4 Desember 2013

Ayo, mana Senyumnya...

"Senyum... 1, 2, 3..."
Jepret!

Bagi para 'banci' kamera atau 'narsisers', tentu tidak asing lagi dengan kata-kata itu. Kita diajak senyum saat mau difoto. Ditambah gaya-gaya gokil yang kadang bukan hanya membuat kita tersenyum, mungkin tertawa.

Lalu, apakah senyum hanya dilakukan di depan kamera? Hanya dipertontonkan semata. Sementara di lain situasi, senyum tersebut susah sekali terutas dari ujung bibir. Bagaimana bisa terlihat bercahaya kalau senyum saja tidak mau atau sulit?

Sebagai seorang yang memiliki tingkat emosi yang cukup tinggi, saat hal kecil dapat membuat kita marah, tentu saja senyum menjadi barang mahal yang sulit untuk di dapat atau dilakukan. Kalau pun bisa senyum, pasti hanya saat-saat tertentu.

Padahal, dengan tersenyum, kita seperti mendapat lecutan aura positif di dalam diri. Walaupun senyum terpaksa, tapi dibalik senyum terpaksa tersebut kita dipaksa juga untuk berpikir positif dan tidak memusingkan otak dengan hal-hal negatif yang mungkin akan membuat kita marah atau sedih.

Menahan rasa amarah memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi bagi orang yang memiliki 'stok emosi'nya yang lebih dari 'cukup'. Kadang sebuah ucapan kecil saja bisa menjadi lecutan api dalam hati.

Tapi sadar atau tidak sadar, 'stok emosi' yang kita cipratkan ke orang lain, rupanya berimbas juga ke dalam diri.


Beberapa waktu lalu, saat gathering di kampus, gue yang dipercayai memangku jabatan 'seksi acara' pun mulai memberlakukan hal ini. Tahan emosi dengan senyum. Yah. Beda pendapat itu wajar. Yang tidak wajar adalah mereka yang tidak ingin menerima perbedaan tersebut.

Dengan 'stok emosi' yang melimpah ruah, tentu saja lecutan emosi-emosi kecil mencuat ke permukaan. Hanya saja... Kali ini gue berusaha merubah 'stok emosi' tersebut menjadi 'stok senyum'. Ya! Terbaca mudah, dilakukannya... sulit!

Beruntungnya, gue bisa sedikit merubah 'stok' negatif tersebut menjadi positif. Kuncinya? Senyum. Terima pendapat dengan lapang dada. Terima segala perbedaan dengan senyum. Dan... Terjadilah acara tersebut.

Tidak ada rasa berat yang mengganjal saat acara berlangsung. Hanya satu yang dipikirkan. Sukses! Dan lagi... Benar!

Jurus-jurus ini gue coba terapkan di berbagai situasi sekarang ini. Berusaha merubah 'stok emosi' yang gue punya menjadi 'stok senyum'. Memang, belum semua bisa berubah. Belum semua bisa terwujud. Tapi perlahan dan pasti, gue akan membuat semua hal menjadi hal yang menyenangkan. Seberat dan sesulit apapun...

Nah, kamu! Ya! Kamu yang lagi baca...

Senyum...
1, 2, 3...
SENYUM!!

:)
:)
:)
:)
:)
:)


2 komentar:

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini