7 September 2015

MTA Chapter 4 ~ The Defense

D-day!

Sebulan lebih setelah pengumpulan skripsi, anak-anak mahasiswa tingkat akhir masih harus menunggu keluarnya jadwal sidang. Berhubung fakultas gue itu punya jatah sidang paling akhir, jadinya gue dan kawan-kawan baru di kabarin di akhir-akhir bulan. Jadilah, 5 hari sebelum sidang dihadapi, gue dan kawan menerima telepon dari kampus mengenai kostum, persiapan yang harus dibawa dan gimana-gimana sisanya.

Sejak di umumkannya jadwal sidang, gue sama tim geng-gong bela-bela ngadain simulasi singkat mengenai sidang nantinya. Kita juga sampai harus meminta bantuan dari para alumnus kampus demi lancarnya gala sidang kali ini. Bahkan, Lisbet -sohib gue- pun masih berpusing-pusing ria tentang , slide presentasi serta penyampaian materi saat di uji nantinya. Saat itu hari minggu gais, sementara doi dapet jadwal sidang hari senin. Mepet? Mepet! Secara 3 hari sebelum hari H baru dikabarin. Melihat reaksi doi yang ketar ketir, makin membuat gue serasa di kocok-kocok. Ditambah, gue sepertinya mulai menghadapi sindrom tegang.

Belum kelar sampai disitu. Senin, para peserta sidang yang kebagian jatah hari pertama sudah banyak yang pajang foto kelulusan pasalnya hasil sidang langsung diumumin hari itu juga. Sementara gue, masih dipenuhi ketar-ketir goyang dombret di seluruh jjiwa raga gue. Ditambah lagi -nambah mulu-, sakit perut yang gue alami dari hari minggu sore ternyata berlanjut di hari senin dan badan gue mulai meriang. Tereeeeng...

Senin malam harus gue lalui di rumah anak les gue dan berakhir dengan merinding disko disekujur badan. Tanda-tanda sudah tidak enak bodiii... Besoknya, giliran Itin yang sidang. Mendengar doi sudah kelar dan lulus, plus cerita Lisbet saat ia berbagi kisah pas di sekolah, makin buat gue gemetar. Serius, gue nggak enak badan beneran dan lagi-lagi ditambah hal yang tidak enak tadi.

Selasa malam, meriang melanda. Mantap bener deh. Gue hari itu memang sudah memutuskan untuk tidak mikirin sidang, tidak sentuh bahan presentasi gue, fokus istirahat dan tidur lebih awal. Sayangnya badan gue tampak memanfaatkan ketidakberdayaan kondisi. Makin larut, makin tdak bisa dikendalikan. Awalnya, gue pikir cuma meriang biasa. Rupanya berlanjut hingga keesokan harinya.

Pagi menuju kampus, badan serasa melayang saat bawa motor. Angin yang menerpa kulit serasa menusuk tajam-tajam. Ada lagi, saat harus menunggu giliran makin buat gue semakin tidak berdaya. Tapi gue harus bertahan. Gue pikir tidak akan ada kesempatan lagi untuk mengulang. Dan, gue nggak mau mengulang di detik terakhir.

Puji Tuhan, gue melalui proses sidang dengan lancar. Walau penuh perdebatan dan helaan pasrah pada penguji, hasil yang diperoleh cukup membayar seluruh rasa sakit yang tertahan. Cucuran air mata bahagia juga nggak bisa dibendung lagi. Juga, ketidakberdayaan gue pulang yang akhirnya harus di bonceng sampai ke rumah.

Kabar baiknya, gue lulus hari itu. Hasil yang diraih dengan penuh perjuangan dan lelah yang tak terbendung, cukup membuat gue bahagia. Kabar buruknya, pulang dari kampus, gue harus menginap di rumah sakit. Pastinya, defense  yang nggak akan terlupakan. Gue mungkin kapok, tapi nggak mungkin juga buat gue untuk mencoba hal itu lagi. Maksudnya lanjut kuliah lagi gitu. Skripsi lagi, sidang lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini