23 April 2012

Ada pelangi dibalik derasnya hujan..

''Pelangi,pelangi.. Alangkah indahmu.. Merah kuning hijau.. Dilangit yang biru..''
1325728543411229646
Sepotong lagu pelangi tersebut menginspirasiku untuk menulis sedikit pengalamanku kemarin sore. Kemarin, ketika aku hendak bergegas menuju kampus untuk mengikuti ujian UAS, ternyata hujan deras menjadi penghalang saat itu. Awalnya begitu keluar dari kantor, tidak ada rintik hujan, hanya ada segumpal awan hitam yang siap menelan langit biru. Namun sempat terheran juga karena di sebagian langit tidak ada setitikpun awan hitam melainkan sosok matahari yang bersinar begitu gagah. Melihat faktor itulah yang membuat saya meyakini bahwa hujan akan datang nanti malam, bukan sekarang.
Aku melenggang terus menuju parkiran motor menghampiri ayahku yang sudah menunggu untuk mengantarkanku ke kampus. Begitu motor meinggalkan parkiran, -/+ 1km, hujan rintik-rintik mulai turun. Intensitasnya tidak begitu besar jadi hujan 13257287382127160849di
terobos terus mengingat waktu semakin sore. Namun, semakin diterobos, hujan semakin deras. Seakan diguyur oleh sang Empunya langit, tanpa petir, tanpa angin, dengan sinar matahari yang mentereng. Benar-benar seperti di guyur air mancur.
Akhirnya ayahku menghentikan sebentar motornya untuk menunggu hujan agak reda. Kami berhenti dibawah pohon, tempatnya di depan gerbang Lapas Wanita di Tangerang. Kebetulan ayahku ada pelayanan gereja juga tiap minggu disini. Ayahku menunjuk sebuah monumen di depan Lapas tersebut yang letaknya agak kedalam dari pintu gerbang. Bisa terlihat dari jarak yang lumayan jauh, ternyata penjara untuk wanita tersebut sudah ada sejak tahun 1877. Satu hal yang bermanfaat sekali buatku.
Sembari menunggu hujan berhenti, aku melihat keadaan sekitar Lapas, cukup asri dan hijau untuk ukuran Lapas. Bahkan 1325728989747966110menurut saya sangat rapi dan hijau. Yang membuat saya terpanah lagi, hujan yang turun seperti guyuran air tersebut terlihat sangat anggun dibawah sinar matahari dan berlatarkan pohon besar. Aku hendak mengambil foto dari kejadian itu. Sangat indah!
Sayangnya kamera ponselku tidak secanggih kamera DSLR (bener gak ya nulisnya?). Jadi yang nampak hanya pantulan cahaya dan pohon besar yang seperti terlihat disamping. Sebenarnya bila bisa di foto, pasti akan lebih jelas menjelaskannya.
Hujan tetap tidak kunjung reda. Akhirnya ayahku memutuskan untuk memakai jas hujannya walau akan tahu bahwa arah yang kami tuju tidak akan turun hujan melihat matahari yang bersinar gagah menyaingi hujan.
Sesaat ku memandang ke arah kiri, aku melihat sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan. Disela-sela hujan dan matahari, muncullah sang pewarna langit yaitu Pelangi.
13257285434112296461325729082532832082
Sebenarnya ada 3 lapis. Lapisan pertama agak lebih besar namun agak redup. Lapisan kedua lebih kecil namun sangat terang. Terakhir lapisan ketiga yang lebih redup dibandingkan lapisan pertama. Aku segera kembali mengambil kamera ponselku dan memotretnya. Sayangnya lagi hanya lapisan ke dua yang berhadi aku ambil karena lapisan pertama dan ketiga begitu redup.
1325729385877596039Saat ayahku sudah memanggil untuk berangkat kembali, rasanya tidak ingin meninggalkan keindahan sore itu. Aku sempatkan juga memotret anak-anak yang sedang asyik bermain bola di lapangan kiri Lapas yang luas walaupun hujan terus mengguyur tempat itu.
Pemandangan tersebut benar-benar menyejukkan hatiku yang tegang karena ujian. Sepanjang perjalanan, pelangi tersebut selalu terlihat, namun hanya tersisa lapisan kedua karena sisanya sudah hilang karena hujan pun menghilang.
Prediksi ayahku benar, ditempat tujuan kami tidak hujan sama sekali. Aku memandangi pelangi tersebut hingga aku tiba di kampusku. Aku pun merasa (atau memang cuma perasaan kali yaa..) kalau pelangi tersebut menemani perjalananku sampai di kampus. Karena begitu aku sampai di kampus yang terlihat hanya sisa-sisa kemilau warnanya yang semakin pudar dimakan waktu yang semakin sore dan menghilangnya sang air alam.
Rasanya tidak cukup satu halaman ini untuk melukiskan betapa indahnya ciptaan Tuhan ini.. Walaupun hujan terus mengguyur, sang matahari tetap melawannya agar segera menghilang dan pelangi pun menjadi tanda bahwa tak akan ada lagi hujan setelahnya.
Seperti sepenggal lagu rohani ini, ''seperti pelangi sehabis hujan, itulah kasih setiaMu ya Tuhan''..
Mungkin cerita ini sedikit kekanak-kanakan, namun mengagumi indahnya dunia ciptaan Tuhan dengan segala baik dan buruknya menurut saya merupakan hal yang wajar. Sehingga pantaslah bila alam yang indah ini dikagumi oleh semua mahluk yang menempatinya.
Sekian.. Semoga terhibur dan terinspirasi. Salam 3G! :)
1324527705568318716

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini