14 November 2015

Din.. Din... Klakson

Tau nggak sih, sejak jadi pengendara mator selama dua tahun terakhir, gue mulai memiliki alergi tersendiri untuk beberapa hal saat berkendara. Contohnya cerita tentang lampu sein tempo hari. Rasanya kepengen banget buat para pengendara lain, termasuk gue untuk mampu mengingat untuk mematikan lampu sein setelah digunakan. Gue beberapa kali ditegor orang-orang saat tidak memberikan lampu sein sebelum berbelok. Sayangnya, gue takut lupa dan malas untuk menyalakan lagi.

Kali ini, gue merasa ada keganjilan akan tingkah gue dengan klakson. Contoh paling jelas misalnya saat di lampu merah, gue tanpa saar pasti menekan klakson pertanda sudah lampu hijau. Awalnya karena ikut-ikutan, sekarang jadi kebiasaan. Bahkan saat gue berhenti paling depan pun gue kasih klakson. Kan aneh!
pinjam
Tapi yang paling aneh lagi, saat seseorang pengendara motor yang dibelakan motor gue membunyikan klakson berkali-kali meminta gue dan pengendara di depan gue untuk segera beranjak dari tempat kami berhenti sejenak. Yang buat gue kesal adalah pengendara itu nggak sadar kalau gue juga stak, nggak jalan. Bukan berarti nggak ngasih jalan. Huh!

Ada lagi, tentang pengendara yang suara klaksonnya udah kayak radio kusut, tapi terus-terusan bunyiin klakson. Sementara, jalanan di sisi kanan gue lega dan dia bisa nyalip sesuka hati dia. Sudah klakson tanpa henti, tapi nggak nyalip-nyalip.

Ada lagi juga, tentang klakson mobil tronton yang tiba-tiba mengagetkan gue. Anehnya, gue nggak tersinggung. Justru tertawa karena sempat-sempatnya kaget, meski lagi macet-macetnya jalanan. Kadang, gue merasa beruntung pada mereka yang suka klakson sesuka hati karena mengingatkan gue agar lebih berhati-hati saat berkendara. Tapi terkadang, hal sebaliknya itu yang nggak gue suka. Hufft..

1 komentar:

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini