D

1. Pengalaman Baru

Tampaknya akan agak basi kalau menyebut ‘mendapatkan pengalaman baru’ saat mengisi formulir keorganisasian. Dikolom ‘Motivasi anda ikut organisasi’, pasti jawabannya begitu. Jamin! (Gue juga sih.. -_-“) 
Tapi jangan salah... Kali ini benar-benar pengalaman baru.

Pengalaman naik kereta sendiri Jakarta-Jogjakarta (PP loh, Pulang Pergi!). Gue pernah cerita bagaimana ribetnya gue membeli tiket kereta. Walaupun judulnya sudah ‘online’, tapi saat penukarannya tetap saja harus antri. Tak jauh beda dengan membeli ditempat.

Hari pertama saat naik kereta ke Jogja, sukses membuat pinggang gue bengkok ke kanan. Pasalnya, hari pertama sangat membludak. Pergi di Jum’at pagi dan dapat teman duduk yang sangat-sangat-sangat tidak kooperatif. Kenapa?

Mungkin karena gue yang juga jaim, jadi si penumpang sebelah tidak terlalu memperhatikan.
Akhirnya, perjalanan pertama gue dihabiskan dengan tidur-tiduran. Menyandarkan tubuh ke arah kanan selama kurang lebih 8 jam. Wew! Kebayangkah bagaimana rasanya? Disarankan, bayangkan saja, jangan dialami! Bisa-bisa ikutan encok... Hehehe...

2.  Teman-teman baru

6 Juli 2013

Fukuoka I'm in Love...

Selepas wawancara BULE pertama berhasil, tiba-tiba saya teringatkan sesuatu. Nama bule pertama itu ialah Mr. xxxxx xxxxx, we can call him Kiki-san. (-san merupakan panggilan kepada seorang laki-laki atau pun pada teman yang lebih tua dan tentunya laki-laki...)

Dan mendengar mengenai kota asal atau kelahirannya di Jepang bernama Fukuoka, tiba-tiba aku mendadak penasaran dengan kota yang berseberangan dengan kota Busan, sebelah selatan negeri gingseng alias Korea Selatan.

Ada yang pernah dengar Fukuoka?

Mari singkirkan otak kita dari pikiran tentang sebuah makanan yang terbuat dari cumi-cumi yang dimasak dan berbentuk bulat-bulat. Kini sudah banyak yang dijual di Indonesia, misalnya di mall-mall yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Ah, ya. Itu Takoyaki toh. Jauh banget dengan penulisan Fukuoka... *forgive!

Berdasarkan info yang diberikan Mr. Kiki-san, Fukuoka merupakan sebuah kota yang pada umumnya sama dengan kota-kota yang ada di seluruh dunia. Namun seperti layaknya sebuah kota di lain provinsi di Indonesia, tentu saja kehidupan di dalamnya jelas berbeda dengan ibukota negaranya yakni Tokyo.
Mr. Kiki-san menjelaskan bahwa Fukuoka merupakan kota yang asri, nyaman dan satu hal yang perlu kalian catat... Disana juga mengenal sistem JAM KARET!

Wew.. Gak nyangka juga sebenarnya mengingat orang-orang Jepang yang sangat disiplin. Menurut Mr. Kiki-san (again!) bahwa orang-orang dituntut ontime di ibukota. Jelas, Tokyo gitu loh...

Tapi... Tapiiii... Bukan itu yang aku ingin bahas melainkan bagaimana kehidupan di kota kelahiran si Bule Jepang serta bagaimana keindahan serta hiruk pikuk masyarakatnya, bagaimana pusat kehidupan masyarakat tercipta (misal: pasar malam, tempat-tempat makan yang OKEH punya) dan sebagainya.


Coba lihat foto yang saya ambil dari wikipedia ini...



Dari gambar paling atas, bisa dilihat bagaimana geliat kehidupan masyarakat yang natural. Sebuah pasar malam (atau memang pasar penjaja makanan yang rutin, ibarat di Tangerang itu seperti pasar Lama?) dimana seluruh masyarakat dari berbagai kalangan berbaur. Bagi turis-turis luar negeri mungkin akan terlihat "WIH..." walau sebenarnya itu hanya sekedar pasar. Eits, bukan itu yang penting. Yang penting ialah bagaimana euforia yang tercipta antar para pedagang, pembeli, muda-mudi (mungkin yang pacaran) lalu keluarga (cari makan malam) kemudian para single (menghabiskan waktu sendiri daripada bengong) hingga para anak-anak yang jajan dan lari ke sana-sini. Hmmm.. Mulai bisa kebayang deh...


[Assignment to Article]: Indonesia is a great country...

Hei, hei teman-teman semua sebangsa dan setanah air. Yang merasa sebangsa silahkan tepuk tangan ramai-ramai, jika tidak merasa silahkan tepuk teman sebelah anda lalu ucapkan kata sandinya (nah loh?). Ups, serasa ikutan kuis tebak apa gitu yang instruksinya begitu...

Di rubrik ini saya akan mengangkat sebuah artikel yang di dasari oleh sebuah tugas. Tugas apa? Bukan tugas kenegaraan apalagi tugas kantor, buang jauh-jauh deh pikiran begitu. Ini tugas yang menentukan hidup dan mati, naik tingkat atau tidak. Ah, ketahuan deh masih anak sekolahannya. Hehehe..

Ya. Seperti judul yang tertulis. Sebelum menjadi sebuah artikel, gue mendapat tugas mewawancarai seorang turis asing atau bahasa kerennya, BULE. Bule itu bukan istrinya pale loh. Eh, itu Pak 'Le ya? :D

Kenapa bisa diangkat menjadi sebuah artikel? Alasan utamanya ialah para bule-bule ternyata mencintai negeri ini sekaligus negerinya sendiri. Susah juga ya bisa mencintai dua negara seperti itu. Biasanya mereka berada di negara kita untuk bekerja ataupun melancong ke tempat-tempat wisata yang memang sedang mendunia nih.

Okeh. Sasaran pertama kita merupakan seorang asli dari negeri sakura alias Jepang dan namanya adalah Mr. Kiki-san. Maaf, nama asli hanya boleh ditampilkan seijin dari emak bapak, ncang ncing, nyak babeh, bahkan yang punya namanya sendiri. Jadi, panggilannya saja ya.

Jangan salah pikir. Kiki-san itu laki-laki bro! Bukan peyempuan apalagi keduanya. :D

Mari mulai saja artikel ini daripada melenceng kemana-mana tanpa arah yang jelas. Here we go...


(kiri) David, Angel, gue, Mr. Kiki-san, Maikel


Okay, Sir. Pick one of our flash card.
Okay. I pick this one!

He took 'music' flash card, it means that we will start our interviewing with Music Topic.

5 Juli 2013

Mengusir Sendu...

Baca puisi-sajak ku yang lain di sini
gambar diambil dari sini

Aku pernah bilang, kalau hujan begitu berarti...
Jangankan berarti, hujan bagaikan berkah yang tak terhingga...

Namun entah apa yang terjadi tiga hari belakangan ini...
Aku tidak bahagia begitu hujan turun...
Ditengah tahun yang seharusnya merupakan musim panas...

Aku langsung teringatkan belasan tahun sebelum hari ini..
Dibulan-bulan yang sama seperti ini...
Dibulan masa-masanya liburan sekolah...
Yang namanya layang-layang atau biasa disebut layangan,
Bertebaran dengan riang diatas langit...

Berdengung keras hingga permukaan bumi...
Menembus telinga yang mencari asal sumber suara...
Nah, sebuah layang-layang berukuran jumbo dan dinaikkan dengan benang yang agak tebal...
Meliuk-liuk diterpa angin...
Pesta musim panas yang hanya akan bisa dinikmati pada saat liburan sekolah..

Tapi apa?
Sekarang apa?
Kemana nuansa musim panas itu?
Bukan berarti aku membenci hujan..
Tidak! Tidak sama sekali...

4 Juli 2013

Aries... Aries... Aries...

Hei kamu! Ya kamu! Yang lagi baca blog ini. Kali ini akan dikupas soal seorang aries. Ups, asal tahu saja. Semua foto disini copas dari internet yah.. Silahkan klik di google.com.
Already... Set... Goooo...
#eaaa...





Two more!
#eaaa...


So,
how your opinion 'bout me?

1 Juli 2013

SURAT BUAT BAPAK PRESIDEN

Saya mendapatkan artikel ini dari FB Tionghoa Indonesia dan berinisiatif mempublikasikannya di sini.


SURAT BUAT BAPAK PRESIDEN ==
(semoga beliau baca)

Pak Presiden yang baik,
Bila harga BBM naik, dengan gagah
dan baik hati, konon Bapak akan
memberi kami kompensasi...


Bapak akan membuat kami
mengantre untuk mendapatkan uang
bantuan, agar kami tak merasa
kesulitan...

Tapi, pikiran kami sederhana saja...
Pak, benarkah Bapak suka melihat
kami mengantre panjang mengular
dari Sabang sampai Merauke?

Kami tidak suka itu, Pak.
Kami tak suka terlihat miskin,
apalagi menjadi miskin.

Kalau memang Bapak punya uang
untuk dibagikan kepada kami,
pakailah uang itu, kami rela
meminjamkannya untuk
menyelamatkan ‘perekonomian
nasional’ yang konon sedang gawat
itu.

Tak perlu naikkan BBM, pakailah
uang kami itu, kami rela
meminjamkannya untuk menyelamat
kan bangsa...!

Hidup kami sederhana, disambung
lembaran-lembaran uang recehan.

Ilmu hitung kamipun kelas
rendahan, berapa untuk makan
sehari-hari, uang jajan anak sekolah,
biaya transportasi, biaya listrik
bulanan, dan kadang-kadang cicilan
motor, dispenser atau DVD player.

Ada kesalahan di dalam gadget ini