Sudah baca MTA Chapter 1-3 tentang nasib para mahasiswa tingkat akhir yang harus ngadepin sesuatu yang manis bernama skripsweet. Atau lanjutannya di Chapter 4 yang berkisahkan akan sidang skripsi gue yang berjalan dramatis. Dan pastinya nggak boleh ketinggalan Chapter 5 tentang seru dan bangga-nya kami para mahasiswa yang baru lulus setelah berjuang selama 4 tahun? Kalau belum, boleh di buka link-nya ya...
27 Oktober 2015
Field Trip to Kidzania
Field Trip tahun ini diputuskan untuk pergi ke Kidzania. Sebenarnya, gue sudah pernah denger Kidzania itu apa, yaa... semacam wahana permainan gitu. Eh, ternyata ... Kidzania itu adalah wahana permainan yang membiarkan anak-anak menjadi apa yang mereka mau kelak. *pekerjaan maksudnya*
![]() |
| tuh.. foto model... |
25 Oktober 2015
My Dream Room...
Pernah nggak sih mempunyai keinginan untuk mendesain kamar sendiri? Misalnya, mengatur bentuk tempat tidur sendiri, mengatur warna kamar sendiri, mengatur letak lemari dan tetek bengek yang kita pengen ada di kamar sendiri?
22 Oktober 2015
MTA Chapter 5 ~ Inaguration Day
Setelah mengalami sidang yang cukup dramatis, akhirnya gue berhasil lulus dengan grade yang cukup memuaskan. Cukup terbayar segala kesulitan yang sudah gue rasain sebelumnya. Eits, jangan dipikir setelah sidang kelar, dapat hasil kelulusan, tugas gue sudah kelar. Justru revisian setelah sidang itu yang masih menantang.
17 Oktober 2015
Kisah Pohon Jambu
Dulu, gue punya pohon jambu, jenis jambu putih yang dagingnya agak tebal, tidak terlalu banyak kapas serta manis rasanya. Awalnya, itu pohon kecil seuprit setelah di cangkok dari inangnya. Ditanam di dalam pot besar dan di taruh di depan rumah.
Saat berbuah pertama kali, hebohnya setengah mati. Segala macam usaha dilakukan agar buahnya benar-benar manis dan enak. Saat berbuah kedua dan ketiga kali, buahnya agak busuk. Konon katanya, saat pertama kali berbuah, ada yang makan buah jambu gue pakai bumbu rujak yang pakai terasi. Jadinya busuk deh.
Semakin hari, pohon jambu di dalam pot semakin besar dan akhirnya di pindah untuk di tanam langsung di dalam tanah. Seiring berjalannya waktu, pohon semakin besar dan rimbun. Rumah gue pun semakin adem dengan adanya pohon jambu tersebut. Ditambah lagi, gue suka manjat di pembatas rumah gue yang dekat dengan dahan pohon jambu. Nggak jarang juga, gue manjat itu pohon demi dapetin buah jambu yang besar dan biasanya numbuh di tempat paling tinggi.
Kini, pohon jambu putih kesayangan gue itu hanya tinggal sebagai kenangan belaka. Dua tahun belakangan, gue sudah tidak lagi menikmati nikmat manisnya buah jambu serta adem rimbunnya pohon jambu saat gue duduk di bawah rindang dedaunannya.
Begitu juga dengan seluruh kenangan gue akan tempat dimana pohon jambu itu tumbuh. Segala kenangan sejak masih nggak ngerti apa-apa hingga bisa menghasilkan pundi-pundi. Dari yang belum ngerti yang namanya cinta-cintaan sampai baper-baperan kayak sekarang.
Orang-orang bilang, sebuah tempat yang kita sayangi bisa jadi tempat perpisahan yang paling menyedihkan dan seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi sebuah kenangan yang suatu hari hanya bisa gue ceritakan sambil tertawa dan menitikan air mata beserta sebuah kata yang selalu mengundang rindu. Yakni.... KANGEN.
Saat berbuah pertama kali, hebohnya setengah mati. Segala macam usaha dilakukan agar buahnya benar-benar manis dan enak. Saat berbuah kedua dan ketiga kali, buahnya agak busuk. Konon katanya, saat pertama kali berbuah, ada yang makan buah jambu gue pakai bumbu rujak yang pakai terasi. Jadinya busuk deh.
Semakin hari, pohon jambu di dalam pot semakin besar dan akhirnya di pindah untuk di tanam langsung di dalam tanah. Seiring berjalannya waktu, pohon semakin besar dan rimbun. Rumah gue pun semakin adem dengan adanya pohon jambu tersebut. Ditambah lagi, gue suka manjat di pembatas rumah gue yang dekat dengan dahan pohon jambu. Nggak jarang juga, gue manjat itu pohon demi dapetin buah jambu yang besar dan biasanya numbuh di tempat paling tinggi.
Kini, pohon jambu putih kesayangan gue itu hanya tinggal sebagai kenangan belaka. Dua tahun belakangan, gue sudah tidak lagi menikmati nikmat manisnya buah jambu serta adem rimbunnya pohon jambu saat gue duduk di bawah rindang dedaunannya.
Begitu juga dengan seluruh kenangan gue akan tempat dimana pohon jambu itu tumbuh. Segala kenangan sejak masih nggak ngerti apa-apa hingga bisa menghasilkan pundi-pundi. Dari yang belum ngerti yang namanya cinta-cintaan sampai baper-baperan kayak sekarang.
Orang-orang bilang, sebuah tempat yang kita sayangi bisa jadi tempat perpisahan yang paling menyedihkan dan seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi sebuah kenangan yang suatu hari hanya bisa gue ceritakan sambil tertawa dan menitikan air mata beserta sebuah kata yang selalu mengundang rindu. Yakni.... KANGEN.
5 Oktober 2015
CrewID: LearningForum1 ~ Personal Branding
Beberapa bulan lalu, gue ikutan program ITO (Indonesian Talent Outlook) yang di prakarsai oleh Nutrifood dan di hadiri oleh beberapa orang penting dari berbagai perusahaan kenamaan termasuk Nutrifood itu tersendiri.
Seusai ITO, ternyata mereka mengadakan pemilihan CrewID yang dilemparkan kembali kepada para peserta program ITO yang lalu. Dengan mengandalkan nama kampus gue yang masih belum terkenal, akhirnya gue terpilih sebagai perwakilan kampusyang kampusnya sendiri nggak tahu kalau gue mewaliki mereka sebagai salah satu anggota CrewID Batch 1.
Seusai ITO, ternyata mereka mengadakan pemilihan CrewID yang dilemparkan kembali kepada para peserta program ITO yang lalu. Dengan mengandalkan nama kampus gue yang masih belum terkenal, akhirnya gue terpilih sebagai perwakilan kampus
28 September 2015
Rindu Hujan
Waktu tahun 2012, gue ada buat banyak postingan tentang si hujan. Saat itu gue sangat mencintai hujan. Bahkan tiap saat hujan, gue pasti buat satu postingan. Hujan itu seperti pemberi inspirasi alami tanpa harus kita gali dengan sendirinya. Bahkan peneliti pun menyatakan bahwa saat hujan turun, ada gelombang-gelombang lain yang ikut turun dan mempengaruhi jiwa dan pikiran manusia. Jadi, jangan heran kalau gara-gara hujan, banyak orang galau nggak jelas.
Ditahun berikutnya, postingan gue tentang hujan sangatlah berbeda 180 derajat selsius. *nah loh*.
Kecintaan gue yang besar pada hujan tampaknya membuat sang hujan ke ge-eran, sehingga di tahun 2013, banyak hujan terjadi namun melebihi dari apa yang gue pikirkan. Hujan banyak, banjir juga banyak. Apalagi saat itu gue statusnya masih kuliah, ditambah tiap sore harus hujan. Saking kesalnya, gue meminta hujan untuk berhenti saat itu juga.
Ditahun berikutnya, postingan gue tentang hujan sangatlah berbeda 180 derajat selsius. *nah loh*.
Kecintaan gue yang besar pada hujan tampaknya membuat sang hujan ke ge-eran, sehingga di tahun 2013, banyak hujan terjadi namun melebihi dari apa yang gue pikirkan. Hujan banyak, banjir juga banyak. Apalagi saat itu gue statusnya masih kuliah, ditambah tiap sore harus hujan. Saking kesalnya, gue meminta hujan untuk berhenti saat itu juga.
13 September 2015
Anak Kecil
Biar anak-anak datang kepadaku... Itu sabda Yesus, Dia memanggiku...
Huffttt.. Ternyata gue baru sadar kalau sekarang sudah tidak lagi muda. Namun, gue paling suka sama anak kecil. Mereka terlalu imut untuk tidak di sayang, terlalu mubazir untuk tidak di godain, terlalu sayang untuk tidak memeluk mereka. Maklum, bawaan kerjaan yang jadi kebiasaan.
Anak-anak pada umumnya, merupakan masa-masa paling menyenangkan menurut gue. Setelahnya barulah masa remaja yang penuh kenangan. Jujur saja, siapa yang bisa mengingat dengan jelas kehidupan masa kecilnya secara terperinci? Gue juga sebenarnya nggak begitu ingat akan masa kecil gue. Hanya kenangan tertentu saja yang memorable berhasil gue ingat. Itu pun tidak banyak. Saking banyaknya kenangan yang tercipta, semakin sulit juga yang bisa diingat. Tapi itulah yang menyenangkan dari anak-anak.
Gue hidup untuk hari ini. Susah, senang, sedih, bahagia, terjadi hanya untuk hari itu saja. Besok? Beda lagi ceritanya. Hari ini diomelin ibu guru, ortu yang marah-marah atau senang mendapat rejeki nomplok entah dari mana, semuanya hanya bisa disimpan disalah satu sudut ingatan. Hanya bisa tersimpan rapi tanpa perlu dibuka lagi.
Begitu juga dengan persahabatan. Anak-anak murid gue disekolah contohnya. Mereka berantem, rebutan, nangis, pukul-pukulan, setelah itu? Selesai sudah. Setengah jam kemudian, mereka bersahabat lagi. Juga, mereka bersenang-senang, bergembira, besoknya sedih lagi, ya sudah. Berhenti sampai disitu. Mereka kembali berteman. Nggak peduli apa yang pernah terjadi sebelumnya.
Gue juga maunya begitu. Sayang, semakin gue besar dan dewasa, jiwa manusiawi gue sedikit demi sedikit mengelotoki jiwa polos anak lugu masa kecil itu. Selain itu, pengertian gue juga semakin dewasa. Bahkan, sekarang pun gue sudah bisa ngomong "sepuluh tahun yang lalu" atau "lima tahun yang lalu", dan nggak kebayang kalau ternyata sudah banyak waktu yang terlewati.
Gue maunya tetap seperti anak kecil yang meskipun kami bertengkar hebat, hingga nangis sekalipun, tetap masih ada ruang dimana kami bisa berbaikan, tertawa bersama serta menangisi kebodohan masing-masing atas waktu-waktu yang sudah terlewat.
Ah... andai saja...
Huffttt.. Ternyata gue baru sadar kalau sekarang sudah tidak lagi muda. Namun, gue paling suka sama anak kecil. Mereka terlalu imut untuk tidak di sayang, terlalu mubazir untuk tidak di godain, terlalu sayang untuk tidak memeluk mereka. Maklum, bawaan kerjaan yang jadi kebiasaan.
Anak-anak pada umumnya, merupakan masa-masa paling menyenangkan menurut gue. Setelahnya barulah masa remaja yang penuh kenangan. Jujur saja, siapa yang bisa mengingat dengan jelas kehidupan masa kecilnya secara terperinci? Gue juga sebenarnya nggak begitu ingat akan masa kecil gue. Hanya kenangan tertentu saja yang memorable berhasil gue ingat. Itu pun tidak banyak. Saking banyaknya kenangan yang tercipta, semakin sulit juga yang bisa diingat. Tapi itulah yang menyenangkan dari anak-anak.
Gue hidup untuk hari ini. Susah, senang, sedih, bahagia, terjadi hanya untuk hari itu saja. Besok? Beda lagi ceritanya. Hari ini diomelin ibu guru, ortu yang marah-marah atau senang mendapat rejeki nomplok entah dari mana, semuanya hanya bisa disimpan disalah satu sudut ingatan. Hanya bisa tersimpan rapi tanpa perlu dibuka lagi.
Begitu juga dengan persahabatan. Anak-anak murid gue disekolah contohnya. Mereka berantem, rebutan, nangis, pukul-pukulan, setelah itu? Selesai sudah. Setengah jam kemudian, mereka bersahabat lagi. Juga, mereka bersenang-senang, bergembira, besoknya sedih lagi, ya sudah. Berhenti sampai disitu. Mereka kembali berteman. Nggak peduli apa yang pernah terjadi sebelumnya.
Gue juga maunya begitu. Sayang, semakin gue besar dan dewasa, jiwa manusiawi gue sedikit demi sedikit mengelotoki jiwa polos anak lugu masa kecil itu. Selain itu, pengertian gue juga semakin dewasa. Bahkan, sekarang pun gue sudah bisa ngomong "sepuluh tahun yang lalu" atau "lima tahun yang lalu", dan nggak kebayang kalau ternyata sudah banyak waktu yang terlewati.
Gue maunya tetap seperti anak kecil yang meskipun kami bertengkar hebat, hingga nangis sekalipun, tetap masih ada ruang dimana kami bisa berbaikan, tertawa bersama serta menangisi kebodohan masing-masing atas waktu-waktu yang sudah terlewat.
Ah... andai saja...
12 September 2015
Waktu Berharga
Saat mau tulis postingan ini, gue tiba-tiba teringat akan film dari Negeri Sakura yang bertemakan time travel. Atau, tentang Doraemon yang bisa mengeluarkan mesin waktu dan membawa ke jaman dan waktu yang kita inginkan.
Kalau memang ada beneran, gue kepengen banget buat balik lagi ke beberapa minggu sebelum sidang skripsi tiba. Maksudnya, ke waktu-waktu gue masih sehat walafiat. Tentunya, gue bakalan jaga kesehatan gue sebaik mungkin dan nggak bakalan tumbang seperti tempo hari. Sayangnya, itu nggak bisa.
Andai,.. Cuma seandainya, mungkin gue akan lebih siap lagi dalam menghadapi sidang skripsi. Atawa, nggak ada tuh cerita air mata bercucuran seusai sidang. Or, something else tentang gue yang mungkin lebih fight lagi dalam hal memperjuangkan skripsi gue.
Tapi... jikalau gue berhasil merubah keadaan, apa yang akan terjadi? Mungkin, sidang skripsi kemarin akan gue sepelekan karena sudah tahu cela-celanya. Mungkin juga, gue nggak akan menangisi perjuangan gue di cecar habis-habisan dengan pertanyaan yang sebenarnya mudah namun bikin gue gemetar setengah mampus. Mungkin lagi, gue ngga akan menghargai apa itu perjuangan demi mendapatkan sebuah baju toga dan plakatnya.
Yah, walaupun gue harus terbaring diranjang rumah sakit untuk beberapa waktu, tapi semua memang waktu yang berharga. Gue jadi lebih bisa menghargai waktu-waktu gue sehat dan lebih memikirkan kesehatan diri. Tapi, gue juga tetap bisa menghargai perjuangan yang harus gue lalui demi cita-cita.
Yah lagi... Ngga ada waktu yang sia-sia kalau dijalani dengan sepenuh hati. Semua waktu berharga, ngga ada yang sia-sia.
Mungkin sulit untuk memutar waktu, tapi lebih sulit lagi jikalau tidak menghargai waktu. So, nikmati waktumu -Cha...
7 September 2015
MTA Chapter 4 ~ The Defense
D-day!
Sebulan lebih setelah pengumpulan skripsi, anak-anak mahasiswa tingkat akhir masih harus menunggu keluarnya jadwal sidang. Berhubung fakultas gue itu punya jatah sidang paling akhir, jadinya gue dan kawan-kawan baru di kabarin di akhir-akhir bulan. Jadilah, 5 hari sebelum sidang dihadapi, gue dan kawan menerima telepon dari kampus mengenai kostum, persiapan yang harus dibawa dan gimana-gimana sisanya.
2 September 2015
Tidak Berdaya
Masih inget kalau gue pernah minta maaf di salah satu postingan karena absennya gue di beberapa bulan terakhir. Secara pribadi, gue pun merasa sedikit miris jikalau melihat trackrecord dari jumlah tulisan yang ada di blog ini.
Blog ini pernah dalam masa ke'jaya'an nya saat gue rajin banget posting dan dalam setahun gue berhasil menerbitkan kurang lebih 150 tulisan. Hal itu diikuti di tahun berikutnya walau sedikit agak berkurang. Sementara itu, gue melihat di record tahun 2015, sampai bulan September ini baru ada sekitar puluhan tulisan yang berhasil gue ciptakan. Kalau distatistik, ini namanya penurunan kualitas dan kuantitas tulisan. Mudah-mudahan tidak seperti itu ya.
Blog ini pernah dalam masa ke'jaya'an nya saat gue rajin banget posting dan dalam setahun gue berhasil menerbitkan kurang lebih 150 tulisan. Hal itu diikuti di tahun berikutnya walau sedikit agak berkurang. Sementara itu, gue melihat di record tahun 2015, sampai bulan September ini baru ada sekitar puluhan tulisan yang berhasil gue ciptakan. Kalau distatistik, ini namanya penurunan kualitas dan kuantitas tulisan. Mudah-mudahan tidak seperti itu ya.
22 Agustus 2015
#BCLstories ~ Pramuka Island
Perjalanan kami ke Pulau Pramuka berjalan cukup seru. Awalnya. Sebelum kami memutuskan untuk menggunakan jasa guide yang memandu kami snorkeling di sore hari. Ceritanya, setelah kami lelah ngambang di permukaan air, gue dan tim bercakap-cakap dengan Pak Wawan -guide yang memandu kami tadi- tentang makan malam yang bertemakan bakar-bakaran. Maksudnya bakar-bakar ikan gitu.
20 Agustus 2015
Photograph
Ceritanya, gue dan tim Perpustakaan Putera Budaya, memiliki kesempatan untuk kumpul bareng dan jalan-jalan asik bareng tim Komsos yang memang satu kesatuan dari Perpustakaan itu sendiri. Jadi, pas bulan Juli kemaren, gue dan tim di ajak menuju ke suatu tempat yang sudah tidak asing lagi bagi kita. TMII alias Taman Mini Indonesia Indah. Miniatur-miniatur asli Indonesia ada disana.
17 Agustus 2015
Merdeka dalam Kristus
Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan, anak-anak sekolah minggu HSPMTB juga ikutan merayakan hari raya kemerdekaan dengan mengikuti berbagai lomba yang sudah di persiapkan kakak-kakak sekolah minggu. Kali ini temanya "Merdeka dalam Kristus".
11 Agustus 2015
#BCLstories ~ First Journey
Setelah berpuluh-puluh kali merencanakan dan gagal, akhirnya kita ber-tiga bisa juga jalan bareng. Eits, bukan berarti kita kagak pernah jalan bareng. Bedanya, kali ini kita jalan-jalan bareng ke tempat yang lumayan jauh. Agak jauh dari padat dan hiruk pikuknya kota Tangerang.
3 Agustus 2015
MTA Chapter 1-3 ~ Skripsweet
Pertama-tama, gue perkenalkan subtema baru dari blog ini. MTA! Kalau dilihat dari sub-judulnya, bisa nebak nggak? Nggak bisa? Yowes, nih dikasih klu nya.. Klu pertama, Mahasiswa, klu kedua Tingkat, klu ketiga Akhir. #lha.
Iya, iya. MTA itu artinya Mahasiswa Tingkat Akhir. Siapa yang sudah pernah merasakan atawa lagi merasakan atawa baru mau akan merasakan. Pesan singkat gue adalah.... Jangan menyeraaaa~~h, jangan menyeraaa~~hh, jangan menyeraaaa~~h, #dmasiv mode on!
Iya, iya. MTA itu artinya Mahasiswa Tingkat Akhir. Siapa yang sudah pernah merasakan atawa lagi merasakan atawa baru mau akan merasakan. Pesan singkat gue adalah.... Jangan menyeraaaa~~h, jangan menyeraaa~~hh, jangan menyeraaaa~~h, #dmasiv mode on!
30 Juli 2015
Untung Jawa Trip Day2: Hello Underwater!
Pagiiii... Hari ke 2 di Pulau Untung Jawa.
Pagi hari, begitu melek mata, ngumpulin nyawa, kami langsung menuju ke tempat main air yang kemarin sore. Kita mau snorkeling gais!! Setelah mendengar instruksi singkat, kami mengambil sepatu snorkeling, alat snorkeling, dan pelampung. Nggak lupa pinjam kamera underwater nya yaa...
![]() |
| ohayoooo!! |
22 Juli 2015
Untung Jawa Trip Day1: Unexpected Journey!
Dipostingan sebelumnya, cerita gue berhenti pada saat teman gue tiba-tiba menelepon dengan nada terburu-buru dan seperti ketakutan. Kita berempat yang jalan-jalan ke jalan setapak buru-buru balik ke jalan konblok utama yang kami susuri sebelumnya.
Berdasarkan keterangan dua teman kami, ternyata mereka melihat biawak melintas dengan santainya bak pragawati di depan mereka. Tanpa merasa terganggu atau pun terusik dengan kehadiran dua teman kami tersebut. Satu biawak lewat, diikuti biawak berikutnya. Ternyata kawanan biawak itu yang ditakuti mereka.
Gue berempat yang cuma mendengar cerita pun tiba-tiba merasa merinding. Sisa jalan setapak yang harus kami jalani pun ditapaki dengan penuh hati-hati. Dari yang mengendap-endap, berjalan cepat hingga akhirnya lari terbirit-birit saat seekor biawak tampak terbang (kayaknya sih lompat dari atas pohon) dan jatuh di tanah yang penuh dengan sampah. Niatan sempat mau foto cuma rasa takut keburu menang melawan keinginan gue tadi.
Berdasarkan keterangan dua teman kami, ternyata mereka melihat biawak melintas dengan santainya bak pragawati di depan mereka. Tanpa merasa terganggu atau pun terusik dengan kehadiran dua teman kami tersebut. Satu biawak lewat, diikuti biawak berikutnya. Ternyata kawanan biawak itu yang ditakuti mereka.
Gue berempat yang cuma mendengar cerita pun tiba-tiba merasa merinding. Sisa jalan setapak yang harus kami jalani pun ditapaki dengan penuh hati-hati. Dari yang mengendap-endap, berjalan cepat hingga akhirnya lari terbirit-birit saat seekor biawak tampak terbang (kayaknya sih lompat dari atas pohon) dan jatuh di tanah yang penuh dengan sampah. Niatan sempat mau foto cuma rasa takut keburu menang melawan keinginan gue tadi.
18 Juli 2015
Untung Jawa Trip Day1: Sebrangi Pulau.
Horeeee!! Gue senang karena bakalan ada perjalanan lagi!!! Masih ingat akan postingan gue pas bulan februari tentang perjalanan gue dan tim ke Semarang? Tahun ini pastinya mau dong jalan-jalan lagi! Yeay!!
![]() |
| siap berangkat gan! |
15 Juli 2015
Kotak Hati
“Pak,
tolong bantu angkat kotak yang ditengah sana,” pinta Feli pada Pak Budi, pria
paruh baya yang bekerja sebagai supir dirumahnya.
Feli
menunjuk pada arah tumpukkan kotak berwarna coklat ditengah kamarnya. Kotak-kotak
berwarna coklat bertumpukkan satu sama lain secara acak. Ia baru saja selesai
mengepak seluruh barang-barang yang akan dibawa menuju kos-an barunya.
“Tinggal
ini saja? Masih ada lagi tidak?” tanya Pak Budi memastikan.
Feli
terdiam berusaha mengingat-ingat. Kakinya segera melangkah menuju lemari dan
menengok sisa-sisa pakaian serta barang-barang yang sengaja ditinggalnya di
dalam lemari.
Tiba-tiba
perhatiannya tertuju pada sebuah kotak yang tak asing lagi bagi Feli. Sebuah
kotak berbentuk hati yang tergeletak dirak paling atas dan berada pada posisi
paling ujung lemari.
Feli
masih bisa mengenali warna merah pada sisi luar kotak yang kini telah memudar.
Kotak pun diraih. Debu-debu tipis serta sebuah kertas menempel diatasnya.
Ditiupnya debu-debu yang menutupi tutup kotak kemudian nampak sebuah tulisan
tangan miliknya.
“Kotak
hati,” gumam Feli kecil.
Perlahan
dibukanya ‘Kotak Hati’ dan ingatannya langsung kembali pada dua tahun
sebelumnya.
***
“Siap,
bubarkan!!” teriak pemimpin upacara.
Feli
menghela nafas lega saat pemimpin upacara menerima perintah terakhir dari
komandan upacara untuk dibubarkan. Menghabiskan empat puluh lima menit ditengah
lapangan serta dibawah terik sinar matahari sudah cukup membuat keringatnya
bercucuran.
Tak
lama, para siswa segera berhamburan meninggalkan lapangan. Bersama teman-teman
barunya Feli pun ikut pergi.
“Feli!”
panggil seseorang terdengar dikejauhan.
Langkahnya
terhenti berusaha mencari sumber suara. Halaman sekolah masih tampak ramai.
Beberapa siswa masih memilih tinggal disisi halaman sementara sisanya kembali
ke kelas dengan menyusuri koridor-koridor gedung.
Matanya
langsung tertuju pada sosok pemuda berseragamkan putih dan celana panjang
abu-abu. Feli segera dapat mengenali sosoknya kemudian senyum kecil tersimpul
dibibir.
“Kak
Angga!” seru Feli seraya berlari menghampiri pemuda yang dipanggilnya Angga.
“Bagaimana
hari pertamamu?” tanya Angga
“Lumayan,
Kak! Kakak sendiri bagaimana?” jawab Feli dengan sikap manja.
Angga
tersenyum lembut pada Feli. Terlihat jelas rasa sayang yang dipancarkan lewat
kedua matanya pada gadis yang berdiri dihadapannya.
“Baguslah,”
ucapnya seraya mengacak-acak rambut Feli. “Ini bukan hari pertamaku, jadi
menurutku biasa saja.”
“Ah,
kakak ini!” elak Feli. Gadis itu segera menepis jauh-jauh tangan Angga yang
berada dikepalanya. “Aku sudah SMA. Sudah besar, jadi kakak jangan bersikap
seperti ini, ya, di depan teman-temanku.”
Angga
tertegun sesaat kemudian tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan. “Oh, ya. Kamu
sudah besar,” sahutnya.
“Sudah,
ya. Aku mau ke kelas dulu.”
Angga
mengangguk seraya menatap sosok Feli menjauh. Secara tidak kasat mata, ia melihat
tembok diantara dirinya dan Feli. Hatinya perlahan terasa perih. Perlahan namun
pasti, ia pasti akan kehilangan Feli. Gadis yang mulai tumbuh dewasa dan
menjauh dari kehidupannya.
***
Buah-buah
mangga yang hampir masak seakan memanggil untuk dipetik. Angga pun segera
memanjat pohon mangga yang tertanam dihalaman rumahnya kemudian memetik salah
satu diantaranya.
“Huaaa...
Mama...”
Angga
tengah asik memakan buah mangga langsung diatas pohon. Perhatiannya segera
teralih pada suara tangisan yang didengarnya. Terasa tak jauh. Angga kecil pun
celingak-celinguk mencari sumber suara dan menemukan seorang gadis kecil tengah
menangis di depan pintu rumahnya.
Ia
tak melihat ada orang yang membukakan pintu untuk gadis tadi. Tanpa basa-basi
lagi, Angga melompat dari pohon kemudian menghampirinya.
“Kamu
kenapa?” tanya Angga heran.
Gadis
itu hanya menatapnya dengan mata penuh air mata kemudian melanjutkan
tangisannya kembali. Angga pun bingung. Ia mengintip ke dalam rumah lewat jendela dan tak menemukan siapapun di
dalamnya. Hanya perabotan rumah dan sebuah lampu yang menyala di tengah
ruangan.
“Kemana
Mama-mu?” tanya Angga lagi.
Tangisan
gadis tadi terdengar makin keras. “Mamaaaaa...”
Angga
bingung. Ia ingin menolong gadis tadi namun tidak tahu harus melakukan apa.
Dilihatnya mangga yang digenggamnya sedari tadi. Dengan polosnya, Angga
menyodorkan mangga ditangannya pada gadis tadi.
“Ini
buat kamu,” ujar Angga.
Tangisan
anak tadi sekejap terhenti. Diraihnya mangga dari Angga, “Terima kasih.”
Angga
pun terduduk disebelah anak tadi. “Aku Angga, kamu siapa?”
“Aku
Feli.” jawab gadis itu disela-sela tangisnya. “Mamaku pergi, aku ditinggal
sendirian.”
“Pergi
kemana?” tanya Angga lagi.
“Aku
tadi main di depan. Mama sudah melarang tapi aku tetap ingin main. Aku ingin
mengambil mangga itu...” ujar Feli kecil seraya menunjuk pohon mangga milik
Angga.
“Oh,
kamu mau mangga ini. Mau ku ambilkan?”
Dengan
penuh bersemangat, Angga segera berdiri bermaksud mengambil mangga.
“Jangan
pergi...” pinta Feli.
Feli
meraih celana pendek Angga dan menghentikan langkahnya.
Angga
menatap mata sedih Feli dengan iba. Ia pun memutuskan untuk kembali duduk di
sebelah Feli.
“Ya,
aku tidak akan pergi. Kamu tenang saja, ya...”
***
“Kak
Angga!!” teriak Feli dari kejauhan.
Suara
Feli menggema diantara tembok-tembok koridor gedung sekolah. Diikuti pandangan
heran para siswa yang tengah berdiri disisi koridor sembari mengobrol atau
sekedar kumpul. Gadis itu berlari menghampiri Angga yang langsung menoleh
padanya. Ia memandang Angga penuh rasa sayang layaknya seorang adik.
“Ada
apa?” tanya Angga. “Bukannya kamu bilang untuk tidak dekat-dekat denganmu
selama di sekolah?”
Feli
pun langsung cemberut. “Kok begitu sih? Aku kan mau cerita.”
Tawa
renyah Angga segera menyambar sesaat kemudian. Ia tahu kakaknya tidak mungkin
marah padanya karena hal kecil. Senyumnya pun kembali terkembang.
“Aku
punya berita bagus!” ucap Feli bersemangat. Hatinya berdebar begitu kencang
seperti orang yang akan menyatakan cinta. “Aku jadian sama Robi. Hebat, kan!”
Senyum
Angga sekejap menghilang. “Kenapa Robi? Tidak, kamu tidak boleh jadian dengan
Robi!”
Darr!
Seperti
mendengar suara petir ditengah siang bolong, hati Feli sekejap sakit. Ia tak
menyangka akan menerima balasan yang tidak diinginkan keluar dari mulut Angga,
seseorang yang sangat berarti baginya.
“Kenapa,
Kak?” tanya Feli lirih.
“Ia
tidak baik, Feli. Playboy kelas kakap!”
“Kakak!”
bentak Feli kesal. “Berhenti bersikap protektif padaku!”
Suara
Feli terdengar seantero koridor hingga siswa lain menatap mereka penuh tanya.
Ia tahu Angga sangat menyayangi dan melindunginya seperti adik sendiri, namun
kini dirinya telah dewasa. Sudah SMA!
“Feli,
ini bukan sekedar protektif...” jelas Angga.
“Sudahlah,
Kak!” sergah Feli. “Aku pergi dulu!”
Kata-kata
Feli seakan terdengar seperti ucapan perpisahan bagi Angga. Ia menatap punggung
Feli yang bergerak menjauh. Pikiran serta tindakkannya tidak cukup cepat untuk
menghentikan. Pemuda itu menyadari akan kesalahan ucapannya pada Feli. Gadis
itu pasti membencinya. Pasti!
***
“Robi...
Kamu kemana, sih?”
Feli
mengeluh sepanjang hari saat Robi tak kunjung dapat dihubungi. Sudah seminggu
lebih Robi menghilang tanpa kabar. Tak terlihat di sekolah dan sulit dihubungi.
Ia
melenggang menyusuri koridor sekolah melewati ruang kelas Robi. Rasa penasaran
mendorongnya untuk mengecek ke dalam kelas Robi. Tak ada. Hanya ada sekumpulan
siswa dipojok ruangan serta kumpulan para siswi yang bergosip ditengah ruang
kelas. Matanya terkaget saat pojok ruangan lainnya.
Robi
tengah bercakap mesra bersama dengan seorang siswi yang tak dikenalnya. Tawaan
serta candaan yang tercipta seakan menegaskan hubungan keduanya.
“Robi!”
panggil Feli menahan kesal.
Robi
dan siswi tadi terkejut melihat Feli. Tanpa basa-basi lagi, Feli menghampiri
kemudian menampar Robi keras-keras.
“Dasar
playboy! Pergi saja kamu ke laut!”
Ia
langsung berlari keluar kelas. Hatinya terasa sakit, anehnya bukan rasa sakit
karena dikhianati Robi melainkan perasaan kecewa karena pernah menghiraukan
perkataan Angga.
“Feli!”
teriak Angga terdengar dari kejauhan.
Feli
menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badan. Ia melihat kakak
pelindungnya berdiri seraya menatapnya cemas.
“Kak
Angga...”
Feli
berlari meraih Angga dan memeluknya.
“Kamu
kenapa?” tanya Angga cemas.
Feli
menggeleng. “Tidak apa... Aku senang melihat kakak.”
***
Feli
menyeruput kopi panas miliknya secara perlahan. Ia menatap Angga yang baru
masuk ke dalam cafe dan berjalan
menghampiri meja miliknya.
“Kakak
darimana?”
Wajahnya
sekejap terkejut saat melihat lebam dibibir serta pelipis Angga.
“Kakak
kenapa?” tanya Feli.
“Tak
apa. Aku hanya memberi pelajaran pada orang yang membuat adikku menangis.
Itukan tugas seorang kakak...” jawab Angga lembut.
“Kakak...”
sahut Feli lirih.
Angga
menarik kursi diseberang meja Feli kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.
“Aku
sebenarnya tidak ingin mengatakan ini karena aku melihat kamu bahagia bersama
Robi. Namun mengingat kejadian hari ini, aku rasa harus memberitahumu.”
Feli
menatap mata Angga yang menatapnya penuh keseriusan.
“Apa,
Kak?” tanya Feli penasaran.
“Aku
akan pindah ke Bandung meneruskan kuliahku disana.”
***
“Feli,”
panggil seseorang membuyarkan lamunannya.
Feli
menoleh pada asal suara dan melihat Angga berdiri diambang pintu kamarnya. Setelah
dua tahun berlalu, Feli memutuskan menyusul Angga ke Bandung.
“Ah,
maaf, Kak.”
“Kamu
lagi lihat apa sih?” tanya Angga seraya menghampiri Feli.
Feli
mengeluarkan selembar kertas dari dalam kotak dan berisikan foto Angga yang
mengenakan baju kelulusannya dari universitas bersama dengan Feli.
“Aku
bersyukur memiliki kakak sepertimu, seseorang yang lebih dari seorang kakak.”
“Memangnya
apa yang lebih dari seorang kakak?” goda Angga.
“Haha,”
tawa Feli. “Bagaimana jika seorang kekasih?” canda Feli.
Angga
terdiam. Tak ada balasan dari laki-laki itu.
“Baiklah...”
jawab Angga singkat.
Sekejap
Feli ingin melonjak kegirangan mendengar jawaban singkat Angga.
“Aku
menyayangimu, Feli...” ucap Angga lembut.
Langganan:
Postingan (Atom)













