13 September 2015

Anak Kecil

Biar anak-anak datang kepadaku... Itu sabda Yesus, Dia memanggiku...

Huffttt.. Ternyata gue baru sadar kalau sekarang sudah tidak lagi muda. Namun, gue paling suka sama anak kecil. Mereka terlalu imut untuk tidak di sayang, terlalu mubazir untuk tidak di godain, terlalu sayang untuk tidak memeluk mereka. Maklum, bawaan kerjaan yang jadi kebiasaan.

Anak-anak pada umumnya, merupakan masa-masa paling menyenangkan menurut gue. Setelahnya barulah masa remaja yang penuh kenangan. Jujur saja, siapa yang bisa mengingat dengan jelas kehidupan masa kecilnya secara terperinci? Gue juga sebenarnya nggak begitu ingat akan masa kecil gue. Hanya kenangan tertentu saja yang memorable berhasil gue ingat. Itu pun tidak banyak. Saking banyaknya kenangan yang tercipta, semakin sulit juga yang bisa diingat. Tapi itulah yang menyenangkan dari anak-anak.

Gue hidup untuk hari ini. Susah, senang, sedih, bahagia, terjadi hanya untuk hari itu saja. Besok? Beda lagi ceritanya. Hari ini diomelin ibu guru, ortu yang marah-marah atau senang mendapat rejeki nomplok entah dari mana, semuanya hanya bisa disimpan disalah satu sudut ingatan. Hanya bisa tersimpan rapi tanpa perlu dibuka lagi.

Begitu juga dengan persahabatan. Anak-anak murid gue disekolah contohnya. Mereka berantem, rebutan, nangis, pukul-pukulan, setelah itu? Selesai sudah. Setengah jam kemudian, mereka bersahabat lagi. Juga, mereka bersenang-senang, bergembira, besoknya sedih lagi, ya sudah. Berhenti sampai disitu. Mereka kembali berteman. Nggak peduli apa yang pernah terjadi sebelumnya.

Gue juga maunya begitu. Sayang, semakin gue besar dan dewasa, jiwa manusiawi gue sedikit demi sedikit mengelotoki jiwa polos anak lugu masa kecil itu. Selain itu, pengertian gue juga semakin dewasa. Bahkan, sekarang pun gue sudah bisa ngomong "sepuluh tahun yang lalu" atau "lima tahun yang lalu", dan nggak kebayang kalau ternyata sudah banyak waktu yang terlewati.

Gue maunya tetap seperti anak kecil yang meskipun kami bertengkar hebat, hingga nangis sekalipun, tetap masih ada ruang dimana kami bisa berbaikan, tertawa bersama serta menangisi kebodohan masing-masing atas waktu-waktu yang sudah terlewat.

Ah... andai saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini