8 Juni 2013

[Je-jeur]: Wisata Kereta #2

Perhatian!
Sebelum kamu membaca postingan ini, disarankan bagi kalian untuk membaca terlebih dahulu Je-jeur sebelumnya disini agar dapat mengerti postingan berikut.

~_~

Ada hal menarik yang lupa gue ceritain waktu di St. Sentiong, dipostingan sebelumnya. Selain si Ibu payung biru, ada hal yang menurut gue lucu terjadi. Mudah-mudahan gue bisa menuangkannya dalam tulisan dan tertangkap sisi lucunya.

Gue tengah menutupi kepala serta setengah badan gue pake tameng berwarna biru (baca: payung), perhatian gue tertuju pada peron seberang. Seorang laki-laki tampak bertanya-tanya pada petugas stasiun (diperkirakan dia sudah kenal sama si petugas) yang langsung menunjuk seseorang. Gue langsung mengintip dari balik payung mencari korban yang dimaksud.

Laki-laki itu membawa dua payung dan seorang temannya yang berada satu peron dengan gue pun datang menuju tengah pinggir peron. Gue menamai si putih (pembawa payung) dan si merah (temannya yang satu peron dengan gue).

Putih: (melambai-lambai menyuruh temannya menyeberang)  
Merah: Sini lu...
Putih: Lu yang kesini, nih payungnya buat lu.
Merah: Jeh, lu lah yang kesini. Ujan tau, tar henpon gue basah. (sembari tertawa menanggapi si putih)

Si putih meringis cengegesan. Akhirnya si putih pun membuka payung dan menyeberang lalu memberikan payung satunya untuk si merah.
Lalu tiba-tiba ada seorang ibu dan anaknya menghampiri.

Ibu: Mas, ikut ke seberang ya. Ujan gede nih.
Merah: (nyeletuk) Iya tuh, kasihin.
Putih: (tampang iba) Oh, ya sudah. Silahkan bu. (beralih ke si merah) Tar jemput gue lagi lu kesini.
Ibu: Makasih, ya mas...

Si Merah melenggang meninggalkan si putih dan begitu sampai diseberang, si merah tak menoleh lagi. Dalam hati gue, bah, si merah balas dendam nih. Gue juga lihat tebakan gue benar karena si putih ketawa melihat temannya cuek saja. Suami si ibu tadi yang sudah sampai diseberang hendak mengembalikan tapi ragu-ragu, akhirnya si putih pun menyeberang hingga tengah rel dan payung baru balik.

Gue terkekek sendiri melihat kejadian itu.

"Gak usah pake payung sekalian gitu mah," celetuk gue begitu si putih meraih payungnya disetengah jalannya.

Lumayanlah, hiburan ditengah kecemasan.

Lucu? Ya? Tidak? Ya sudah lah.. Memang tidak bakat melucu di tulisan. -_-" #frustasi.

Skip! Kita kembali ke wisata kereta kita. Gue berhasil dapat tiket setelah menebalkan telinga dan hati saat tukang ojek yang mengagetkan saat keluar dari dalam stasiun. Lalu ibu-ibu yang modus sambil nanya-nanya gue mau kemana dan gue cuekin. Mengingat peringatan dari nyokap gue, "Hati-hati di Senen banyak copet." jadinya gue berdoa terus dalam hati.

Gue sempat kebingungan mencari loket untuk commuterline, lalu kebingungan menemukan peron 6 yang gak taunya udah gue lewatin beberapa kali. Lalu turun ke bawah tanah dan menemukan lagi petugas yang tadi gue tanya saat tiba di Senen.

Sembari menunggu kereta transit yang super lama, gue diperkenankan melihat bakal calon kereta yang akan gue tumpangi. Fajar Utama Semarang dan Fajar Utama Yogya. Wow... Paling tidak gue tahu seperti apa rupa kereta api tersebut serta membunuh kebosanan.

Kereta Commuter tiba, duduk dengan tenang hingga sampai duri. Sampai duri, turun desak-desakkan dan mengeluh pada penumpang yang mau naik dan tak sabaran. Gue pun harus tunggu lagi kereta Tangerangnya. Lama pula, untungnya ada mp3 dari hape yang bisa digunakan sebagai pemecah kebosanan. Saat keretanya datang, gue rebutan naik keretanya dan baru tersadar. Inilah rasanya jadi yang mau naik, beda dengan yang turun. Karma...

Nah, bagian yang gue suka dengan perjalanan pulang ini ialah lagu-lagu yang terputar secara acak dari dalam mp3 seakan membiarkan gue terlempar ke sebuah dunia lain dan tak menyadari keberadaan gue di dalam ular berbaju besi tersebut. Lagu Ti Yi Se Cien-F4 mengalun, lagu kesukaan gue dan buat gue menggumam sendiri mengucapkan lirik lagu tersebut. Hampir tertidur dan saat membuka mata gue berasa seperti sedang syuting video klip versi Korea atau Jepang dan mengambil setting di dalam kereta. Kaca jendela yang lebar-lebar lalu jembatan yang dilintasi kereta disertai tetesan air yang tersisa selepas hujan mendera tampak menggenang di tepian kaca.

Pikiran gue kembali ke sedia kala saat anak kecil di depan gue terbatuk-batuk dan bergerak-gerak gak jelas dan membuyarkan pikiran gue. (Merusak syuting khayalan gue aja!!) Lagu berganti, suara piano lagu Mad-Ne Yo, tiba-tiba menginspirasi gue untuk dapat belajar main musik.

Ah... Akhirnya gue sudahi khayalan-khayalan gue saat pak petugas pemeriksa karcis pun datang. Tampaknya pepatah 'Malu bertanya sesat di jalan' benar-benar terbukti hari ini. Selain itu, pepatah buatan gue sendiri, 'Gak Nekad Gak Dapat' juga berlaku deh. Haha..

Untung saja semua orang yang gue tanya hari ini menjawab dengan baik dan memuaskan. Setiap orang mungkin bilang gue aneh atau gaptek. Tapi daripada gue nebak-nebak sendiri yang belum tentu benar. Lalu jikalau gue gak nekad tanya pun tiket hari ini gak jadi nangkring dengan baik di dalam dompet.

Intinya... Beranilah! Berani tanya, berani nekad! Jangan lupa, berdoa bu... Itu kekuatan gue berikutnya.

Tengkiu... Sampai jumpa lagi di Je-jeur berikutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^