13 Agustus 2013

Mengeluh mengisah..

Nggak berasa, liburan sudah benar-benar berakhir. Liburan seminggu tetap tidak ada artinya mengingat gue nggak kemana-mana selain kamar~dapur~toilet~kamar.

Sebenarnya gue sudah berusaha sekeras mungkin untuk tidak memusingkan hal lain selain berleha-leha di rumah. Sayangnya, pikiran dan beberapa nyawa gue masih ada yang nyangkut di kantor. Sebuah tragedi kecil terjadi saat gue dengan pedenya menyerahkan laporan pada atasan gue yang akan ke semarang. Masalah muncul saat penyakit lupa gue kambuh dan baru sadar keesokan harinya. Otomatis, beliau sudah caow ke kantor cabang. Masih dengan pede, mengandalkan pikiran sendiri. Bencana baru benar-benar muncul menjelang sore. Seluruh kerjaan belum kelar dan hari semakin gelap. Biar sudah dibantu, tetap saja tidak kelar. Apalagi, hawa-hawa liburan yang menyergap kuat. Seluruh teman kantor pulang lebih awal dan gue hanya bertiga dengan dua orang teman kantor gue.

Akhirnya, gue bawalah kerjaan ke rumah. Pikiran gue bilang tidak usah, nanti kepikiran. Tapi hati gue tetap membawanya. Gue selipin di tas dan pulang. Benar saja, liburan gue... Suram!
Nggak kemana-mana, mikirin kerjaan yang belum kelar dan berkeliaran di kamar gue, dan rasa malas nemplok.

Dua hari pertama, gue kagak sentuh tuh kerjaan. Pikiran gue membetulkan, 'tuh kan, nggak dikerjain. Tar jg dikerjainnya di kantor juga'. Gue singkirin pikiran itu dan membulatkan tekad. Gue kerjain sebagian. Alhasil, hati gue nggak deg-degan lagi selama  sisa liburan.


Kegalauan gue muncul lagi saat malam terakhir liburan. Pikiran meracuni hati gue. Dari ketakutan gue menghadapi hari esok, nyelip lah masalah lain. Bercampur aduk dengan masalah lain yang gue pendam selama ini. Masalah yang gue andelin pikiran gue sendiri. Akhirnya, jebollah pintu bendungan di pelupuk mata gue. Biar nggak ketauan, gue tutupi muka gue dengan bantal dan gue kunci kamar.

Curhat yang gue lakuin ke listi pun nggak pengaruh, malah membuat gue semakin terpuruk.
Semakin ditahan, semakin deras air terjunnya. Mulut gue pun akhirnya berhasil dipaksa. Menyebutkan nama Tuhan dan seakan meletakkan segala keluh kesahku padaNya. Meraung, mengeluh, menangis sedih. Mengatakan 'aku tidak kuat' berkali-kali sampai mendapati diri cukup mengatakannya.

Hasilnya? Luarrr biasa! Gue yang selalu bilang Tuhan pasti menolong, malam itulah paling berasa. Kenapa? Karena gue merasa beberapa bulan belakangan ini gue merasa tidak pernah lagi mendengarNya.

Mendengar tiap kata-kataNya yang lembut membisik di dalam relung hati. Dia yang selalu mengatakan, 'Jangan takut, ada Aku disini'. 'Jangan takut, ada jalan.'
Nggak ada. Suara itu nggak gue dengar. Mungkin itu juga yang membuat gue terlalu mengandalkan diri.

Lalu, paginya... Saat gue doa pagi, gue minta kekuatan. Dan lagi, hasilnya? Sangat luar biasa! Kalian tahu, atasan gue senyum dan tertawa sama gue pagi-pagi. Walaupun pagi-pagu sudah disodori banyak kerjaan, tapi beban itu sudah tidak ada lagi. Gue serasa dapat nyawa gue lagi.

Dipekerjaan ini. Merasa ruangan itu milik gue lagi. Yang lebih dahsyat lagi, atasan gue sangat baik dan.. dia utarakan alasan beliau dengan baik. Paling tidak gue tahu, semua bukan kesalahan gue. Lalu, gue dengan gentle pun mengakui kesalahan gue.

Diikuti acara heboh saat seekor tikus menjadi bulan-bulanan di kantor. Mie instan gue dimakan sama 'siti'. Beberapa kejadian tersebut tiba-tiba menemukan gue pada beberapa pelajaran hidup. Gue ditegur olehNya untuk tidak mengandalkan diri sendiri, berbagi pada seseorang, bahkan jika tidak ingin pun, berbagilah denganNya. Ia yang selalu punya waktu untuk mendengar dan selusin solusi setelahnya.

Selain itu, lakukan yang terbaik, senyum di pagi hari menciptakan banyak kebaikkan. Selanjutnya, biarkan dirimu menjadi apa adanya. Sekali lagi, jangan andalkan diri sendiri.

Satu hal yang masih gue sesali hingga sekarang. Liburan gue harud berakhir dengan lima kata yang tidak layak seperti itu. Jikalau gue menyadari semuanya dari awal, mungkin liburan gue akan lebih berwarna.

Mengeluh, mengisahkan masalahmu, pada orang yang tepat, mintalah pada Ia yang selalu ada buatmu. Kapanpun...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini