31 Desember 2016

Challenging Year

Seorang Pastur bertanya saat homili di gereja tadi sore.

"Apa nama yang cocok untuk menggambarkan tahun 2016 ini?"

Pasti. Semua umat yang hadir cuma menjawab dalam hati. Takut-takut disuruh maju ke depan.

Awalnya gue berpikir, tahun ini merupakan Tahun Adaptasi Terlama yang pernah gue alami. Dalam segala hal.

Adaptasi dilingkungan rumah yang baru. Yang jauh dari tempat gue beraktifitas sehari-hari. Butuh waktu 2 bulan lebih untuk bisa lebih menerima. Lagi, adaptasi dengan orang-orang yang mengetahui tempat tinggal baru gue yang jauh disini. Butuh hampir berbulan-bulan untuk membuat mereka bahkan diri gue sendiri bahwa semua ini ada hikmahnya, Dan lagi, membuat mereka paham kalau pilihan inilah yang terbaik.

Ada lagi. Adaptasi dengan kelompok kelas baru yang gue pegang tahun ini. Dengan ketidaksiapan gue untuk meng-handle level baru ini, sampai perlu berbulan-bulan juga untuk adaptasi dengan level kelas yang baru. Bukan soal anak-anaknya, tapi kesiapan diri gue untuk membimbing mereka untuk ke tahap selanjutnya dengan hasil yang lebih baik.

Juga, harus adaptasi juga dengan partner kerja yang juga baru dan belum dapat 'klik' nya hingga hari ini. Ini adaptasi rekan kerja terlama bagi gue.

Lagi, adaptasi berkenalan dengan orang-orang baru, especially with man, yang setelah sekian tahun terbiasa sendiri, belum terbiasa ada yang nemenin atau bawel nanya ini itu sampai bikin gue pegel sendiri nanggapinnya. This is the hard things.

"Tapi, pinta Berkat terlebih dahulu, meminta agar semua menjadi lebih baik dan muncul hal yang lebih baik"

Seperti tiba-tiba mendapat pencerahan. Ubah cara pandangmu dan pinta berkat. Maka, gue berpikir lain. Ini bukan tahun Adaptasi terlama, tapi Tahun dimana Tuhan menantang seberapa kuat gue menahan semua tantangan yang diberikan.

Buktinya... ternyata gue kuat! Sampai akhir tahun pun, gue masih bisa melaluinya dengan lebih baik. Walau proses perjalanannya penuh tangis, dumelan, keluhan, seruan, kemarahan, kekecewaan, dan berbagai hal menyebalkan lainnya, tapi selalu saja ada orang-orang yang menghadirkan tawa, anak-anak yang selalu berhasil meraup seluruh sendu dalam sekejap, atau mereka yang terus mendoakan gue dari jarak jauh hingga terdekat sekalipun.

Ini tahun tantangan. Dan.. gue akan berhasil. Perlu terus berjuang agar lebih baik lagi.

Kira-kira akan jadi apa tahun 2017 nanti yaaa?? 😏😏🤔🤔

7 Agustus 2016

Berdiri Tega(r)K

Begitu turun dari sepeda motor, ia terburu-buru mengecup tangan ayahnya kemudian masuk lewat pintu samping. Ia tahu, bayangan dirinya sudah begitu jauh saat matahari menyoroti punggungnya yang memikul tas ransel yang berat. Dengan sedikit berlari, ia terus berharap pintu besi di dalam belum di tutup.

"Kepada... Bendera Merah Putih, HORMAAAAAAT.... GRAK!!"

Dia menghela kecewa. Teriakan pemimpin upacara menghentikan langkah dan membuatnya berdiri di sisi luar pagar terdalam dari sekolah.

"Nanti ya, setelah pengibaran bendera selesai," ujar satpam yang menjaga di sisi dalam pagar.

Dia hanya terdiam diikuti senyum kecut. Dalam hati, ia merutuki ayahnya sendiri karena terlalu 'lelet' untuk mengantarnya ke sekolah.

Sepuluh menit berlalu. Tumit pada kaki kanannya mulai terasa panas. Ia terbiasa menumpukan tubuhnya pada kaki kanan. Sejak kejadian itu membuat kakinya yang dulu paling dibanggakan, menjadi tidak sempurna lagi baginya.

Dia mengganti posisi berdirinya. Ia melatih kaki kirinya dan menumpukan tubuhnya pada kaki kiri.

Ah. Sekejap ia merasa sedikit lebih rendah dari posisinya berdiri semula. Ini dia. Alasan lain dirinya tidak suka menumpukan tubuh pada kaki kiri. Ia terlihat lebih pendek. Ya. Memang. Hanya terlihat pendek beberapa senti, tapi dia tidak suka. Ia lebih suka berdiri dengan kaki kanannya, sehingga ia tahu bahwa dirinya tetap tumbuh seperti anak lainnya.

Tapi kaki kanannya kembali menjerit kepanasan. Untung saja, pengibaran bendera selesai dan ia bisa menyelinap masuk diam-diam di barisan belakang siswa yang sedang mengikuti upacara.

Ah, barisan belakang selalu begitu. Terlalu santai. Bahkan mungkin tidak menganggap adanya upacara.

***

"Anak-anak, hari ini kita olahraga basket bebas. Silahkan cari kelompok dan main three on three," ujar Guru Olahraga yang menjadi idola seantero sekolah.

Bukan. Wajahnya tidaklah seperti artis Korea ataupun penampilannya yang necis. Dia hanya guru olahraga yang rendah hati, senang mengikuti perkembangan jaman waktu itu dan yang pasti, dia selalu ramah dan layaknya teman sendiri bagi para siswa. Tidak terkecuali dia.

Dia belum pernah bilang kalau kakinya tidaklah sempurna, karena ia takut nantinya akan di anak emaskan dan tidak diikutkan dalam beberapa kegiatan olahraga. Tapi, guru olahraga itu tahu.

Dia tidak melarangnya, tapi tetap mengingatkannya. Hingga ia terlalu bersemangat melempar bola basket dan kaki kirinya terkilir.

"Makanya, mainnya hati-hati. Main boleh, tapi harus tahu kondisi sendiri juga,"

Dia hanya diam sambil meringis menahan sakit saat guru olahraga itu mengurut kakinya.

***

Dia sudah lelah berlari. Sebenarnya karena mengantuk setelah ruang kelas yang berubah fungsi menjadi sebuah barak, di gedor habis-habisan oleh seniornya. Ini sesi terakhir.

Sebenarnya (lagi), ia benci akan sesi itu. Membuatnya harus berlari cepar, berulang kali, belum lagi akan hukuman push up ataupun banding yang harus ditemuinya di tiap pos. Hingga akhirnya ia meringis kesakitan, tepat di pusat luka.

Ia digotong pakai tandu dan di bawa ke ruang pengobatan. Secara tidak langsung, ia mencuri sedikit waktu untuk kembali tidur, dikala menahan rasa sakit yang menyerangnya. Sudah lama ia tidak merasa sesakit itu. Ia merasa tidak enak, tapi ia tetap benci sesi itu.

***

Ia menapaki sela-sela trek yang menanjak dan memerlukan kekuatan kaki yang cukup. Untungnya kegiatan itu masih dalam batas wajar, sehingga ia tidak perlu merasakan sakit. Ditambah sudah tidak adanya rangkaian besi di dalam kakinya.

"Asal jangan sampai kedinginan saja nih,"

Suara gemeletuk giginya seakan tidak mau kalah dengan suara talkie-walkie yang saling bersahutan. Untungnya udara dan langit malam itu cerah, sehingga bintang-bintang dapat menjadi temannya malam itu.

***

"Gue ngga bisa berdiri lama, tumit kanannya sudah terasa panas dan sakit,"

Dia masih disana. Berdiri tegak disana seusai menunaikan tugasnya sebagai pembawa firman. Walau kakinya masih terasa sakit, tapi ia tidak mau mengeluh. Ia selalu berusaha berdiri tegak, mengajak kakinya tetap bertualang. Mengarungi kerasnya hidup dan kenyataan.

8 Juli 2016

Jikalau semua orang di dunia memiliki kesempatan yang sama saat harus mengucapkan tolong, terima kasih, maaf dan selamat tinggal, mungkin tidak akan ada lagi penyesalan akan dunia ini.

Namun, hidup memang sekeras itu. Semua hanya berusaha agar dapat lebih baik serta melakukan yang terbaik...

4 Juli 2016

Call Charity #Special Marathon

"Kenapa namanya spesial marathon? Karena kegiatan ini merupakan perpanjangan tangan dari kegiatan pembagian sembako di Vihara Tj. Burung tgl 17 Juni yang lalu."

Jadi gini... Siang itu, gue dan teman-teman Call berinisiatif untuk melanjutkan kegiatan sosial kami, yang memang judulnya perpanjangan tangan dari sisa Bakti Sosial Di Vihara tempo hari.

Sebenarnya, ide ini memang sudah ada sebelum ada ide bakti sosial di vihara. Jadi, meluluskan ide dan melaksanakan mandat. #elaahh..

Kami kumpul disalah satu rumah, lalu dari sana kami menuju toko roti tempat kami pesan sebelumnya. Diikuti cuaca yang setengah mendung juga leher gue yang seret banget karena udaranya yang panas walau mendung.

Seusai air mineral diraih, kami menuju tempat salah satu teman kami lagi yang belum keangkut. Cuaca mendung kemudian berubah menjadi gerimis rintik-rintik. Tidak lama, gerimis berubah menjadi hujan deras. Sebuah tantangan yang cukup buat gue dan tim agak sedikit was was, pasalnya waktu sudah mepet ke waktunya orang-orang berbuka.

Sampai kami memutuskan untuk meneduh di suatu tempat, hujan semakin deras. Ah, nggak. Bukan deras lagi, ada sedikit badai angin yang walau gue bilang sedikit, cukup buat gue dan tim teriak-teriak panik karena takut akan terpaan angin dan hujan yang mengerikan. Beberapa kendaraan di belakang kami pun terpaksa memilih untuk berjalan perlahan dan memasang lampu hazard agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Beberapa meter dari pintu masuk tempat kami berteduh, sebuah pohon dan tiang tampak roboh diterpa angin. Selang 1 jam kami berteduh, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Mepet banget dengan acara bagi-bagi tajil kami.

Target utamanya adalah para pemulung, orang-orang yang terlihat kurang mampu dan membutuhkan yang bisa kami temui di pinggir jalan. Jujur, kami agak menghindari para pengamen di lampu merah karena takut diserbu seperti yang pernah gue alami beberapa hari sebelumnya. Sayangnya, pilihan target kami ini agak sulit. Karena efek hujan, serta jalanan yang macet dimana-mana, beberapa target yang biasa kami temui tiba-tiba menghilang seakan ditelan bumi. Mereka tidak ada ditempat yang biasa kami lihat biasanya.

Akhirnya dengan semangat yang tersisa, kami baru bisa menghabiskan sisa roti hingga langit hanya menyisakan cahaya bintang dan pendar lampu jalan. Walaupun masih banyak satu dua hal yang perlu dibenahi, kami masih bersemangat untuk misi kami berikutnya..

Kira-kira mau kemana misi berikutnya ya?
Just wait! And see you next project!

25 Juni 2016

Nama itu...

Nama itu...
Sebuah nama yang sangat umum
Bisa ditemukan dibeberapa tempat
Banyak juga yang punya kemiripa

Nama itu...
Pernah menjadi sebuah kata keramat
Sebuah nama yang pernah dihati
Berhasil membuatnya berdebar, meski hanya sepintas

Nama itu...
Pernah menjadi sebuah kata ternyaman yang di dengar
Sebuah nama yang mengingatkan kisah yang manis

Nama itu...
Juga yang mencabik isi hati
Menyisakan perih
Berbekas luka

Nama itu...
Sudah mau dilupakan
Namun hari ini, saat nama itu terucap lagi
Sebuah perasaan hangat menghampiri
Seakan lupa dengan luka

Nama itu...
Masih tetap di hati...

17 Juni 2016

Call Charity #2 - Berbagi Rasa Syukur

Haiii... Masih di project berbagi rasa syukur yang diusung oleh kami berempat, bernamakan... CALL!

Project kali ini kami ingin memeriahkan hari raya Waisak serta berbagi sembako untuk sedikit membantu warga sekitar. Target kami kali ini adalah Vihara dan agak diujung Tangerang, yakni Vihara Tj. Burung, Tangerang.

Agak kepinggir dari kota Tangerang, mengarah sedikit ke laut. Tempatnya juga beneran agak diujung, tapi hal itu tidak menyurutkan niat kami.

Setelah pengumpulan bahan sumbangan yang sedikit alot, dikarenakan masing-masing dari kami kebetulan sedang sibuk-sibuknya akhir tahun ajaran. Untungnya dapat berjalan dengan lancar.

Hari pelaksanaan jatuh pada hari Jumat, 17 Juni 2016. Tepat 2 bulan setelah baksos pertama. Jujur, kami memang tidak sengaja memilih tanggal ini karena memang hanya tanggal ini yang pas buat kami semua.

Berhubung jatuhnya hari kerja, otomatis kami juga di uber-uber dengan waktu. Proses penjemputan yang cukup krusial, serta tim logistik yang juga datang belakangan sambil diuber-uber sama telepon gue, akhirnya kami tiba tepat waktu.

Hujan yang mengguyur dadakan, juga tidak menghalangi niat kami. Untungnya hujan reda seusai kebaktian selesai dan tinggal penutup serta pembagian sembako.

Diawali dengan sepatah dua patah kata dari Gunardi, ditutup dengan doa penutup, dan dimulailah pembagian sembako. Warga yang menerima pun cukup teratur. Juga, para pengurus Vihara yang mampu mengorganisir pembagian sembako dengan lancar.

Diakhir pembagian sembako, sebuah plakat ucapan terima kasih kami berikan atas waktu dan kerjasama para pengurus Bio.

Terima kasih kepada Tuhan YME. Terima kasih kepada seluruh petugas yang bertugas. Terima kasih kepada para donatur. Terima kasih juga atas segala dukungan secara langsung dan tidak langsung.

Semoga kegiatan ini bukanlah akhir. Melainkan sebuah langkah baru bagi kami untuk tetap berbagi sebagai rasa syukur kami atas berkat selama ini. Dukung kami terus, agar tidak melupakan rasa syukur dan tetap rendah hati. Terima kasih semua.

Salam CALL!!

4 Juni 2016

Terlalu lama sendiri?

Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hatiBahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepiSampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus beginiAku harus berusaha tapi mulai darimana
Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiriSudah terlalu asyik dengan duniaku sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apaKu hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunyaWalau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus beginiAku harus berusaha tapi mulai dari mana
Sudah terlalu lama sendiriSudah terlalu lama aku asyik sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Sudah terlalu asyik sendiriSudah terlalu asyik dengan duniaku sendiriLama tak ada yang menemani rasanya
Jauh dlubuk hati aku tak ingin sendiri
*Kunto Aji - Terlalu Lama Sendiri
Just to appreciate myself for my loneliness. But, doesn't mean nothings. I'm alone but not lonely...

29 Mei 2016

Beda selera

Semalem, gue baru aja putar ulang film Decendants of The Sun, drama Korea yang lg ngehits di tahun ini. Padahal, gue baru saja kelarin itu film 2 hari yang lalu dan merasa belum puas dengan drama itu, mungkin karena ending yang memang menggantung, tapi jujur aja... gue suka.

Gue sempet tanya ke sohib tentang pendapat dia. Menurutnya, drama itu biasa aja. Ngga begitu mengena dan... ya gitu aja. Partner kerja gue yang penggila drama juga bilang begitu. Herannya gue, kenapa mesti gue putar ulang.

Beberapa list drama yang ada di laptop, biasanya ada beberapa yang gue putar ulang dengan alasan, kangen atau memang film nya bagus. Tapi ada juga film yang cuma gue tonton satu kali dan bahkan ada yang ngga gue tamatkan karena tidak sebagus janji-janji manis trailler nya.

Herannya lagi, gue sudah memutar ulang drama ini selang dua hari setelah tamatnya. Sekilas, gue jadi ingat akan drama Korea berjudul The King 2 Hearts yang menjadi film drama pertama kesukaan gue dan film itu juga yang sudah bosan gue putar ulang kesekian kali. Bukan karena pemainnya yang keren, tapi filosofi ceritanya yang mengena.

Temanya sama, Menjaga perdamaian dunia, dengan cara dan posisi yang berbeda. Dan, gue suka! Entah apa yang buat gue suka setengah mati dengan kedua film itu dan setelah suka film nya, gue jadi suka sama pemeran filmnya.

Lee Joong Ki, Song Hye Kyo...
Lee Seung Ki, Ha Ji Won..

Haha.. pemeran utama prianya namanya hampir mirip. Entah apa pendapat kalian tentang kedua film yang sebagian besar mempertontonkan aksi kemiliteran dan usaha diplomasi politik yang notabene mungkin memang terjadi di kehidupan nyata kita. Walau memang sama mereka di dramatisir. Wajarlah, judulnya kan drama.

Tapi, drama yang agak realistik itu menurut gue lebih menyenangkan dan menyegarkan. Setidaknya, dibalik setiap masalah pasti ada pria bling-bling yang siap mencuci mata. #ehhh #salahfokus

Daripada hidup kebanyakan drama, ngga salahnya kita lebih sadar dunia nyata bawa ngga selamanya hidup cuma drama yang melulu nangis dan jatuh cinta. Pasti ada waktunya untuk berjuang, untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk sesama, untuk masyarakat, bahkan seluruh dunia...

I love you., na na na na na na...
Only you,. Nana na nana... (gue ngga tau lirik soundrack nya, tapi itu enak.. serius!)

28 Mei 2016

Realisasi Anggaran CALL Charity goes to Panti Asuhan Mekar Lestari BSD


Hai guys... Setelah mendaki gunung dan lewati lembah, eh, setelah hampir sebulan pending. Akhirnya kelar juga ini laporan.

Gue, sebagai pemilik BLOG ini dan mewakili SEGENAP TIM CALL's CHARITY, mengucapkan terima kasih banyak atas segala kerja sama, bantuan, serta support dari semua donatur, teman terkasih bahkan sesama tim dan relawan sekalian. 

Tidak ada balasan yang lebih baik dibandingkan BERKAT yang melimpah kepada kalian semua sehingga acara pertama kami ini dapat berlangsung dengan meriah. 

Kami sadar, ini bukan akhir dari perjuangan kami sebagai anak muda untuk peduli kepada sesama. Kami sadar, ini adalah titik awal kami untuk semakin berbagi kepada mereka yang tidak lebih beruntung dari kami.
Kami sadar, kami masih harus berjuang untuk misi kami ini.

"Bangkitkan Semangat Mudamu untuk Peduli kepada Sesama!!"

27 Mei 2016

F4

Cauntion!
Postingan ini bukan berarti F4 versi Taiwan itu sudah tidak ada ya.. Mereka masih ada namun sudah sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing.

Buat teman-teman yang kelahiran era tahun 90-an, pasti tahu banget sama F4 versi Taiwan yang beranggotakan Jerry Yan, Vanness Wu, Ken Zhu dan Vic Chou. Dulu, sebelum jaman boyband versi Korea ataupun versi dalam negeri yang jingkrak-jingkrak ngga jelas, otak gue sudah terdoktrin bahwasanya sebuah boyband itu ngga harus jago dancing, yang penting tampang kece dan lagu khas yang selalu berhasil bikin gue kangen sama mereka.

Gue masih inget saat F4 itu baru pertama kali keluar dan booming banget, saat itu gue masih imut-imut, duduk di bangku sekolah kelas 5 dan sudah membayangkan mempunyai seorang kekasih setampan Jerry Yan! #ngarep
Anak-anak dijaman gue, memang tersihir akan ketampanan mereka namun kami tidak lantas menjadi alay dengan latah membuat boyband seperti mereka ataupun bergaya seperti mereka. Well, kalo soal bergaya sih sebenarnya sah-sah saja sih, hanya mungkin ngga lebay seperti jaman sekarang.

Saking terkenalnya F4 dulu, bahkan di depan sekolah gue dulu ada yg menjual kartu-kartu permainan yang bergambarkan si artis ganteng. Secara, dulu internet itu barang mahal. Jangankan internet, ketemu komputer seminggu sekali saat pelajaran komputer saja sudah mending. Apalagi harus mencari foto mereka yang guanteng dengan gratis. Dulu bayar! Sekarang, muka Jerry Yan bisa gue donlod sampai kuota habis pun mudah banget!

Ada juga kala info si F4 akan berkunjung ke Indonesia merebak, mungkin seluruh fans F4 mati-matian buat dapat tiket untuk meet and greet. Berhubung orang tua gue ngga punya pohon emas, gue akhirnya hanya bisa menatap mereka dari kotak bernama televisi. Bahkan, gue juga belajar tulis surat pakai bahasa Inggris yang kalau dilihat tata bahasanya itu menyedihkan! Tapi, gue beruntung karena ngga jadi kirim itu surat, secara dulu si Jerry Yan kagak bisa bahasa Inggris. Huahahaha.. Ngomong ama alien gue nanti!

Walaupun sekarang nama mereka sudah meredup dan kilau cahaya mereka sudah menghilang, F4 tetap selalu bisa menjadi obat rindu akan masa-masa lalu yang kini hanya bisa kita kenang. Dimana kenangan akan cinta masa kecil gue yang benar-benar kayak monyet... #ehh
Atau, tentang lagu-lagu mereka yang berhasil membuat gue mencintai dunia bahasa dari segala sisi. Sisi cinta, sisi kenangan dan... sisi rindu. #eaaa #baper deh...

In the last, I would like to say thank you very much for Jerry Yan, Vanness Wu, Vic Chou and Ken Zhu, whose make my world very wonderful that time. I could not imagine, if i could not know them as a part of my love story. They have been inspiring me, from their song and of course their face look. Hahaha.. I have imagined my future boyfriend that time. And I still remember it.

Thank you for all of you, to make my life is more colourful and cherries because of your songs, stories and handsome faces. Hahahhaa..

I miss your performance so much, I love "Ti I Se Cien" song until now, and I keep singing when I listening the "Cing Fe Te Yi"..

Sincerely yours,
From your big Fans but cannot do more...
Cha!

16 Mei 2016

Puncak Bromo #KW1

Gue belom pernah menjajaki di puncak gunung Bromo atau sekedar kota Jawa Timur yang menaungi gunung keren tersebut.

Tapi keinginan gue melihat samudra awan memang sudah tidak terbendung. Untung saja waktu ikutan LDK Komsos tempo hari, gue memiliki kesempatan langka tersebut.

Eh tunggu. Acara LDK bukan di Bromo, guys. Tapi di Cijeruk, Bogor. Mendapat julukan kota Hujan, hari pertama langsung dihadiahi hujan deras hingga sore. Untungnya hanya sampai disitu.

Besok paginya, setelah melawan rasa kantuk serta keengganan beranjak dari kasur, gue dan tim PBjourney maksa pergi ke salah satu tempat tertinggi di lokasi gue menginap. Di kedalaman hutan Gunung Salak, gue menjajaki hutan liar dan berujung pada suatu lapangan luas dengan sebuah bangunan bekas pabrik di atasnya.

Tidak ada yang tinggal disana, suasana benar-benar hening dan serasa private mountain. Dari atas bangunan pabrik, terpampang jelas lautan awan diiringi cahaya keemasan dari matahari yang beranjak dari peraduannya dengan sedikit malu-malu.

Disisinya, Gunung Gede Pangrango menjulang tinggi melintasi samudra awan, menemani sang surya keluar dari tidurnya.

Cahaya keemasan yang langka tadi ngga bakalan gue lewatkan begitu saja. Bermodalkan kamera handphone dengan fungsi HDR, gue akhirnya berhasil menangkap sebuah gambar yang selama ini cuma bisa gue iri-in sama orang-orang yang foto keren kayak gitu.

Tapi satu hal yang gue akui. Entah dimana kita berasa, kebesaran dan kemegahan Tuhan Semesta Alam memang tiada duanya. Hanya Dia. Iya.. DIA.

Hello, Sunrise...

4 Mei 2016

Seminar Parenting BIA: "Stop Bullying Pada Anak..."

"Weh, pedok lu!" teriak anak laki-laki bertubuh gempal sembari menyeringai.

"Eh, jangan dekat-dekat sama dia. Hati-hati!" bisik anak lainnya saat seorang siswi lewat di depan mereka.

Anak perempuan itu tampak biasa saja, anak SD normal seperti biasa. Hanya satu yang tidak biasa. Cara anak itu berjalan, sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Karena peristiwa itu...

Sebelumnya anak itu paling bersemangat saat pelajaran olahraga. Ia punya fisik yang kuat, bisa melakukan beberapa gerakan yang anak perempuan lain belum tentu bisa lakukan. Karena peristiwa itu, ia harus mendispensasikan dirinya sendiri dari hal yang disukainya.

"Ini tongkat buat apa? Kayak buat mendayung perahu," ujar seorang guru, mungkin bergurau namun semua berawal dari sana.

***

Hai! Potongan kisah diatas bukanlah fiksi. Melainkan sebuah kisah nyata dari seseorang yang kini terbebas dari rasa minder, malu dan kurang percaya diri. Bahkan mampu bertahan dari terpaan bullying sejak dini.

Melihat pengalaman diatas, gue merasa perlu untuk mengangkat topik ini pada acara seminar yang memaksa gue jadi ketua acaranya.

Dibawah naungan organisasi Bina Iman Anak Paroki HSPMTB, Seminar Parenting dengan tema "Stop Bullying pada Anak" berhasil dilaksanakan.

Tepat pada hari buruh, 1 Mei 2016, tim BIA mengadakan seminar parenting dengan mengundang para orangtua yang memiliki anak dan ingin mendapatkan edukasi tentang bullying. Dari pengertian, tanda-tanda korban dan pelaku, serta cara mengatasi bullying pada anak.

Memang, awalnya hanya sekedar becandaan namun lama kelamaan menjadi kebiasaan dan sekarang malah menjadi budaya. Apakah budaya kita membully sudah merebak?

Ms. Marlia, selaku pembicara menjelaskan hal-hal sederhana dan contoh bullying yang ada di sekitar kita. Juga, Rm. Dismas menambahkan dengan memberikan solusi rohani bagi anak-anak yang secara tidak langsung menjadi korban dan pelaku bullying.

Acara ditutup dengan pemberian plakat dan pembagian sertifikat bagi peserta.

***

15 tahun kemudian,

Anak tadi berdiri di depan orang-orang yang tengah mendengarkan sambutannya siang itu. Dihari itu. Ia berhasil membuktikan pada dirinya bahwa dirinya berharga dan tidak ada yang spesial seperti dirinya. Dia adalah dia.

Masih berupaya dan berdoa untuk terus berdiri diatas kaki sendiri. Berulang kali lagi menghalau semua yang membully kekurangannya.

28 April 2016

"Bukannya aku takut akan, kehilangan dirimu. Tapi aku takut kehilangan Cintamu.." Juliet-Bukannya Aku takut

Hari gini masih nge-baperin orang yang bahkan ngga mikirin balik kita... Sedih rasanya, karena bukan kehilangan orangnya, kehilangan cintanya..

27 April 2016

#2 Call Charity : To be Thankful

Acara Baksos yang gue dan kawan-kawan Call's usung, akhirnya terlaksana juga di tanggal 17 April kemarin itu. Dari pagi, cuaca juga sudah cukup mendukung untuk terlaksananya acara ini. Matahari serta awan-awan seakan ber-arak mengiringi perjalanan gue dan kawan. Kali ini kami dibagi menjadi 2 tim, dengan 2 kendaraan yang berbeda. Maklum, barang bawaan kebanyakan dan hampir full di masing-masing mobil belum termasuk penumpang.

Gue, kebagian untuk persiapin makan siang untuk para pengasuh yang ada di panti asuhan... Meskipun harus merelakan jam tidur malam serta bermandikan keringat, setidaknya gue bersyukur karena berhasil mewujudkan misi ini.

Tepat pukul 05.30, Christin dan Dewe tiba di depan rumah gue. Mereka nangkring manis dari dalam mobil sementara gue masih beberes seusai cucian pagi. Setelah mengangkut semua barang bawaan serta pamitan sama orang rumah, jam 06.00 kami berangkat menuju TKP. Oh ya, kami ke titik kumpul dulu deh. Belum ke Panti Asuhannya karena ada satu rombongan lagi yang berniat ikut bareng kami semua.

Titik kumpul kami di Mcd Alam Sutera. Tepat 1 jam setelah keberangkatan dan tim sebelah juga belum sampai ternyata. Beberapa belas menit menunggu, tim kedua tiba dan para tim berlatih nyanyi sebelum eksekusi di TKP. Selang tiga puluh menit, tim ke tiga tiba. Tanpa tunggu lama, kami langsung berangkat ke TKP benerannya kali ini.

Tiba di TKP, kami disambut oleh beberapa pengurus panti yang berseragam suster biarawati. Selagi menunggu anak-anak panti kumpul, semua barang bawaan di turunkan dan persiapan acara pun selesai.

Anak-anak berkumpul. Acara siap dimulai! Diawali dengan pujian pembuka, doa pembuka dan puji-pujian bersama anak-anak panti. Berikutnya, acara diisi dengan penampilan dari anak-anak panti. Mereka berbakat loh gais!

Dari yang dancing sambil pake hula hoop (gue aja ngga bisa), ada juga yang ala-ala Maikel Jackson, ada juga yang grup ala-ala India. Gue dengan dua teman gue seakan terbawa dan ikutan berjoged.

Anak-anak di Panti Asuhan Mekar Lestari BSD ini, berasal dari muda mudi yang hamil di luar nikah. Menurut penuturan Suster Kepala disana, beberapa diantara mereka ada yang pernah mau di gugurkan, namun diminta agar tetap dilahirkan dan dititip disana. Ada juga yang sekedar titip, tapi tidak kembali lagi. Miris memang. Tapi itulah kenyataan.

Back to event. Usai performance, anak-anak diajak bermain permainan mencari dan menghias telur sesuai dengan kelas mereka. Diakhir permainan, tentu ada pemenangnya ya. Tapi, ada satu hal yang menggelitik gue.

Mereka sudah bisa menerka siapa saja yang mungkin akan menang, tapi mereka bersaing dengan sehat. Menghargai kemenangan kawan mereka sendiri. Lagi, saat hadiah pemenang diberikan, dengan sukarela dan cepat mereka bisa berbagi dengan sesama diantara mereka. Tidak iri-irian dan benar-benar berbagi. Walau ya, rebutan memang tetap ciri khas anak-anak.

Usai bagi hadiah pemenang. Tiba waktu kami untuk tampil. Bernyanyi mempersembahkan hari itu dan bersyukur atas acara tersebut. Terakhir, sebuah goodie bag menjadi persembahan terakhir bagi anak-anak.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih teman. Terima kasih para donatur. Terima kasih kalian semua yang membantu secara langsung dan tidak langsung.

Semoga kegiatan kami ini tetap bisa menjadi perpanjangan tangan atas berkat Tuhan yang mampu kami bagikan ke tiap sesama manusia.

Salam Call!

25 Maret 2016

#Happy25

Gue masih inget saat jaman SMP, saat teknologi belum secanggih sekarang. Dulu sudah ada ponsel dan benda itu sudah jadi benda mewah dan keramat kala itu. Gue ngga harus punya, tapi kalau ngga punya gue mati gaya. Maklum, alay jaman dulu.

Ponsel model antena dan yang terkenal adalah merk NOKI*, sebelum negeri S*msung menjajah dengan ponsel layar sentuhnya.

Berhubung ponsel itu barang mewah, otomatis aksesorisnya juga ikutan menyita cukup banyak uang jajan gue kala itu. PULSA! Untungnya gue bukan orang yang suka gonta ganti nomor, jadi cuma satu dan masih inget sampai sekarang walau nomornya sudah hilang entah kemana.

Setelah pulsa, otomatis fitur-fitur berikutnya mengikuti, misalnya SmS dan Telepon. Dulu belom ada fitur chat kayak sekarang dan biaya telepon ke ponsel pun lebih mahal ketimbang telepon di telepon umum. Pilihan terakhir, tinggal SMS. Murah bahkan kalau kirim 10 SMS bisa gratis berapa kalo gitu.

Selain jamannya ponsel merebak, jaman SMP juga jamannya Cinta Monyet bersemi. Bahasa Inggrisnya mah Puppy Love (monyet sama puppy, wkwkwk). Jamannya kenal-kenalan lewat sebar-sebar nomor telepon, bahkan gaya-gaya salah kirim SMS, padahal emang ada udang dibalik bakwan.

Dulu pernah kenalan sama orang dan beberapa tahun kemudian gue ketemu lagi sama doi. Hebatnya, gue ngga ngenalin itu orang. Pernah gue ceritain di bintang FTV.

Nah, ada juga yang kenalan namun sudah berumur. Kala itu, gue masih sekolah kelas 2 atau 3 SMP gitu. Orang yang dimaksud sudah berumur 27 tahun dan gue reflek, "ih tua amat!"
Sementara lawan SMS gue membalas dengan enteng "ah, 27 mah masih muda."

Saat itu gue ngga sadar dan masih bersikukuh bahwa kepala 20 merupakan sebuah neraka yang membawa gue pada sebuah masa yang disebut berumur atau kasarnya "TUA".

Waktu berganti, gue pun lupa akan refleksi ucapan gue tempo hari. Hingga sepuluh tahun kemudian, ya, hari ini gue menyadari, sudah lima tahun berjalan menikmati masa-masa umur kepala dua. Gelinya, tidak terbesit dipikiran gue bahwa umur sekarang itu bisa digantikan dengan kata "TUA". Oh tidak. Gue masih muda.

Gue pun tersadar, di masa "kepala dua" inilah gue merasakan kejayaan akan bidang-bidang yang gue jalani. Dimasa-masa inilah gue mengecap manis pahitnya hidup agar dapat direfleksikan lagi kepada yang lebih muda.

Terlebih, dimasa-masa inilah gue harus menentukan masa depan gue. Walau masih bisa gue rubah, tapi disinilah titik balik akan kesenangan dunia yang selama dua puluh tahun gue nikmati.

Disinilah gue harus berdiri diatas kaki gue sendiri. Disinilah juga, gue harus membuktikan pada diri sendiri untuk bisa jadi yang dibanggakan oleh diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

Jadi, sekaranglah baru dimulai. Jalan hidup gue baru dimulai lagi disini. Dititik ini. Puncak 25.

9 Maret 2016

Hanya karena matahari dan bulan bisa bertemu sekian tahun dalam satu kali,
Hanya karena matahari dan bulan hanya bisa bertemu hanya dalam beberapa menit,
Bukan berarti butuh waktu yang singkat untuk dapat hanya melihatmu dalam beberapa menit.

Hanya karena seekor ulat memerlukan waktu yang lama untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah,
Hanya karena seekor kupu-kupu hanya perlu waktu beberapa minggu hingga waktunya berakhir,
Bukan berarti waktu untuk melupakanmu hanya cukup dalam beberapa minggu.

~Luiza Cha~ April 9th, 2016

2 Maret 2016

#WishList25

Oalaaaaa.... Sudah bulan Maret lagi aja... Bentar lagi... Bentar lagiii.... Bentar lagi gue akan memasuki usia yang sudah hampir seperempat abad. Siap-siap pertanyaan "Kapan Nikah?" itu muncul!

Mari lupakan sejenak tentang teror "Kapan Nikah?" diatas. Sekarang waktunya gue untuk memberikan list buat kalian yang kepengen ngasih gue kado. *ciee elaah.. *PEDE!!!!* wakakakakakakaak!!

13 Februari 2016

Celebrate February!!

Bulan Februari. Biasanya orang-orang akan bilang bulan ini adalah bulan kasih sayang. Pasalnya, sebuah perayaan mengenai hari kasih sayang sedunia itu berada pada bulan ini. Ya, Februari.
Buat gue, selama dua tahun terakhir ini, bulan Februari menjadi sebuah bulan yang penuh perayaan. Seperti biasa, bukan hanya sebuah perayaan hari kasih sayang sedunia yang dirayakan, tapi ada perayaan lainnya. Yakni, perayaan imlek bersama.

8 Februari 2016

Happy Chinese New Year...

Salam Hangat Tercihuy dari Redaksi LuizaCha Blogspot!

Happy Chinese New Year 2016!!
Gong xi... Gong xi...

5 Februari 2016

Sampai Kau Jadi Milikku

Kau tau sejak pertama bertemuTerbayang senyum indah di matamuKau berikan tatapan cinta untukkuJatuh cinta, ku jatuh cinta
Rindu terasa mengancam dadakuSaat kau selalu hadir di mimpikuHati jiwaku selalu memanggilmu kasihku
Ku cinta kau, ku cinta kauHanya kamu di hatikuTakkan pernah kan tergantiSampai kau jadi milikku
Sampai kau jadi milikkuKaulah cinta sejatiku
Rindu terasa mengancam dadakuSaat kau selalu hadir di mimpikuHati jiwaku selalu memanggilmuOh kasihku
Ku cinta kau, ku cinta kauHanya kamu di hatikuTakkan pernah kan tergantiSampai kau jadi milikku
Sampai kau jadi milikkuKaulah cinta sejatiku
Hal itu mungkin takkan mudahTapi ku takkan menyerahKarena jiwa ini, raga ini memanggil namamu
Kau tau sejak pertama bertemuKu jatuh cinta
Sampai kau jadi milikkuKaulah cinta sejatiku
Sampai kau jadi milikkuKaulah cinta Sejatiku 
Lirik Song - Judika ~ Sampai Kau Jadi Milikku!
Masih dan akan tetap seperti itu. Masih memiliki perasaan itu, masih merasakan hal itu dan akan tetap seperti itu. Hingga memang kita memilih takdir kita masing-masing. Entah, menjadi KITA atau tetap sekedar KAMU dan AKU. 

19 Januari 2016

Ditolak!!

"Dengan ini, kami beritahukan bahwa naskah yang saudara kirim belum dapat kami terima. Terima kasih atas partisipasinya dalam mengirimkan naskah. Teruslah berkarya, kami tunggu karya selanjutnya..."

*Hujan badai turun.... *Petir menggelegar...
Jegarrr.. Jegerrrrr...
ditolak.png (300×190)
Ada kesalahan di dalam gadget ini