17 April 2014

Saatnya...

Ceritanya, hari ini gue berencana menjenguk teman kantor yang masuk rumah sakit. Termasuk kesempatan gue untuk keluar kantor di jam kerja nan sibuk.

Sebelum meluncur ke tempat yang dituju, gue bersama seorang teman kantor mampir ke salah satu pusat perbelanjaan untuk belanja buah-buahan. Awalnya mau menyesuaikan budget, tapi... ya Indonesiawi buanget lah, ya. Barang belanjaan tetap lebih dari budget.

Cuaca diluar berubah menjadi mendung dan hujan rintik-rintik turun. Gue pun memaksakan diri untuk berlari menuju ATM yang berada di sisi luar pusat perbelanjaan.

Hujan rintik-rintik sekejap berubah menjadi hujan deras yang... juga sekejap. Namun, jalanan sudah basah kuyup diguyur hujan sekejap. Automatically, namanya juga jalanan Jakarta, beceknya jalanan juga berpengaruh pada volume kendaraan. Benar! Macet!

Untungnya, waktu perjalanan gue merupakan jam sibuk pegawai di kantor jadi masih bisa ditoleransi tingkat kemacetannya.

Udara dari pendingin di dalam mobil, ditambah mendungnya langit seakan memanjakan saraf motorik gue untuk segera terlelap dan tenggelam di dalam mimpi. Sayangnya, tingkat kesadaran gue juga lumayan tinggi. Alhasil, gue tidur dengan sangat tidak nyenyak. Beberapa menit sekali bangun, bangun dan bangun.

Seusai menjenguk, ternyata matahari telah menggantikan peran sang awan mendung. Cahaya mentereng memancar gagah di atas langit, masuk juga ke dalam mobil. Tadinya, ada rencana untuk tidur lebih lelap saat pulang karena tidak mengkhawatirkan lagi, 'sudah tiba, atau belum.'
source
Begitu cahaya matahari bersinar cerah di depan mata, sekarang gantian mata gue yang tidak mau di ajak kompromi. Saraf motorik serta kesadaran gue ingin segera menikmati waktu untuk tidur. Secara.... Kapan lagi gue bisa tidur di jam kantor nan sibuk? Ya sekarang itu! Tapi tidak bisa!

Di sela-sela usaha gue untuk merelaksasikan diri di dalam perjalanan, pandangan gue tertuju pada orang-orang yang lalu lalang di trotoar jalanan. Kebetulan lampu merah masih menyala dan menahan kendaraan roda empat yang gue tumpangi.

Dua orang siswi SMA yang bersenda gurau seraya menapaki trotoar jembatan. Disusul pemuda berjaket, memasang headset, dan menggendong tas. Diikuti dua orang yang tampak seperti pekerja kantoran di belakangnya. Terakhir seorang ibu tua juga renta, membawa bakul di punggungnya dan tampak letih.

Saat itu gue tersadar, disaat gue sedang duduk manis lalu berkutat dengan dokumen dan komputer di depan mata, diluar sana banyak aktifitas yang terjadi, diluar kendali gue dan terkadang... menginspirasi.

Intinya sih, terkadang berada di zona nyaman dan aman itu... membosankan. Mendobrak kebiasaan dan rutinitas, kadang perlu. Untuk sekedar menyegarkan pikiran. Bahkan untuk melangkah menapaki jalan baru.

Yah... Mari move on!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini