26 Juni 2015

Pusara Luna...

Disclaimer
Sebelum membaca, disarankan untuk membuka postingan sebelumnya disini. Kumpulan cerpen di tahun 2015 ini dibagikan agar lebih bermanfaat dan lebih banyak yang membaca. Happy reading.

***

Aku bertengkar hebat dengan sahabat yang aku punya sejak masih di sekolah dasar hanya karena masalah sepele. Luna—nama sahabatku. Aku berteman sejak masih duduk di sekolah dasar. Ia  selalu datang setiap hari untuk bermain di rumahku. Hingga suatu ketika aku melihat ia ditaman dekat rumahku berduaan dengan Rio—kekasihku sedang bertatapan mesra. Rio menyentuh pipi Luna namun Luna menepis seakan tidak tertarik.

Tiba-tiba perasaan dikhianati, marah, benci semua bercampur menjadi satu. Aku menghampiri keduanya dengan amarah membara lalu menampar Rio sekuat tenagaku. Aku menatap Luna yang tampak ketakutan. Luna memperlihatkan wajah memelas dan terus berkata kalau aku salah paham dengannya. Entah apa yang merasukiku, aku tidak mau mendengar apapun alasan yang ia keluarkan. 

Aku benar-benar benci karena dikhianati oleh sahabatku sendiri. Beberapa bulan telah berlalu, aku merasakan bahwa hatiku merasa sepi dan Luna tidak ada kabar sama sekali. Aku meraih ponsel, mencari namanya lalu menekan tombol hijau untuk menelepon. Beberapa detik kemudian aku matikan kembali saat aku mengingatnya. Tak lama ponselku berdering dan tertera nama LUNA.

Ah, benar firasatku. Ia pasti akan telepon aku duluan. Dengan bersemangat aku mengangkat teleponnya. Sayang itu bukan Luna melainkan orang tuanya. Mereka mengabarkan bahwa Luna masuk rumah sakit karena kecelakaan. Aku mendelik saat mendengar kabar mengagetkan tersebut dan menanyakan keadaan Luna yang ternyata sedang dalam keadaan koma. Diakhir telepon, aku berjanji akan datang menjenguk Luna.

Janji tinggallah janji. Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan berbagai kegiatan organisasi disekolah yang mengharuskanku pulang sore. Saat sudah sampai rumah, rasa capek mengalahkan niatku untuk menjenguk Luna. Tiba-tiba ponselku berdering dan kembali tertulis nama LUNA di nama pemanggil. Belum selesai aku mengatur nafas karena lelah, aku kembali dikejutkan saat orang tua Luna bilang kalau Luna kolaps. Kali ini tanpa menunda lagi aku langsung meluncur menuju rumah sakit tempat Luna dirawat.

Aku berdoa dalam hati untuk kesembuhan Luna. Lalu dari dalam taksi yang aku tumpangi melantunlah sebuah lagu yang selalu menjadi lagu persahabatan kami. Air mata tak dapat aku bendung lagi. Kenapa semua ini terjadi?

Begitu tiba di rumah sakit, aku segera berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Semua kenangan-kenangan indah persahabatan kami seakan terputar kembali didalam memoriku. Rasanya benar-benar baru kemarin kami bermain, bertengkar dan sekarang Luna berada dirumah sakit karena kecelakaan. Air mataku terus keluar seiring langkah kakiku yang terus berlari mencari ruang UGD.

Aku tiba diruang UGD dan langsung disambut baik oleh kedua orang tua Luna. Mereka memintaku untuk segera masuk dan melihat langsung. Luna terbaring lemah dan penuh dengan kabel-kabel mesin penunjang hidup dan air mataku semakin deras mengalir. Luna yang ceria, Luna yang periang sekarang seperti ini?

Orang tua Luna yang ikut masuk memberitahu bahwa umur Luna tidak akan lama lagi. Luna mengalami penurunan kesadaran akibat kecelakaan dan Leukimia yang diidapnya. Aku kaget setengah mati saat mendengarnya. Leukimia? Luna tidak pernah cerita dan tiba-tiba mesin pendeteksi jantung berhenti berbunyi. Aku menjerit histeris melihat sahabat tersayangku harus pergi  sebelumku meminta maaf.


Kini, di depan pusaranya aku meminta maaf penuh perasaan. Lalu angin berhembus perlahan seakan Luna telah menerima maafku dan pergi dengan tenang. Selamat jalan sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini