21 Maret 2014

Fatahillah Fiesta, on KOTU

"Yah, too.. Gue lupa! Besok gue udah ada janji duluan sama temen gue!"

Grrr... Emoticon dengan kepala bertanduk pun segera gue luncurkan lewat pesan singkat BBM.

"Jiaaahhh.. Kan lo sudah buat janji duluan sama gue! Bodo! Pokoknya gue ngambek!"

Cetarr!

Rencana yang sudah gue siapkan sejak sebulan yang lalu akhirnya harus batal hanya dengan sebuah kata mematikan. LUPA! Memang, kalau orang lupa pasti tidak ingat. Kalau tidak ingat....
Awalnya, gue berencana pergi bersama Listi ke Jakarta Selatan untuk ikutan #nulisbukuclub dan mampir ke Kota Tua untuk menyaksikan festival kuliner. Sayang, semua BATAL, TAL, TAL.. *suara menggema.

Okeh, acara #nulisbukuclub-nya memang tidak jadi di kunjungi tapi masih ada Festival Kuliner nih. Akhirnya gue tetap memaksakan untuk pergi ke Fattahilah Festival walau harus ketinggalan kereta, nunggu kereta dan waktu yang mepet pet pet. *bunyi klakson bajaj.

Begitu tiba di KOTU, semangat gue langsung full 100%. Sebenarnya, hari itu gue sedang dilanda penyakit 'ngantuk' KW super, jadi saat gue bilang semangat gue full 100%, mata gue baru benar-benar melek!

Tujuan utama ke tempat ini adalah jalan-jalan. Apalagi ada festival kulinernya, sudah pasti ujungnya... Jajan! Waah.. Buang duit dong. Eits, sebelum tiba ditempat itu, gue sudah menyiapkan jumlah uang yang menjadi batasan gue saat berbelanja.

Jreeeng.. 40 ribu sajah.

Cukup murah, kan? Coba kita lihat bisa dapat apa saja dari 40 ribu tersebut?

Go on..

Matahari sore sudah hampir tiba di peraduannya tapi semangat gue ternyata masih diatas awan, alias masih membara! Tenda-tenda putih serta beberapa areal Museum Fattahilah sudah berdiri kokoh dari hari kamis sebelumnya. Sayangnya, begitu gue tiba ternyata festivalnya belum mulai. Belum ada yang jualan sama sekali......

DOEEENG...

Tanpa mengurangi rasa antusias, gue pun tidak melewatkan untuk berfoto di depan pintu masuk areal festival.

Sejauh mata memandang, ribuan orang tengah memadati pelataran museum. Terdengar juga musik-musik aneh yang ternyata musik pengiring sebuah pertunjukkan. Apa itu? ONDEL-ONDEL. Khas Jakarte banget nih...

Disisi lain pelataran, tampak orang-orang bergerombol menyaksikan pertunjukkan lain. Pantomim yang mirip Charlie Chaplin ini memang menarik perhatian. Gaya-gaya khas pantomim, gelak tawa pengunjung yang sesekali terdengar menjadi warna sendiri yang membuat gue sendiri tersenyum.

Lain pantomim, lain pula dengan atraksi yang satu ini. Coba tebak, apakah dia duduk di atas kursi? Coba, mana kursinya? Hahaha.. Si pemain ternyata punya trik khusus sehingga bisa duduk layaknya di kursi padahal kosong.

"WOOWW"

Menyusuri tiap sudut kota tua seakan menyadarkan gue akan seni yang ditampilkan dalam sisi kiri-kanan dari museum tua ini. Cerita masa lalu nan kelam tentang Gedung Governoor seakan tidak menyurutkan para pencipta dan pelaku seni kehilangan asa mereka untuk berkarya.

Haha, tentu saja tidak gratis. Mereka memajang box-box di tengah pertunjukkan mereka dan mempersilahkan para penikmat seni untuk meninggalkan selembar seribu atau dua ribuan untuk mengapresiasi seni mereka.

Aaah, kembali ke tujuan utama. JAJAN!

Setelah gagal ikutan festival, akhirnya gue memutuskan untuk jajan di sekitar pelataran kota tua. Sasaran pertama adalah... Es Potong. Ini kali pertama lagi gue makan es ini setelah tukang es potong punah dari sekitar komplek rumah gue dan tempat gue beraktifitas sehari-hari. Harganya, 3000/potong. Checked!

Muter-muter sisi lain daerah wisata kota tua, tidak ada lagi yang berhasil menarik perhatian gue untuk jajan. Berhubung perut juga lapar, akhirnya gue memutuskan membeli pecel. Gue pikir 3000 dapat, tapi saat di tanya... 10 rebuh sodara, sodara! Di rumah gue, pecel begitu cuma 3000 sudah komplit dengan bakwan/tahu 2 dan sayur yang segubrek-gubrek!

*sabar siiih... wajar saja, karena itu kan tempat wisata*

Penjelajahan jajan gue berhenti pada tukang otak-otak goreng seharga 5000 yang rasanya sekeras es batu. *hueee.. :'(

Lihat-lihat sudah, jajan juga sudah. Waktunya pulang karena memang dikejar waktu untuk pulang tepat waktu. Dan tragisnya, saat gue melintasi kembali area festival, areal tersebut sudah ramai dengan pedagang dan... gue melewatkannya. Waktu mengejar keretanya yang tidak keburu. :'(

KOTA TUA.


Mungkin arealnya memang terkesan Tua, tapi para pengunjung dan seniman-seniman serta jiwa seni para penikmat senilah yang menjadi hidupnya daerah tersebut. Ditambah kepedulian pemerintah serta kesadaran warga yang tidak membuang sampah sembarangan, membuat areal Kota Tua semakin dicintai oleh masyarakat sehingga tidak bosan untuk kembali ke sana.

*pulang mengejar kereta. *menenteng sekotak ricebox dan sekantong roti 'O.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini