28 Januari 2014

(28th) Obsessions

DISCLAIMER:
Hai! Inilah proyek menulis marathon '31 Days Full of Articles' hari ke Dua Puluh Delapan! Kamu ingin join atau membaca tulisan sebelumnya atau sesudahnya, silahkan klik disini...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Profil Penulis:

Hai! Kita dapat tamu lagi nih, tapi bukan tamu baru. Saudara kita ini sudah pernah ikutan challenge ini. Udah baca belum artikel dia sebelumnya? Kalau belum, yuk diintip disini. Nah, buat yang belum kenal, silahkan dihubungi lewat twitter dan Facebook ya. Jangan lama-lama ah, yuk kita langsung masuk ke artikelnya yang nggak kalah keren dengan artikelnya sebelumnya. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Obsesi : Menggapai Passion

Intan tuh sebenernya orangtuanya kerja apa sih?”
Orangtuanya dua-duanya PNS biasa, sama-sama guru SMP.”
Tapi dia anak tunggal kan ya? Kok kayaknya kekurangan uang jajan gitu?”
Maksud kamu?”
Ya gitu deh. Tiap kali foto, bajunya itu-itu aja. Terus, dia juga getol banget ikutan berbagai kompetisi di blog. Hobi banget dia nyari gratisan kayaknya.”

Diam-diam di sudut sini, saya tanpa sengaja mendengarkan percakapan mereka. Sebulir airmata jatuh menggelinding di pipi, saya buru-buru menyekanya. Bukan cengeng, tapi memang hati saya terkadang begitu sensitif menerima pelecehan macam ini. Hei, tega benar membawa-bawa nama orangtua saya hanya gara-gara tumpukan baju saya kalah menggunung jika dibandingkan dengan koleksi baju mereka. Dan lagi, bukannya si mbak peremuk hati saya barusan itu juga sering ikutan berbagai macam kompetisi blog? Apa bedanya saya dan dia? Sama-sama banci gratisan, dengan modus berbeda barangkali.
***
Sebenarnya, saya juga pernah diomeli ibu ketika saya dengan keras hati bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta kota ini.

Kenapa? Uang jajan dari ibu sama ayah kurang?”

Rahang saya sedikit mengeras, ego anak muda saya tersentil.

Bu, ini bukan masalah uang, tapi keinginan, passion. Intan udah kadung suka sama dunia radio, dunia media.”

Hidup ini bukan hanya sebatas suka atau nggak suka, nak. Tapi jaminan kebahagiaan. Kamu mau kelak hidup seadanya? Mau makan enak susah? Mau beli pakaian mahal harus nabung lama-lama dulu? Boro-boro mikirin gimana caranya punya hunian dan kendaraan bagus.” Suara ibu bergetar, beliau mungkin marah dalam kebingungan. Barangkali benak ibu bertanya, apa sih yang sebenarnya putri semata wayangnya ini cari? Ada-ada saja yang ia kerjakan.

Saya diam. Kenapa ukuran bahagia harus senantiasa diukur dari materi yang berhasil diraup? Bukankah yang dicari dalam kehidupan ini hanyalah kebahagiaan. Seperti apapun usaha yang dilakukan manusia, bukankah muaranya hanya satu, kebahagiaan? Tapi ah, sudahlah. Saya tak ingin menyakiti hati orangtua. Saya pun resign dari radio. Mereka bahagia sekali, tanpa pernah tau bahwa saya menancapkan janji dalam-dalam akan kembali lagi ke dunia media di masa depan kelak. Setelah kewajiban saya menyelesaikan S1 di Pendidikan Fisika selesai. Saya yakin, bekerja dengan passion akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Bukan hanya materi yang diraih, namun juga perasaan berharga bernama kebahagiaan.

***
Saya jejingkrakan girang. Ternyata untuk “bersuara” tak harus dengan cara masuk ruang siar. Lewat blog pun jadi. Mulailah saya berkicau ria di berbagai kompetisi kecil dunia perblog-an. Syukurlah, ada satu dua hadiah mungil yang berjodoh dengan saya. Menuruti passion lantas mendapat hadiah, apa yang lebih indah dari itu?

Sayang, orangtua saya pun akhirnya mendengar kicauan samar saya di blog. Mereka mengelus dada.

Untuk apa menghabiskan energi dengan menulis seperti itu? Dapat apa? Toh hadiahnya kecil-kecil semua. Mending kamu pakai waktumu untuk belajar. Persiapan untuk tes CPNS sekalian.”
Saya diam, meremas ujung baju saya dengan gemas. Ah, pengen nyakar tembok rasanya. Geram!

***
Ini hidup saya, saya yang jadi pengendali, bukan mereka. Kalimat yang terdengar egois memang. Tapi mau bagaimana lagi, sebelum saya belajar membahagiakan orang lain, sayalah yang terlebih dahulu harus bahagia, bukan? Saya hanya belajar melakukan hal yang harus saya lakukan, hal-hal yang akan menuntun saya menuju muara kebahagiaan.

Tumpukan buku, musik, dunia tulis menulis dan ruang siar adalah obsesi saya saat ini dan masa depan. Saya ingin hidup dalam atmosfer dunia media. Meskipun saya tau, jalannya tak mulus. Tak ada dukungan dari sisi kanan kiri. Tapi ini hidup saya. Dan sayalah yang paling bertanggung jawab akan membawa arah hidup saya ke sudut mana.

Hidup hanya sekali, biarkan saya mengejar obsesi dengan cara yang cantik. Toh, saya pun mengerti, obsesi dan mimpi sempurna bukanlah ketika semuanya berjalan sesuai skenario saya. Melainkan saat saya telah mengerahkan semua kekuatan saya untuk meraih mereka. Perkara hasil, biarkan Tuhan yang menggoreskan takdir-Nya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila komentar. Komentarmu adalah penyemangat untuk tulisan berikutnya! See ya! ^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini