21 Februari 2014

#Day1 -> Sendangsono to....

Hoamss...
the first sunshine in Jogja, capture using Instagram.
Kereta yang gue dan kawan-kawan tumpangi akhirnya tiba juga di kota gudeg Jogjakarta. Tepat pukul EMPAT PAGI, alias subuh-subuh. Udara dingin di luar gerbong langsung menusuk sampai masuk ke tulang. Matahari juga masih belum berani keluar dari peraduannya, hanya mengintip-intip dengan cahaya benderangnya. *eaaa.. berpuitis ria*

Hari pertama di Jogjakarta! Yeay!
Kami sengaja memilih keberangkatan kereta yang paling malam agar tiba di Jogja paling pagi sekali. Gue pernah terkesima dengan pemandangan pagi di Jogja beberapa bulan sebelumnya, jadi gue pun mengusulkan untuk ambil keberangkatan paling malam.

Karena kami hanya akan berwisata selama 4 hari 3 malam, jadinya hari pertama ini akan menjadi hari yang cukup padat, mengingat ada beberapa tempat wisata yang harus dikunjungi dan masuk ke dalam daftar wisata kami.

Sebelum meninggalkan Stasiun Tugu, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto ria di depan Stasiun. *narsis mode on*
cuma ber-4 sisanya jadi juru foto. *hahaha*


Selanjutnya... Petualangan pun dimulai. Kami keluar stasiun sekitar pukul setengah enam pagi, otomatis jalanan sekitaran Malioboro, St. Tugu hingga ke Prawirotaman pun masih sepi.

Tadinya mau coba naik taksi ke penginapan, lalu kami dengan gaya (sok) backpaker-an, kami memilih jalan kaki dan mengandalkan GPS untuk menuju penginapan. Dan, sampai sekitar jam setengah tujuh pagi, kami belum juga tiba di penginapan sementara berdasarkan petunjuk dari GPS, masih sekitar 1 km lagi.

"Kapan nyampenya niiih!"

Ini dia! Satu lagi kesalahan atas persiapan yang serba dadakan. Perkiraan kami, penginapan bisa dijangkau dengan jalan kaki dan... SALAH! Akhirnya, karena salah satu teman kami sudah tidak sanggup jalan kaki lagi, kami pun memutuskan untuk menyetop taksi yang seakan tahu kami butuh.

Oh, ya! Perlu diketahui, saat kondisi masih pagi seperti itu, jalanan sepi dan belum ada satu pun kendaraan umum yang lalu lalang. Jadi, taksi pagi itu seperti OASE buat kami.

Tepat pukul tujuh lewat, kami akhirnya tiba di penginapan dan segera registrasi. Setelah mendapat kamar dan membaginya, kami langsung beres-beres serta mandi karena mobil yang kami sewa akan menjemput kami tepat pukul sembilan. Masih cukup waktu untuk leha-leha dan bernarsis ria dulu di penginapan.

Tujuan pertama kami adalah...

SENDANGSONO!
beringin 100 tahun babtisan SENDANGSONO
Destinasi ini juga termasuk yang dadakan karena baru diputuskannya satu bulan sebelum keberangkatan, beberapa minggu setelah tiket sudah di beli. Dengan niat berwisata rohani, kami memasuki kawasan tempat ziarah yang menanjak.
Suasana di Sendangsono sangatlah sejuk dan asri. Ditambah cuaca yang lumayan teduh pagi itu.

Sendangsono, seperti tempat ziarah untuk Umat Katolik pada umumnya, disana terdapat gambar-gambar pahatan Jalan Salib yang dipasang mengelilingi seluruh kawasan ziarah. Para pengunjung yang biasanya Ziarah pasti akan langsung melaksanakan ibadat Jalan Salib terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam tempat ziarah lebih jauh.
disalah satu perhentian jalan salib
Tapi, demi menghemat waktu, kami sengaja meng-skip acara Ziarah tersebut. Tanpa mengurangi keinginan rohani kami untuk beribadah terlebih dahulu di tempat ini, akhirnya Kak Rosa mengajak kami semua berdoa Kerahiman Ilahi di depan Salib Besar sembari duduk beralaskan sendal. Salib Besar yang melambangkan Wafat Yesus tersebut terletak pada posisi paling atas dan kami harus melewati tangga-tangga yang terbuat dari bebatuan yang di atur dengan apik.
salib utama
Selesai berdoa Kerahiman Ilahi, acara ziarah kami dilanjutkan dengan berdoa di depan Gua Maria yang terletak di sisi kanan Salib dan sedikit menurun. Suasana yang sangat asri, sejuk, hening dan nyaman membuat kami dapat berdoa dengan khusyuk, baik saat di atas maupun di depan Gua Maria.
gua Maria
Acara ziarah kami dilanjutkan dengan pengambilan air suci untuk dibawa pulang ke Tangerang nantinya.
Selanjutnya..... FOTO-FOTO. Berada di tempat wisata tanpa foto-foto itu rasanya kurang lengkap. Diakhiri belanja souvenir barang-barang rohani yang kelak diberikan pada sanak keluarga.


Kami beranjak meninggalkan Sendangsono. Sebelumnya pun, kami menyempatkan diri menyantap makan siang karena matahari sudah tinggi dan kami memang belum makan sejak... semalam. Titik. Masing-masing dari kami memesan berbeda-beda dan gue memesan SOTO apaaa gitu, lupa namanya. Dari warnanya yang kuning, wangi bumbunya, menggoda selera. Sedangkan, setelah dicicipi, rasanya... KUNYIT. Titik.

Dalam pikiran gue, makanan ini tidak akan lagi berada dalam list makanan yang harus gue makan saat di Jogja. Tidak. Tidak lagi. Titik!

Perjalanan kami masih belum berakhir. Seusai dari Sendangsono, kami meluncur kembali menuju sebuah tempat yang terkenal seantero dunia. Bahkan pernah masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia.

Aha! Benar! BOROBUDUR! Tunggu postingan berikutnya ya..
peta Borobudur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini