29 Januari 2015

Roller Coaster ~ MRCA 2015

Hello friends!!
Ehem.. Ini gue ketutupan and nyempilll.. Coba dilihat tanda panah warna merahnya.
Itu guee.. Itu gueeee.. !!!
Boleh gue akui kalau tahun 2015 ini kelak akan menjadi tahun yang luar biasa bagi gue. Berbagai langkah baru dan tidak terencana sedikit demi sedikit ditapaki. Perlu di catat, tahun ini gue nggak terlalu muluk untuk menciptakan resolusi ataupun menggapai resolusi yang gue sendiri tidak tahu kepastiannya.

Dibalik semua itu, ada beberapa target yang gue ingin raih tahun ini. Salah satunya adalah menjadi salah satu bagian dari MRCA 2015. Tahun kemarin gue pernah ikutan namun gugur di tahap tiga, tapi tahun ini sebuah pencapaian baru sudah terwujud.

Di MRCA Batch 3 kali ini, gue lolos sampai tahap 200 besar, mengalahkan ribuan pendaftar lain yang sudah terdaftar. Proses seleksi ini sudah berlangsung dari akhir tahun kemarin namun berlanjut hingga awal tahun ini.

Di proses seleksi kali ini, gue sempat membuat ini sebagai salah satu tugas di salah satu tahap seleksi. Oh ya, gue juga sempat bikin 'meme' loh untuk salah satu tugas di salah satu tahap seleksi. Akhirnya... Tibalah gue di 200 besar MRCA 2015.

Hal lain yang perlu dicatat, ternyata proses seleksi langsung di 200 besar MRCA 2015 ini berlangsung dihari biasa. Pun, di jam yang reguler dimana gue masih harus bernyanyi dan menyalurkan ilmu di sekolah.

Beberapa hari setelah pengumuman lolos seleksi 200 besar, gue langsung diserang galau super dahsyat. Hari jumat,  16 Januari 2015 merupakan hari yang paling bisa mencampur adukkan perasaan gue. Layaknya roller coaster yang meliuk-liuk.

Dalam hati, gue senang saat tahu gue berhasil lolos 200 besar. Disisi lain, rasa cemas menghantui saat gue tahu kalau pada hari seleksi, gue nggak bisa melepaskan tanggung jawab gue di sekolah. Lagi, acara yang di jadwalkan hingga pukul 6 sore itu juga mengusik perasaan gue saat tahu hari itu gue ada UAS terakhir yang dosennya saklek setengah mati.

Otomatis, gue harus benar-benar bisa mengambil keputusan bijak demi semua hal dapat terpenuhi. Gue berusaha sesuaikan waktunya dengan jadwal gue. Langsung saja, gue mengirimkan email konfirmasi kedatangan gue yang telat pada hari seleksi nanti. Walau gue tahu kalau sudah konfirmasi, kecemasan serta rasa gundah yang gue rasain nggak bisa hilang.

Jumat pagi, sedari bangun tidur, jantung gue nggak berhenti berdegup kencang. Dengan mengandalkan kekuatan terakhir, DOA, akhirnya gue meminta ijin YANG MAHA KUASA untuk dapat menjalani hari itu dengan lancar. Ya, tidak ada harapan lain selain dilancarkan dan dimudahkan. :D

Motor matic yang gue kendarai melaju tidak beraturan seiring perasaan gue yang tidak jelas. Cuaca pagi itu memang agak mendung tapi matahari seakan nggak mau mengalah. Rintik-rintik hujan yang kecil ternyata menciptakan pelangi. Entah seperti mendapat jawaban atau sekedar penenang hati, air mata gue perlahan menitik. Entah pula, perasaan dari mana, hati gue sedikit lega.

"Pasti pertanda baik untuk hari ini," ucap gue dalam hati dengan penuh optimis.

Benar saja. Seakan segalanya dipermudah. Perasaan cemas gue perlahan musnah saat bertemu dengan anak-anak, berikutnya, saat meminta ijin untuk pulang lebih awal pun dipermudah. Lagi, target perjalanan gue adalah 1 jam dari sekolah menuju TKP. Berhubung gue sadar kalau Jakarta di hari jumat itu bisa lebih macet dari hari biasa, jadi perkiraan gue akan meleset. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Gue tiba di APL Tower tepat pukul 1 siang, sudah termasuk parkir, beres-beres dan registrasi ulang. AMAJING!!
EMPAT!!
Kali ini gue kelihatan kan... ^^
Apa yang gue dapat dari sesi-sesi MRCA kemarin? Pengalaman, ilmu serta pastinya temaaaan! Gue sempat terhanyut suasana serta euforia semangat para pejuang MRCA dan lupa akan ujian gue. Tadinya, gue berniat ikut jadwal yang ke dua namun koneksi ke dosen tidak ada dan petugas kampus yang rese membuat gue panas dingin seusai short speech.

Akhirnya, gue memutuskan untuk pergi duluan tanpa sempat berfoto ria dengan Ms. Merry. Pulangnya, jalanan kembali lancar walau ramai. Tangan gue pegel setengah mate menghadapi ramainya jalanan Jakarta di jumat sore.

Tiba di kampus sekitar jam setengah tujuh, telat tiga puluh menit dari jam yang seharusnya. Ternyata, pak Dosen bilang kalau ujiannya per kedatangan. Datang, kerjakan, pulang. -_-"
Tahu begitu, gue sempatin foto sama Ms. Merry dulu tadi, gumam gue dalam hati.

Dibalik naik turunnya perasaan gue itu, terselip perasaan senang karena tidak menyesali keputusan untuk datang hari itu. Walau hasil akhirnya, tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Mungkin, Tuhan akan menggunakan gue untuk pelayanan di tempat lain..."

Kata-kata yang sama saat gagal seleksi YOT tahun lalu, kembali gue tanamkan dalam hati. Mungkin tahun ini belum saatnya, mungkin tahun depan. Mudah-mudahan. Roller Coaster....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini