23 April 2012

Benang merah..


 Benang merah..
Merah, warna yang melambangkan keberanian, ketangguhan dan kekuatan.
Merah juga warna yang melambangkan kesejahteraan dan kebahagiaan serta kemakmuran.

Dalam tradisi Tionghoa, merah melambangkan rezeki yang melimpah saat menyambut tahun baru.
Itu juga alasan mengapa tahun baru Cina selalu bercirikan warna merah.

Benang merah biasa dipakai untuk menutupi pakaian yg khususnya berwana merah. Selain itu benang merah sering ditujukan kepada jodoh.

Konon, masing-masing dari jari kelingking kita sebenarnya sudah diikatkan kepada pasangan kita masing-masing. Namun benang tersebut tidak terlihat oleh kasat mata atau itu hanyalah mitos.

Sayangnya, mitos benang merah itu ada benarnya juga. Untuk masalah perjodohan misalnya, Tuhan sudah mengaitkan benang merah kita kepada pasangan kita masing-masing jadi sekeras apapun kita berusaha mencari tapi tidak juga ketemu, kelak pasti akan dengan sendirinya.

Karena, si pemilik benang ujung satunya pun ikut mencari ujung benang yang mengaitkan dirinya. Kedua orang yang saling mencari tersebut akan bertemu ditempat dan suasana yang tidak akan pernah ada yang tahu bagaimana.

Aku..
Aku percaya hal itu. Seperti Bapa yang sudah menyiapkan sesuatu yang indah bagiku untuk hal tersebut. Mungkin, benang merah yang kutarik sekarang bukanlah benang merah yang kucari. Ia benang merah milik orang lain. Aku harus rela serela-relanya melepaskan dirinya karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa memaksakan menyatukan benang merahku dengannya.

Akhirnya aku kembali sendiri, merasa letih untuk menarik kembali pasangan benang merahku. Aku hanya ingin menunggu siapa pemilik ujung satunya dari benang merah yang ada di kelingkingku saat ini.

Mungkinkah dia teman yang akan bertemu tiba-tiba tanpa pernah kenal sebelumnya?
Ataukah mungkin teman lama yang sudah lama tidak bertemu?
Atau bahkan musuh yang paling aku benci sedunia yang memegang benang satunya lagi?

Entahlah, kuserahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Satu harapanku, saat aku berhasil menemukannya, aku harap saat itu aku dapat menggoreskan sebuah titik lalu menarik lurus garis tersebut tanpa terputus sampai Tuhan yang memutuskannya. Walau harus melengkung, zigzang ataupun yang lainnya.

I hope so.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini